Percayalah: Sakit Hati Tak Sepilu Sakit Gigi

Operasi Cabut Gigi Geraham Belakang Yang Rusak di Wonosari

Operasi Cabut Gigi Geraham Belakang Yang Rusak di Wonosari

Syahdan dulu kala. Pada jaman saya masih duduk imut di bangku sekolah SD, di radio AM/MW (radio apa itu? radio Ampliture Modulation band Medium Wave) saya sering mendengar lagu dangdut yang melirikkan kurang lebih: lebih baik sakit gigi daripada sakit hati (karena putus cinta).

Mendengarnya berulang-ulang membuat saya kecil percaya begitu saja. Putus cinta, meski saat itu belum pernah mempunyai bayangan seperti apa, namun saya  yakini sebagai sumber derita.

Sakit gigi geraham bawah yang sering menyiksa saya sekitar 2 bulan terakhir itu mengingatkan saya akan lagu dangdut jadul jaman baheula itu. Lagu yang kini saya tahu ternyata hanya ngibul, melirikkan sejuta dusta.

Merasakan bagaimana menderitanya sakit gini, makan tidak enak tidur tidak nyenyak, jalan sempoyongan, berlari terengah-engah membulatkan hati ini menjadi haqul yaqin, rasa sakit putus cinta tidak ada seujung rambut dibelah seribu derita sakit gigi. Percayalah! Bantahlah, bila ingin merasakan sendiri kedua jenis derita itu pada akhir pekan ini. :p

Saya bisa bilang demikian karena saya sudah mengalami keduanya. Saya tidak setersiksa ini ketika putus cinta dulu. “Lebih baik sakit hati karena putus cinta daripada menderita sakit gigi seperti ini

Lebih baik punya 9999 cinta putus 999 kali daripada sekali sakit gigi.

Untuk kesekian kalinya, kemarin siang sakit gigi itu menusuk saya dari belakang. Meninggalkan rasa ngilu bak tersayat sembilu. Diikuti cenat-cenut tak berkesudahan mengikuti kemana pun saya beranjak berlari. Paracetamol sama sekali tak berdaya untuk membebaskan saya dari nyeri gigi.

Tulisan mirip seperti paragraf-paragraf di atas sebenarnya kemarin sudah saya post di Facebook. Anjirnya kebanyakan teman-teman saya malah menertawakan, bukannya bersimpati. Beberapa memang memberi saya saran-saran bijak. Di antaranya menyarankan dokter gigi langgannya di kota Wonosari. drg Wisnu yang buka praktek di sebelah utara SPBU Kranon – Wonosari.

Tanpa berpikir panjang saya segera memacu motor ke tempat praktek drg Wisnu. Menjelang Maghrib kalau tidak salah saya dapat antrian kedua atau ketiga.

Dihadapkan dengan peralatan-peralatan praktek drg Wisnu saya degdegan hebat. Degdegan ketika pertama kali bertemu gebetan dulu jauh tidak ada apa-apanya. Menurut pemeriksaan drg Wisnu, gigi geraham belakang bawah saya yang memang retak sudah parah. Daripada sering kambuh disarankannya untuk cabut saja.

Untuk menutupi ketakutan saya, beberapa pertanyaan saya tanyakan ke drg Wisnu. Kira-kira berapa lama saya akan sembuh setelah gigi dicabut. Apakah tanggal 23 Oktober 2016 saya sudah bisa ikut lomba Jakarta Marathon, dan sejumlah pertanyaan lain. Pertanyaan-pertanyaan yang sejatinya saya gunakan untuk “membeli waktu” demi kebimbangan saya.

Bagaimana tidak bimbang. Memutuskan untuk mencabut gigi adalah keputusan penting dalam hidup. Mencabut gigi geraham saat itu juga berarti hari itu adalah perpisahan saya dengan bagian hidup yang telah berjasa dan bersama selama puluhan tahun. Keputusan yang lebih pelik, lebih dilematis dibanding ketika melepas pacar yang katanya dulu adalah belahan jiwa. :-p

Keputusan cabut gigi pun saya buat dengan tekad bulat. Pun demikian saya tetap takut ketika dokter gigi menyuruh saya membuka mulut sambil menimang-nimang suntik. Suntikan bius akan diberikan di bagian gusi di dekat gigi geraham yang akan dicabut. “Baik dokter, menyuntiknya jangan sampai sakit dan kalau bisa secepat-cepatnya ya” pinta saya.

drg Wisnu menanyai saja apa gusi saya sudah mulai terasa tebal. Bila sudah terasa tebal berarti saatnya operasi cabut gigi dimulai. Saya mengangguk bersamaan dengan detak jantung mulai berdegup kencang, ketakutan. Asisten drg Wisnu yang cantik dan sexy yang mengatur letak kepala saya di bawah lampu-lampu terang sambil membelai-belai wajah saya gagal menenangkan hati ini. Malah tambah degdegan.

Cabut gigi geraham saya tidak berlangsung sangat mulus. Proses yang menakutkan ini malah tambah menakutkan karena gigi geraham yang dicabut malah patah.

drg Wisnu kemudian membawa saya ke ruang praktek di sebelah. Konon yang peralatannya lebih lengkap. Baiklah. Proses di ruang baru ini berlangsung kurang lebih 30 menit, meski saya merasa sangat lama. Untungnya dengan proses penanganan yang tidak saya tahu apa saja namanya itu, gigi geraham saya berhasil diangkat. Saya di sini bisa berkumur dengan lega. Di bagian hati saya yang lain berucap selamat tinggal kepada sang geraham, sang mantan.

Sambil melakukan pembayaran, pembayaran yang tidak begitu mahal, Rp 130.000,-, oleh asisten saya diberikan 2 jenis obat. Satu strip Amoxylin dan satu strip Mionalgin. Mionalgin adalah semacam pereda rasa sakit. Yang disarankan diminum bila saya merasakan nyeri dan ngilu saja. Kalau Amoxylin ya harus habis. Ini adalah antibiotik.

Nah, sekarang, Jum’at pagi ini rasa ngilu cenut-cenut sakit gigi sumber derita tidak saya rasakan lagi. Kini saya menunggu bekas luka cabutan gigi sembuh. Saat ini bekas cabutan gigi masih sedikit mengeluarkan darah.

Saya tadi sudah berusaha mengompresnya dengan es batu. Agar proses pembentukan selaput penutup luka lebih cepat terbentuk. Menulis posting blog ini adalah bagiah dari ihtiar saya menuggu hukum alam berproses.

Sabar. Semoga luka ini sembuh secepatnya, segera pulih dan bisa mengikuti Jakarta Marathon tanpa rasa khawatir sakit gigi kambuh di tengah-tengah lintasan lomba. 🙂

Iklan

14 thoughts on “Percayalah: Sakit Hati Tak Sepilu Sakit Gigi

  1. Beruntunglah baru sekarang menyadarinya, saya sudah merasakannya sejak lama, bahkan sebelum mengenal cinta. Setelah lama ga sakit gigi, utk nyabut geraham yg bermasalah, ya2 enggak, ga siap mental 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s