He is Human too

Berbagi itu mulia. Semua pasti setuju. Meski kata betapa mulia berbagi itu selalu kedengaran indah tetapi membagikan apa-apa yang kita anggap hak tidak selamanya mudah. Manusia sering kali merasa yang lebih berhak dari manusia lainnya.

Suatu saat, saya sedang duduk-duduk ditempat pemberhentian angkutan umum dimana kemudian dihampiri seorang pria bertubuh gempal, berambut gimbal dan pakaian lusuh asal melekati tubuh. Tangan dan kaki kotor tak terawat tanpa alas kaki. Pria itu tanpa basa basi duduk di sebelah saya. Berbagi tempat duduk berbentuk bangku panjang. Perasaan was-was bercampur takut, bercampur risih, bercampur “malu” juga kemudian menghampiri diri ini. Oleh orang-orang di sekitar pasar Siyono, orang ini diketahui sebagai orang gila. Saya pun sering melihatnya berjalan mondar-mandir tak jelas apa yang dicari. Sesekali duduk dan memandang dan tiba-tiba melangkah.

Pengalaman “terpaksa berbagi” itu bukanlah kali pertama. Sistem transportasi publik yang dengan setia bertahun-tahun menjadi piranti andalan penopang rutinitas itu berulangkali menghadiahi saya kado berupa kisah perjumpaan dengan hamba yang menyandang suatu “ketentuan takdir”. They are with mentally retarded. Setiap itu pula saya berterima kasih dengan perasaan haru yang campur aduk.

Tidak ada yang salah dengan mereka. Bahkan di banyak negara telah dibuatkan undang undang untuk melindungi hak-hak mereka. Ada semacam undang-undang anti diskriminasi. Entah di negara kita. Hak-hak mereka diakui. Sama seperti kita, sepanjang tidak jahil, tidak merusak dan tidak mengganggu hak orang lain, mereka berhak berbagi fasilitas umum dalam suatu sistem sosial.

Saya sendiri sering termenung. Sah-sah saja saya menganggap mereka tidak waras meski saya juga harus mendefinisi lagi akan seberapa tingkat ketidak warasan diri. Mungkin mereka menganggap seperti kitalah yang tidak waras. Sikap waspada dan was-was boleh-boleh saja dialamatkan ke lelaki berambut gimbal yang duduk bersebelahan dengan saya. Tetapi saya harus ingat bahwa kepada siapapun saya harus menjaga sikap was-was yang sama. Konon, menurut almarhum Gusdur, di dunia ini ada mereka yang gila harta, gila wanita dan gila kekuasaan, dan yang pasti jauh lebih berbahaya dengan orang yang gila beneran.

Whatever, He is H U M A N too.

[ Sepertinya saya tadi salah minum obat 😀 sampai tidak sadar menulis posting ini ]

Iklan

6 thoughts on “He is Human too

  1. Dia juga manusia …. butuh makan butuh perhatian….

    Tapi klo ngeliat yg dah “ga beres” gitu jd mikir…… knapa keluarganya ga da yg ngurusin ya….. kasihan…. klo hujan kehujanan…. walaupun tiap hari kehujanan dan ga ganti baju………. baju basah tetep menempel di badan sampe kering sendiri…. kadang tidur di sembarang tempat……. tp koq kliatannya secara phisik.. mereka sehat2 aza ya…… klo kita2 baru kena hujan dikit aja langsung flu….. mriang…..

    Saya sendiri klo ketemu yg begitu mending menghindar…. takutnya dia ntar mo beruat apa khan kita ga tau….. & hrs gmana…..???? mending menghindar to…..

    Lhoh… salah minum obat Boss…??? OBat apa yg diminum …. jgn2.. obat….. ???? Awas hati2 klo mo minum obat baca dulu obat apa… aturan minumnya…. mudah2an salah obat biar doyan maem aza…… he..he..he..

    • Mestinya mereka ini juga punya keluarga, entah memang masalahnya juga komplek, merawat mereka pasti tidak mudah, perlu waktu, perlu tenaga, perlu serba ekstra dan pastinya perlu budget ekstra banyak, padahal saat ini mengais rejeki juga belum tentu nemu.

      Sebenarnya sistem sosial kita yang telah bersama dieja wantahkan menjadi sistem berbangsa dan bernegara yang mempunyai sistem pemerintahan dan sistem pelayanan sosial sudah punya mekanisme untuk secara kolektif berbagi dengan saudara saudara kita yang spesial ini. Kalau tidak salam negara juga sudah menyiapkan anggaran yang tidak sedikit yang dikucurkan pada departemen atau dinas terkait.

      Andai Sistem Berbagi Kolektif ini berjalan sebagaimana mestinya, pastilah mereka tidak lagi berkeliaran di sembarang tempat.

  2. Semua itu “Buetul” Boss…. khan kasihan juga klo ngeliat yg gak keurus gitu….. masak musti ada “razia/garukan” dulu baru da “kesempatan” mereka masuk Dinas Sosial…. (faktanya getoo ga sih…..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s