Khotbah Jum’at : Doa (belum) terkabul

Kita berdoa karena kita mengimani tentang Tuhan. Dan sebagai muslim kita berdoa kepada Allah SWT. Keyakinan bulat kita adalah Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, punya superioritas untuk melakukan apa saja bahkan untuk sesuatu yang tidak dibayangkan ummat.

Harapan setiap pendoa pasti terkabulkan apa – apa yang diminta. Dan Allah sebagai Maha Penguasa, pasti mengabulkan setiap doa, kecuali atas beberapa sebab. Kata kecuali saya pertebal supaya maksudnya jelas. Beberapa dari kecuali itu, antara lain, Allah tidak akan mengabulkan doa hamba yang masih melakukan perbuatan dosa dan belum bertobat (1), Makan dan Minum dengan rejeki yang tidak halal (2), Allah bemaksud mengabulkan doa yang dipanjatkan di surga kelak (3), dan lain – lain.

Bahkan menurut para Ulama, banyak hikmah yang bisa di dapat dari belum terkabulnya doa. Wah, mengenai hikmah dari doa yang belum terkabul menurut apa yang disampaikan khotib siang tadi, saya tidak bisa mengingat dengan baik. Dari pada salah menuliskan, lebih baik tidak dituliskan dulu. Andai ketika mengikuti khotbah Jum’at diperbolahkan membawa catatan dan menuliskan poin poin yang disampaikan pengkhotbah. Mungkin saya dapat menyusunnya kembali dan membagikan di blog ini untuk pembaca.

Khotbah Jum’at : Kualitas Iman

Apa yang kita rasakan kalau mendengar asma Allah SWT disebutkan?

Seperti biasa, saya berusaha mensarikan khotbah Jum’at dalam satu kalimat singkat.

Sampai saat ini, memang, kualitas keimanan manusia belum bisa di-skala-kan dengan angka – angka. Meskipun sejak dulu banyak orang dan ulama yang telah menyebut tanda tanda yang dikaitkan dengan keimanan dan ke- tauhid-an.Tidak mudah untuk men-jugde kualitas keimanan seseorang atau mengetahui seberapa ber-iman-kah kita.

[paragraf terakhir merupakan opini pribadi saya, bukan apa yang disampaikan khotib, jadi bila salah mohon pencerahan]