Menikmati Degub Ombak Pantai Buron

Pantai Buron Giri Karto Panggang Gunungkidul

Pantai Buron Panggang Gunungkidul Yogyakarta

Pantai Buron. Bukan Pantai Baron. Begitu saya menegaskan ketika kawan saya mempertumbenkan rencana saya ke pantai itu.

Pantai Baron bagi saya sudah terlalu biasa. Saya sudah ke sana pada tahun 90-an. Sampai sekarang tak terhitung sudah berapa kali saya ke pantai nelayan itu.

Berbeda dengan Buron. Keberadaan Pantai Buron baru saya dengar beberapa waktu. Memang selama ini saya kemana saja. 🙂 Perlu peta untuk secara pasti mengetahui letak pantai itu.

Menurut Google Maps Pantai Buron terletak persis di sebelah barat Pantai Gesing.  Berarti tidak ada masalah bila saya ke sana. Jarak dari rumah saya tidak begitu jauh. Hanya dulu ketika ke Gesing, sebagian jalan menuju pantai memang rusak. Ini juga bukan halangan berarti.

Ada beberapa alasan yang menarik saya untuk segera ke Pantai Buron. Salah satunya adalah karena di Buron, menurut yang saya baca-baca di internet, baru saja di bangun sebuah taman. Peresmian Taman Pantai Buron dilakukan sendiri oleh kepala daerah setempat, Bupati Gunungkidul, Bu Badingah.

Alasan lainnya yang bisa dibilang penting sekaligus tak penting. Adalah saya rupanya pernah meninggalkan dua kenangan di tempat yang dulu belum bernama Pantai Buron itu. Atau bisa jadi dulu pun sudah ada namanya hanya saja saya tidak tahu.

Pantai Buron Panggang Gunungkidul Yogyakarta 01

 

Kunjungan pertama saya meninggalkan kenangan di ujung menara ini. Saat itu bulan Agustus 2011. Ke sana bermotor dengan Harmanto, teman sekampung yang saat ini tinggal di Korea.

Iseng banget. Saat itu saya sudah mempunyai ide membuat vlog. Sesuatu yang mendahului jamannya. Sekarang ketika Vlog sudah ngetren saya malah sudah jarang membuat video. Bila ingin mengintip Vlog culun saya saat itu sila tengok di link ini: https://jarwadi.me/2011/08/02/video-pantai-gesing/

Niatan saya kemarin memang ingin napak tilas. Saya langsung ke sana buru-buru memanjat Menara ini. Jalan menuju menara sudah bukan karang tajam terjal seperti dulu. Sudah dibuatkan jalan setapak yang merupakan bagian dari taman. Di kiri-kanan menara pun sekarang lebih hijau. Pohon-pohon pandan sekarang tumbuh lebih rimbun, hijau dan seolah terawat.

Angin yang cukup kencang tidak menciutkan nyali saya untuk memanjat manara suar itu lagi. Untuk apa kalau tidak untuk memotret panorama dari ketinggian. Ini foto-foto yang berhasil saya potret dengan teman yang gemetaran karena takut terjatuh.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kenangan kedua saya tercecer ketika di suatu siang, kami, eh saya, eh kami, tiduran di bawah pohon cemara ini:

14 - 19

Sayangnya Pohon Cemara ini sudah tidak saya temukan lagi. Mungkin pohon itu ada di tempat yang sekarang dijadikan tempat parkir kendaraan.

Apa yang terjatuh pada 25 Juli 2014, bertepatan juga dengan bulan puasa itu, tidak perlu diceritakan lebih lanjut. Berghibah di bulan Ramadhan tidak baik. 😀

Akan lebih baik apa bila saya membagikan foto-foto ponsel yang cukup segar berikut ini:

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sedang video di bawah merupakan adegan terakhir yang saya saksikan. Sexy Dancer yang menakjubkan. Memang untuk menontonnya tidak gratis. Saya membayarnya dengan berjalan kaki memutari bukit di sebelah barat Pantai Buron. Tarian Ombak itu nampak dari salah satu ujung tebing di sana.

Puas beromantika di Pantai Buron, sebenarnya belum puas sih. Menjelang waktu berbuka puasa saya ingin bergegas menyudahi ngabuburit hampir maghrib itu.

Hanya, saya ingin membeli ikan dulu di Pantai Gesing. Segera saya meluncur ke pantai nelayan itu. Di salah satu kios nelayan saya membeli sepotong, benar sepotong bukan seekor, ikan Caru (ikan Cincaru).

Seekor ikan ini berbobot kira-kira 3.5 kg. Saya membeli setengah ekor saja.  Harga sepotong ikan berbobot 1.5 kg adalah Rp 50 ribu. Cukup murah dibanding hari biasa karena konon tangkapan ikan itu sedang banyak.

***

Mungkin karena saya ke sana tidak pada hari libur dan sekaligus bertepatan dengan bulan puasa. Pantai Buron meskipun sudah dibuat taman yang cukup bagus belum serta merta membuat tempat itu ramai. Di sana saya hanya melihat beberapa pengunjung.

Pantai Buron Panggang Gunungkidul Yogyakarta 110

Di kawasan Taman Pantai Buron dibuat jalan setapak melingkar. Melewati pinggir laut dan menembus rerimbunan pohon pandan dan beberapa pohon cemara. Panjang jalan setapak itu kira-kira 1 km. Meniti sepapak ini sekaligus menjadi olah raga yang baik.

Sebuah jembatan kayu dibuat untuk menghubungkan jalan setapak ini. Jembatan yang sebenarnya cukup instagenic dengan latar berupa pandan, laut dan perbukitan. Jembatan ini diberi nama Jembatan Cinta.

Fasilitas di kawasan Taman Pantai Buron menurut saya cukup lengkap. Ada Gasebo, ada tempat parkir yang memadai. Warung-warung makan yang menyediakan menu olahan ikan laut pun banyak saya lihat di sana.

Begitu juga dengan Mushala/Masjid. Masjid lama yang dlu saya lihat rusak sekarang sedang dibangun yang baru.

Di awal saya menceritakan jalan menuju ke sana yang rusak. Sekarang jalan sampai ke parkiran Pantai Buron berupa aspal mulus tanpa cela.

Pantai Buron merupakan salah satu yang saya sarankan sebagai alternatif bila lebaran nanti ingin menikmati suasana di pantai-pantai di Gunungkidul. Bukankah Pantai Baron, Krakal, Kukup dan Indrayanti yang tiap lebaran menimbulkan kemacetan sudah terlalu mainstream?

Iklan

2 thoughts on “Menikmati Degub Ombak Pantai Buron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s