Liburan Akhir Tahun Kemana Saja?

Jawaban saya: tidak kemana-mana. Memang benar. Demikian adanya. Saya menghabiskan sekitar dua pekan liburan akhir tahun 2016 dengan tidak kemana-mana.

Banyak orang mengira tinggal di Jogja itu enak. Ini ada benarnya juga. Kalau mau tamasya murah pada musim liburan tidak perlu pergi jauh-jauh. Jogja adalah surganya destinasi wisata. Dari wisata pantai sampai wisata gunung. Dari wisata sejarah sampai wisata kuliner. Dari wisata malam sampai wisata menjelang malam lagi. Komplit.

Masalahnya adalah tiap kali musim liburan, Jogja macet karena diserbu oleh wisatawan dari segala penjuru. Kalau sudah begini mau kemana-mana malas. Menahan tidak kemana-mana dulu adalah ikhtiar kecil untuk mengurangi kemacetan. Memberikan kesempatan wisatawan dari luar Jogja untuk berpiknik di sini.

Kemudian saya ngapain saja?

Sebagian orang, mungkin mereka adalah kalangan menengah ngehe, menyiasati liburan di kota macet ini dengan staycation. Ini yang baru-baru ini sedang ngetren. Staycation adalah semacam menghabiskan liburan dengan berleha-leha tinggal di hotel yang nyaman dengan fasilitas entertaining-nya. Menikmati suasana stay tetapi bukan stay di rumah. Rumah mungkin dianggap sebagai bagian dari masalah seperti halnya kantor atau pabrik, haha.

Saya sendiri lebih banyak menghabiskan waktu liburan akhir tahun kali ini dengan Runcation. Anda barangkali baru membaca/mendengar istilah ini sekali, di paragraf ini. Karena kata ini hasil saya mengarang-ngarang saja, haha. Runcation saya maksudkan dengan menghabiskan liburan dengan menikmati berlari.

runcation

Barlari kok nikmat? Ini memang hanya bisa dipahami oleh orang seperti saya yang punya hobi lari. Kebahagiaan yang timbul dari olah raga lari bisa juga sebenarnya dijelaskan secara ilmiah. Konon efek bahagia itu hasil dari pelepasan endorphine.

Tentu saja selama liburan saya tidak berlari sebagaimana ketika menjalani masa-masa hard training. Saya melakukannya selayaknya fun run. Tidak ada target tertentu yang ingin saya capai. Hanya, syukur-syukur saya bisa perlahan-lahan memperbaiki running gait/running form. Itulah kenapa saya senang melakukan running drill dan easy paced running (alias lari timlik-timlik). Rute lari pun saya mengambil jalan yang berbeda dari biasanya. Saya memilih jalan-jalan yang lebih sepi dari kendaraan dan berpemandangan bentang alam bagus.

Beneran itu saja yang saya lakukan? Runcation saja?

Tidak juga! haha.

Tanggal 24 Desember 2016. Saya iseng ingin mencari gethek bambu di Sungai Oya yang menurut apa yang saya baca beberapa waktu lalu digunakan sebagai sarana penyeberangan penduduk desa Banyusoca (Kabupaten Gunungkidul) dan desa Kebo Sungu (Kabupaten Bantul)

Berangkat dari rumah selepas ashar saya langsung tancap gas menuju dusun Kedung Wanglu desa Banyusoca. Sesampai di Kedung Wanglu saya sempat berkeliling kampung bertanya ke sana kemari.

gethek-kali-oya-01

Rupanya gethek bambu itu tidak terletak di dusun kecil ini, melainkan di dusun soca desa Banyusoca. Oleh seseorang yang saya tanya, saya diberi ancar-ancar pohon beringin besar dimana di bawahnya ada lapangan voli. Jarak dari tempat saya bertanya ke lokasi kira-kira 3 km.

Menjelang maghrib sampai juga saya di bibir sungai Oya dengan penampakan sebuah gethek bambu. Gethek bambu itu sendiri sore itu sudah tidak perpenunggu. Kepada bapak-bapak yang sedang memancing saya menanyakan dimana penunggu gethek itu. Rupanya pemilik gethek bisa dipanggil dengan membunyikan kenthongan yang ada di sana.

Datanglah Pak Azhari sang pemilik gethek bambu. Saya menjelaskan kalau sore itu saya mau menjajal mencoba naik gethek untuk pertama kali dalam hidup saya. Menyeberangi sungai oya dengan gethek hanya butuh waktu beberapa menit, kurang dari 5 menit. Bagi saya ini kurang lama, terlalu sebentar. Saya pun meminta Pak Azhari untuk mengemudikan gethek menyusuri sepanjang Sungai Oya. Bila saat itu belum terlalu sore tentu saya akan mengajaknya lebih jauh lagi.

Tanggal 31 Desember 2016. Ini adalah hari terakhir tahun 2016. Saya ingin: sunset. Pergilah saya ke pantai. Saya menginginkan Pantai Parang Tritis dan sekitarnya. Instuisi saya kemudian tertambat di Pantai Pelangi. Bila belum tahu saya beri ancar-ancar sedikit di sebelah barat Gumuk Pasir Parangkusumo.

Sore itu Pantai Pelangi tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang pengunjung di sana. Beberapa orang memancing juga saya lihat ada di sana. Selain hamparan pasir hitam dan cakrawala di pantai ini juga ada pemandangan pipa-pipa yang menghisap air laut untuk dialirkan ke semacam pertambakan.

img_20161231_210601_134img_20161231_211534_206img_20161231_211836_551

Saya di pasiran duduk-duduk saja. Menunggu sunset tiba. Kebetulan cuaca sore itu bagus. Ada sedikit mendung namun tidak sepenuhnya menghalangi matahari. Melewatkan waktu sendirian bagi saya merupakan cara berkontemplasi tersendiri, sekaligus cara untuk berdamai dengan diri sendiri. Memotret, tentu saja. Dengan kamera ponsel seadanya.

Menjelang adzan maghrib saya menuju pasar ikan segar di Pantai Depok. Saya kemudian membeli seekor. Bobotnya 2.3 kg. Membeli ikan di pasar ikan segar di Pantai Depok ada seninya, yaitu harus tawar menawar. Ikan yang sebelumnya dihargai Rp 150 ribu berhasil saya tawar dengan harga 100 ribu, dengan susah payah. Senang juga berhasil menawar harga ikan.

Tanggal 1 Januari 2017. Saya menghadiri majelis taklim tertajuk Gunungkidul Mengaji di Masjid Al Ikhlas Wonosari – Gunungkidul. Sesuatu yang belum pernah saya lakukan pada tahun 2016 atau setidaknya lama tidak saya lakukan. Saya memulakan tahun 2017 dengan sepenuh niat kebaikan.

pengajian

Sore harinya saya ke hutan sebelah barat desa. Menapak tilas padang-padang rumput, sekarang tinggal bekasnya saja sih, yang dulu kami gunakan untuk menggembalakan sapi. Yah, saya anak gembala, haha. Kemudian saya ke sungai, menikmati senja di atas sungai bersama orang-orang yang memancing.

sepeda-d-plape

Nah, apa yang saya tuliskan itu saja. Kalau apa yang saya menuliskan sampai tanggal 2 Janurari 2017 akan tidak relevan lagi. Karena mulai tanggal 2 Januari 2017 bagi saya sudah bukan dalam pekan liburan lagi.

Semoga keberkahan, keselamatan dan kesuksesan menaungi kita atas izin Allah pada tahun 2017 dan waktu-waktu yang akan datang. Aamiiin.

Iklan

9 thoughts on “Liburan Akhir Tahun Kemana Saja?

  1. Lumayan masih main-main wlau dekat mas. Aku selama 3 hari dari sabtu – senin sengaja ngendog di kamar kos buat tidur dan ngobrol santai bareng teman kos. Sama sekali nggak merasakan kemacetan jalan solo 😀

  2. Aku liburan tahun baru di rumah mas. Soale aku ndak bisa menikmati liburan kalau rame buanget. Di kampungku saja yang sepanjang pantai mau masuk ke oantainya macet banget hehe.

    Salam

  3. Saya juga tidak sempat jalan2 kemana-mana ketika akhir tahun kemarin karena kebetulan ada saudara yang mengadakan upacara adat potong gigi dan ada juga keponakan yang menikah, urutan acaranya sejak tgl 30 sampai tanggal 2, jadi kami tak sempat kemana-mana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s