Menunggu Bedug Buka Puasa

Bedug berbuka puasa masih lama. Baru beberapa adzan Ashar berkumandang. Bagi saya usia Sekolah Dasar sudah berulang kali melihat jam dinding di rumah Pakdhe . Untuk hitungan menit lagi tidak jarang saya balik ke rumah Pakdhe untuk menjenguk jam yang sama. Maklum pada waktu itu di rumah kami tidak ada jam.

Jam adalah barang mahal. Sementara menit demi menit terasa melimpah. Begitu kata batin saya kecil. Sebelum โ€œinflasiโ€ yang terjadi dalam rentang 20 tahun kemudian. Dimana kini tiap menit yang dulu bingung akan dihabiskan untuk apa? ๐Ÿ˜€

Oh iya, dulu, di kampung dimana saya tinggal, indikator utama waktu berbuka puasa adalah bunyi “ngiiiiing” alarm dari Toa – Toa yang ada di Masjid Masjid yang me-relay sebuat stasiun radio MW (medium wave) lokal. Radio yang jadi andalan pada waktu itu adalah radio GCD yang merupakan satu – satunya radio di Gunungkidul. he he he

Allahomma laka sumtu wa bika aamantu wa โ€˜alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin. Zahabaz zama’u wab tal latil ‘u ruu qu wa sa batal ajru InsyaAllah

“Ya Allah bagi Engkau aku berpuasa dan dengan Engkau aku beriman dan dengan rezeki Engkau aku berbuka dengan rahmat Engkau wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang. Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat dan telah tetap pahala, insya Allah.โ€

Eh, masih lama ya โ€ฆ ๐Ÿ™‚

 

Iklan

5 thoughts on “Menunggu Bedug Buka Puasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s