Curhat Tentang Industri Telekomunikasi Indonesia 2020

Tidak rugi saya datang jauh – jauh dari Wonosari – Gunungkidul untuk menghadiri acara Sarasehan Blogger di Joglo Abang yang merupakan rangkaian acara Jogja ASEAN Blogger Conference yang dilaksanakan pada siang harinya bertempat di Hotel Melia Purosani. Menurut saya acara yang berlangsung pada 9 Juni 2011 itu bagus, melebihi  ekspektasi saya. Saya suka dengan desain acara sarasehan yang dibuat tidak  formal, secara lesehan, sehingga kawan – kawan yang datang dari berbagai daerah tidak kehilangan kesempatan untuk beramah – tamah.

Apa kata Pakdhe Blontakpoer dalam twitternya “seru banget kopdar blogger/ onliner di @jogloabang. ide berseliweran dr berbagai kota Jateng-DIY-Jatim-Jabar-DKI #ActCreative @TselJatengDIY” sepenuhnya betul.

Koyo ketiban ndaru” begitu orang Jawa bilang menggambarkan kehebohan saya pada malam itu bertemu dan bisa ngobrol dengan mahadewi blogger sekaligus master sifu SEO dari Bekasi, yaitu Mbak Ajeng. Sebelumnya saya tidak mengira kalau beliau adalah sosok yang ramah dan humble. Sayangnya perhatian saya saat itu segera dibajak oleh video – video yang inspiratif yang diputar selama Mas Bababdito membawakan presentasi “Industri Telekomunikasi Masa Depan”.

Baiklah tulisan ini akan saya lanjutkan dengan mencoba melihat atau lebih tepatnya harapan saya akan Industri Telekomunikasi masa depan. Setidaknya Industri Telekomunikasi untuk 10 tahun yang akan datang. Ide – ide lain dari acara sarasehan yang dibawakan oleh pemateri berikutnya sampai acara diskusi yang tidak kalah keren akan saya tuliskan secara terpisah.

#1 the social web of things #courtesy of youtube

#2 all communicating world #courtesy of youtube

Nah, sebelum melanjutkan membaca posting ini, silahkan menyaksikan kedua video di atas. Merupakan video dari beberapa yang dipakai Mas Bababdito sepanjang presentasi.

Dalam video itu tergambar kehidupan seorang David yang hidup dan selalu terkoneksi dengan “smart house”, bagaimana perilaku manusia berevolusi bersamaan dengan evolusi sosial dan evolusi di berbagai bidang teknologi seperti teknologi telekomunikasi, teknologi komputasi, teknologi kecerdasan buatan/AI, teknologi menufaktur dan lain – lain. Tentunya harapan kita, evolusi yang berlangsung akan membawa utamanya kepada kemaslahatan ummat tanpa mengesampingkan dampak yang dibawa oleh teknologi itu sendiri.

Melihat komunikasi wireless broadband yang tersedia dimana – mana bahkan sampai ke belantara pada video kedua hanya membuat saya iri. Saat ini di desa dimana saya tinggal, koneksi mobile broadband masih merupakan mimpi siang hari. Betapa tidak, indikator pada perangkat mobile saya yang terkoneksi ke BTS yang berdiri di sebelah selatan balai desa masih menunjukan “EDGE”, itupun kalau dilakukan test speed hasilnya tidak berbeda dengan kecepatan GPRS. Hasil test bisa dilihat di sini.

Kenyataan akan belum memadainya infrastruktur telekomunikasi seperti yang saya alami, dan pasti lebih banyak daerah lain di Indonesia yang senasib, sementara di kota – kota besar pengalaman menggunakan infrastruktur mobile broand maupun wired broadband sudah dinikmati banyak orang apakah seharusnya membuat kita pesimis?

Biar tidak melulu pesimis, akan lebih enak bila kita mencoba melihat kenyataan – kenyataan tersebut satu paket dengan kesempatan yang terbuka bagi pengembangan telekomunikasi.  Mas Kuncoro Wastuwibowo , seorang pakar aplikasi 4 G di Indonesia berbagi optimisme dan kerangka pengembangan aplikasi 4 G dalam keynote “4G Mobile: Opportunity and Challenges in Indonesia” berikut:

Presentasi Mas Kuncoro di atas memberikan gambaran secara jelas akan road map mobile broadband di Indonesia memasuki aplikasi generasi keempat (4G). Masalah teknologi jaringan 4G seperti apa yang kelak digunakan saat ini tidak perlu diramalkan lagi. Pemilihan LTE sebagai candidate teknologi 4 G di Indonesia sampai pengembangan spesifikasi secara detail telah selesai pada tahun 2010. Tahun 2011 ini, bahkan Telkomsel sebagai operator terbesar di Indonesia telah melakukan ujicoba di beberapa kota. Tinggal menunggu ijin dari pemerintah untuk official deployment. Di halaman 7 presentasi ini digambarkan wide deployment akan terjadi pada tahun 2015. Diharapkan pada tahun 2020, teknologi dan aplikasi 4 G sudah cukup mapan.

Kemudian apa yang penting untuk kita prediksikan? Menurut saya sedikitnya ada 3 hal yang sampai saat ini menjadi teka teki pada Industri Telekomunikasi di Indonesia pada 10 tahun yang akan datang.

Pertama, akan sejauh manakah penetrasi jaringan 4 G di Indonesia. Apakah infrastruktur jaringan 4 G hanya akan dibangun di kota – kota besar saja. Belajar dari implementasi jaringan 3 G, jaringan 3 G di Indonesia sudah dimulai sejak 6 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2005. Sampai saat ini jangkauannya masih terbatas di kota – kota besar dan baru mulai sedikit merambah ke daerah. Saya memang tidak punya data tentang penetrasi jaringan 3 G di Indonesia, tetapi apa yang saya alami di kabupaten dimana saya tinggal, di Gunungkidul, baru Telkomsel yang mengoperasikan jaringan 3 G di kabupaten ini. Itu pun sepengetahuan saya baru menjangkau sekitar 3 kecamatan dan belum sampai di desa dimana saya tinggal. Kalau pengalaman implementasi 3 G ini saya pakai untuk memprediksi kapan jaringan 4 G bisa saya nikmati dari rumah, maka paling cepat saya harus menunggu 6 tahun yang akan datang. Kecuali bila saya pindah rumah.

Saya masih ingat dengan pendapat Prof Budi Rahardjo yang pada saat itu dikira main – main. Koneksi broad band adalah hak asasi manusia. Pak Budi sekaligus menepis pendapat yang mengatakan bahwa untuk daerah, infrasruktur telekomunikasi sebaiknya yang basic saja. Memang warga negara Indonesia yang di daerah adalah warga kelas dua (second class citizen)? Bukankah frekuensi adalah sumber daya alam yang menurut Undang – Undang harus dipergunakan sebesar – besarnya untuk kemakmuran rakyat. Teknologi seharusnya diterapkan bukan untuk memperlebar kesenjangan digital (digital devide). 4G ditantang untuk menjembatani kesenjangan digital yang ada pada saat ini.

Kedua, 4 G is not only about network. Tidak ada artinya bila tidak ada aplikasi yang benar – benar perlu dijalankan di atas jaringan 4 G. Masih ingat dengan 3 G yang kurang sukses ketika diterapkan. Selain teknologi 3 G pada saat itu belum benar – benar matang, banyak diyakini bahwa penyebab utamanya adalah kurangnya killer application pada platform 3 G.

Ide tentang crowd sourcing untuk memantau informasi harga komoditas pertanian yang disampaikan oleh Mas Ahmad Nasir pada acara Sarasehan di Jogloabang malam itu menurut saya akan menarik bila aplikasinya dikembangkan di atas platform 4 G. Bisa jadi dianggap mengada – ada bila saya membayangkan ada aplikasi yang dibangun diatas platform 4 G untuk mengatasi permasalahan air bersih di Gunungkidul dan aplikasi untuk mengembangkan industri wisata pantai yang terbentang di pesisir Gunungkidul. Tidak bisakah dibuat aplikasi di atas platform 4 G untuk membuat Early Warning System untuk berbagai bencana yang rawan terjadi di seluruh penjuru nusantara?

Makin banyak pertanyaan dan tantangan bagi aplikasi 4 G untuk menyelesaikan permasalahan – permasalahan lokal di lingkungan dimana kita tinggal, menurut saya merupakan indikator bagi pertumbuhan dan percepatan deployment 4 G itu sendiri. Sebagus apapun platform suatu teknologi akan memerlukan waktu lebih lama untuk diterima bila tidak dibarengi dengan kemampuan untuk bermain dengan isu – isu dan permasalahan lokal.

Ketiga, saya hanya ingin bertanya. Apakah kita hanya akan cukup puas menjadi konsumen penikmat aplikasi  teknologi 4G? Artinya orang lain yang akan menikmati kue  4 G lebih banyak. Atau kita cukup kreatif dan jeli melihat keadaan sehingga bisa turut memainkan aplikasi 4 G itu sendiri?

Wah ternyata curhat  saya ini sudah panjang lebar dengan segala random -nya. Baiklah saya cukupkan sampai di sini. 😀 Sebelum meninggalkan halaman web ini, silakan menonton video berikut. Mudah – mudahan kita mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan solusi untuk dibangun di atas teknologi 4 G.

#ACTcreative

#3 redefine the wireless experience with LTE courtesy of youtube

Iklan

12 thoughts on “Curhat Tentang Industri Telekomunikasi Indonesia 2020

    • hihihi, master

      kita ngelihatnya dari yang ada di depan mata dulu, dan apa yg kita alami sehari – hari

      tapi tetep salut sama tetangga yg satu ini, meski sama sama tinggal di pelosok gunungkidul dgn infrastruktur acak adut tapi tetep bisa berkarya jadi developer theme wordpress kelas wahid

      ngga kebayang nih model kreatif mas jauhari bila dari rumahnya dapat koneksi 100 mbps saja 🙂

  1. Saya sebenarnya tidak terlalu bermasalah dengan itu, karena walau-pun akses jaringan 3G atau HSDPA sekalipun, ujung-ujungnya tetap sebagian besar dari pelanggan hanya mendapatkan kualitas GPRS/EDGE. Jadi meski 4G tiba, saya ragu akan menambah efeknya.

    Toh yang ada sekarang saja belum dimanfaatkan optimal, anggota dewan saja banyak yang ndak ngerti teknologi komunikasi, bikin rakyat pada tepok jidat :D.

    Yah, biarkan saja datang, saya sin enjoy saja :).

    • itu lah apa yg saya kata pentingnya aplikasi/content yg perlu jalan di sebuah teknologinya, analoginya, kalau kita punya tronton dgn tenaga 500 pk, apa sih yg mau kita angkut 🙂

  2. keren, memang kembali pada kekuatan kita semua ya, jadi sepuluh tahun lagi kemungkinan ya masih begini pun bisa juga haha,

    yang mengganjal ada frase itu loh… Bila Sempat… wakakakaka

  3. Saya kemarin termasuk yang menyesal gara-gara sakit tidak bisa hadir di acara ini. Padahal, saya sudah ndaftar. Jadinya tak bisa ketemu dengan blogger-blogger kondang dari Jogja. Salah satunya Mas Jarwadi. 🙂

    Berbicara ramalan komunikasi 10 tahun mendatang. Meski saya bukan seorang futuris yang layak disejajarkan dengan sang futuris legendaris Arthur Charles Clarke, sang penemu dan futuris hebat yang legendaris itu tapi bolehlah kalau saya juga punya angan-angan.

    Apa angan-angan saya? Mudah-mudahan kedepan panggilan video call tidak hanya seperti sekarang, menghadirkan lawan bicara dalam video saja tapi bisa menghadirkan sosok orangnya secara virtual utuh di depan kita. Mungkin kalau begini bisa lebih diminati kayaknya dibanding panggilan video 3G sekarang.

    Kedua, teknologi wireless seperti internet bisa mentransmisikan bau secara jarak jauh. Sehingga pedagang online yang jualan parfum tak perlu kirim sample ke pembelinya di internet. Cukup baunya aja dikirim secara virtual.

    Mungkin tidak kira-kira kedua angan-angan saya ini akan terjadi 10 tahun kedepan? Mari sama-sama kita tunggu.

    Hem, video yang terakhir ada TV di mobil pada sandaran jok di dedannya jadi mengingatkan maskapai penerbangan asing yang sudah ada TV LCDnya satu-satu di setiap tempat duduknya

  4. kalau sy sih mengharap sj supaya harga layanannya itu loh agar bisa bersahabat dengan kantong rakyat, untuk memanfaatkan koneksi 3G saja sekarang msh empot-empotan apalagi kalau nanti naik kelas ke 4G? wah saya mendingan enggak usah naik kelas wae lah.. hehe:D

  5. Ping-balik: Diskusi Seluler Bersama Telkomsel DISETEL « Menuliskan Sebelum Terlupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s