Menjalani Ujian …

Setiap orang ingin mendapatkan nilai baik dalam Ujian. Makanya mereka mengerjakan ujian dengan sebaik – baiknya. Atau bisa jadi mempersiapkan segala apa sejak jauh – jauh hari sebelumnya. Kalau perlu belajar ala kebut semalam habis – habisan. Dan bisa pula terjadi menggunakan segala cara untuk mendapatkan hasil terbaik, menyontek, hihihi.

Lain cerita dengan apa yang terjadi dengan saya pagi ini. Di pagi hari  Ramadhan ini, saya mendapatkan Ujian. Ujian ini benar benar datang tanpa di duga tidak di nyana. Bagaimana saya bisa bersiap diri? Maka saya tidak mengerjakannya meski tidak bisa mengelak dari. Saya kemudian memilih untuk menjalani saja.

Ceritanya begini, alkisah hari ini, pagi – pagi saya telah duduk manis di kursi angkutan yang menuju ke tempat kerja. Mulanya tidak ada yang aneh. Hanya ada rasa sedikit gatal – gatal di paha yang saya pikir merupakan gatal – gatal alergi ringan yang umum terjadi di musim kemarau berkelimang debu. Namun demikian tidak lama berselang, rasa gatal ini semakin menjadi jadi dan membuat si kampret ini tidak tahan. Membuat tidak bisa duduk tenang, geser kiri – geser kanan, kadang garuk garuk susah diam seperti kera berkutu. Mungkin para penumbang yang budiman dan sholihah di angkutan ini tidak akan mudah untuk memahami apa yang sedang terjadi pada seorang saya. Menanyakan apapun pasti enggan karena pasti wajah si temon ini kelihatan jutek kumel tak ramah.

Di antara ketidak sabaran dan gatal gatal yang menjadi – jadi, angkutan kali ini berjalan seperti siput saja, “Kapan akan sampai ke tujuan, ngga usahlah berhenti menaikan penumpang lain, atau menunggu penumpang yang sedang menuju pemberhentian, kali ini tolong mengertilah untuk saya bang sopir yang ganteng aduhai …” kalimat kalimat seperti itu dan kerabatnyalah yang kali memenuhi rongga rongga dalam tempurung dengkul kelapa saya.

Ini merupakan Uji ke sabar an. Atau uji ke qanaah an. Saya tidak tahu pasti. Yang jelas saya harus berusaha bagaimana cara agar rasa gatal serasa sejuta semut api bergantian menyengat ini musnah atau setidaknya terkurangi.

Dengan prosentasi otak yang tinggal sedikit yangbisa bekerja, saya pikir saya perlu untuk membeli anti-histamine untuk mengurangi efek rasa gatal, tapi sekarang saya sedang berpuasa, saya memilih untuk melanjutkan puasa terkerjakan sempurna sampai waktu berbuka. Mungkin saya nanti di apotik sebelah kantor bisa membeli bedak pereda rasa gatal, tapi biasanya sepagi ini apotik belum buka. Ah entahlah itu urusan nanti yang penting kobutri reot ini segera mengantar sampai ke tujuan terlebih dulu.

Masih di tengah perkelahian dengan rasa gatal dan dengan tinggal sedikit otak yang berfungsi, saya berusaha untuk menjadi lupa –mudah mudahan tidak lupa selamanya alias pikun, saya mengambil ponsel, membuka buka facebook mobile, comment comment asal dan tak penting di status teman teman, maaf ya kali ini comment saya lebih banyak ngawurnya, tetapi percayalah dengan komentar ini anda sekalian telah berjasa terhadap pengurangan derita seorang hampa penuh dosa, klik sana klik sini, terserah bila para penumpang yang budiman budiwati itu menganggap saya hyper narsis. Menuliskan pengalaman super gatal ini di blog inipun merupakan bagian dari ide tidak waras yang beberapa saat kemudian akan  segera menjadi kenyataan. =)

Horeee, akhirnya … saya hampir sampai di kantor. Saya melihat ada beberapa toko di kiri kanan yang sudah buka. Mungkin di toko toko itu menjual talc ber salycyl. Saya memilih untuk turun di dekat kios kios itu dan segera menuju untuk membeli bedak pereda gatal.

“Mau beli apa mas?”

“Itu tante, saia mau beli bedak ****, ada ngga?

Mata si tante itu menyisir barang dagangan yang di pajang di etalase, sementara kepala ini berselimut tebal rasa gatal berlapis ketidak sabaran yang menebal.

“Adanya ini Mas, ini malah baunya lebih harum di banding bedak merek **** yang mas cari itu, juga tidak panas, juga bla bla bla bla ”

Sudahlah bu tak usah kau banyak cing cong, saya sudah tidak tahan sabar dan gatal gatal lagi

“Oke deh tante, harganya berapa?”

“Oh ini ada lotion sepabrikan sama talc itu, ini lebih bagus Mas”

“Oh, kalau gitu, saya beli lotion pereda gatal itu saja”

Setelah lotion terbeli, baru sadar kalau saya berada di kios yang terletak cukup jauh dari kantor. Perlu beberapa menit berjalan. Saya pun jalan tergesa dan kadang dengan sedikit berlari. Tidak peduli siapa orang – orang yang berpapasan. Untuk kali ini menjadi ramah dengan orang – orang tidak sedang menjadi issue penting. Cuek is de best. Asal mereka tidak menambah masalah dengan meneriaki dengan sebutan Copet – copet.

Syukurlah akhir nya, dengan nafas agak terengah, kantor, sampailah saya.

pahagatal

Mengerikan sekali terlihat paha gatal saya. Pantas saja gatal setengah mati. Dari apa yang terlihat, saya menuduh ini pasti karena ulat bulu yang nyelonong tersesat ke celana, yang kurang kerjaan yang iseng membuat saya gatal bagai monyet berkutu. Ya, mungkin ulat bulu itu merupakan korban PHK karena dampak krisis global.

Lotion ini segera saya oleskan ke semua bagian gatal gatal yang tidak hanya di paha. Lambat sekali lotion ini bekerja. Sampai berapa lama memang rasa gatal akan sirna? Menunggu agar lotion di paha mengering. Lama nian. Foto itu saya ambil untuk membeli waktu.

Memang, tidak banyak pekerjaan kantor yang perlu diselesaikan hari ini. Bagi seorang saya, hari ini, yang terpenting dan tergenting adalah memerangi rasa gatal kerjaan si kutu kupret ulat bulu brengset sialan.

Gatal – garal ini nyata nian. Saya tidak sedang bermimpi terkena kutukan menjadi gatal gatal yang mana akan menghilang seketika terjaga dari mimpi. Proses butuh waktu. Sembuh perlu menunggu. Baiklah saya beri kesempatan Lotion dari kios si tante untuk bekerja. Kali ini saya menunggu si lotion merek caladine untuk memberikan progress report.

Blog Flying, Facebooking, atau apalah. Bekerjalah sebagai anti-histamine untuk saya.

Posting nya sudah panjang ya, tulisan ini benar benar merupakan efek rasa gatal yang terlampiaskan dengan menulis sekenanya dan sak gelem wudhele dhewe, jadi hapunten mawon menawi tidak enak dibaca. Eh sekarang sudah waktu dhulur ….

Biarlah saya menyikapi dan menjalani ujian dengan cara dan pilihan saya. Alhamdulillah ya Rabb atas segala anugerah dan Uji dari -Mu

5 komentar di “Menjalani Ujian …

  1. Boa noite pessoal, provavelmente disparar um SMS grátis está cada vez mais custoso devido a restriçao das operadoras de telefone. Há ainda os serviços que prometem entregar meu SMS mas nem sempre chegam recepiente final. Alguns como o Mundo oi e o Oi Torpedo funcionam mas e para as outras operadoras? E os que prometem que mandam e nada chega. Para onde está indo as as minhas menssagens? E para a Tim, Vivo? Alguma Idéia? Ou significa ter de pagar?. É só um desabafo, realmente está difícil achar bons sites para enviar torpedos barato.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s