Ujian nyontek atau nge pek ( niru teman ) ah biasa dulu aku juga seperti itu. Teman teman pun begitu. Maklum aja me and the gang are not the boys our parents can count on. Kalau ada orang yang pernah mempertanyakan mengapa budaya nge pek bin nyontek berkembang biak. Berikut adalah blackbox dari perjalanan sejarah saya. [ Mengungakap Pengalaman Pribadi ye ]
Pertama tama dan yang paling utama adalah tuntutan orang tua yang mendewakan nilai sebagai indikator tunggal gagal dan tidaknya saya dalam menempuh studi
[ Mengapa juga Ortu tidak bisa memahami bahwa salah dan gagal itu biasa dalam proses pembelajaran manusia, Be understand Mum, Test Results are as bad as subjective stuff. It all never reflect any matters ]
Kedua : Untuk memasuki sekolah favorit harus memenuhi persyaratan nilai yang tinggi,
[ loh mengapa harus ada sekolah favorit dan tidak favorit ]
Ketiga :
Kalau nilai sedikit tidak menjadi “aib” maka kata “tidak lulus” adalah punishment dari masyarakat dan sistem sosial. Tidak lulus adalah baju yang biasa dikenakan oleh anak anak yang tidak bener.
[ Trus anak anak yang bener bener itu yang kayak apa ]
Keempat : Biaya Pendidikan di Desa saya tergolong mahal, setidaknya bagi golongan ekonomi sekelas keluarga saya.
[ Misalkan pemerintah menanggung semua biaya studi disekolah gimana … tidak adakah uang yang tersisa daripada yang dikorupsi para penjabat ]
Kelima : Guru guru disekolah saya dulu kebanyakan adalah guru guru yang ngga bener, mengajar sekenanya, membuat soal semaunya, melakukan penilaian binti evaluasi cuman sebagai kelengkapan persyaratan administratif saja. Biar ada bahan untuk laporan ke Kepala Sekolah atau Dinas terkait. Ehm …
[ Mhm, No comment de ]
Keenam : Menyontek dan Ngepek itu sah sah saja sepanjang tidak ketahuan guru atau pengawas Ujian. Masyarakatpun tidak akan menganggap kalau mencontek itu Buruk.
[ Kamu ketauan … menyontek lagi … ‘Bapak dulu kan juga nyontek, jangan muna lah … ]
Menyontek adalah resultante dari pergeseran budaya dalam masyarakat. Mungkin ngga merupakan dampat dari postmodernisme. Semua pengin yang serba_serba@instant, nilai_bagus@instant, sekolah_lulus@instant, mie@instant, Kecenderungan masyarakat untuk lebih berpikiran pragmatis, menomor_duakan “nilai”, mengambil jalan pintas, mengesampingkan proses.
Sekarang mendapatkan nilai_lulus@instant, dengan nyontek, besok mencari pekerjaan_and_posisi_baik@instant dengan nyogok, mendapatkan harta@intant dengan korupsi, trus …
[ Gimana pendapat anda tentang ngepek binti nyontek, Apakah sepenuhnya memang pelajarnya ( mahasiswanya ) yang ngga bener? ]
hai tukang nyontek…. 🙂 upss.. sorry….
he3x