Membangun Emosi Untuk Tulisan Fiksi

Kekuatan sebuah novel, roman, cerpen atau tulisan fiksi lainnya ditentukan terutama  bangunan emosional yang diciptakan oleh penulisnya melalui sebuah cerita. Berbeda dengan tulisan non fiksi yang kualitasnya sangat tergantung data yang bisa dihimpun dan analisis secara tajam, kemudian dituliskan dengan sistematis. Mana yang lebih cerdas dari keduanya. Saya tidak tahu dan kali ini bukan mana yang lebih cerdas yang ingin saya bahas.

Saya ingin tahu siapa saja yang bisa membuat tulisan-tulisan non fiksi. Apa semua orang bisa menulis non fiksi yang bagus? Apa menulis cerpen atau novel bisa dipelajari dan dilatih? Tentu saja hal ini tidak perlu saya tanyakan untuk tulisan ilmiah dan non fiksi. Sedangkal pengetahuan saya, tulisan non fiksi bisa ditulis oleh siapa saja yang bisa mengumpulkan data dan membuat analisis yang bagus yang seluruhnya bisa dipelajari.

Katakanlah novel pembangun semangat yang best seller di Indonesia seperti 9 Summers 10 Autumns -nya Iwan Setyawan dan Laskar Pelangi -nya Andreas Hirata ditulis sendiri oleh pelaku yang mengalami sendiri kisah yang diceritakan. Apakah “mengalami” itu kunci sukses untuk membuka ruang emosi dalam sebuah tulisan?

Kalau Negeri Lima Menara? Saya belum baca Negeri Lima Menara. Jadi saya tidak tahu apakah penulis menjadi bagian dari kisah novel atau tidak. hehehe

Saya tadi sebenarnya tergelitik untuk menulis posting ini karena terbersit  sebuah  penasaran. Apakah kisah tragedi cinta yang menguras air mata itu hanya bisa dituliskan oleh orang yang pernah merasakan jatuh cinta, merasakan cemasnya semalam tidak bisa tidur karena cemburu, merasakan ulu hati yang nyeri karena putus cinta. Apakah pengalaman emosional seperti itu tidak bisa datang hanya dari imajinasi seorang penulis yang bisa jadi didapatkan dari membaca cerita non fiksi lain atau mengamati apa yang terjadi di sekitar?

Sebaliknya apakah fiksi cinta duka nestapa akan lebih bisa dinikmati oleh orang yang pernah mengalaminya. Sehingga ketika selesai membaca orang itu akan berkomentar, “Novel ini saya banget”. Menurut Anda bagaimana?