Untuk yang kesekian kalinya dalam 10 tahun terakhir, pemerintah kita akan menaikan harga bahan bakar bersubsidi. Dengan alasan yang sama dengan tiap kenaikan harga BBM bersubsidi tahun-tahun sebelumnya. Harga minyak dunia yang melambung yang membuat anggaran negara tidak cukup kuat menanggung beban subsidi yang berlipat. Katanya kali ini harga minyak dunia berkisar US$ 150. Sementara asumsi harga minyak dunia APBN … (berapa?)
Seperti pada kenaikan harga bahan bakar minyak sebelumnya, kenaikan harga BBM kali ini pun mendapat tanggapan penentangan dimana-mana. Tidak di TV, tidak di warung kopi, tidak di gardu ronda, semua orang jadi pandai menemukan 1001 dampak buruk keputusan pemerintah yang tidak populer ini. Semua orang seolah menemukan semua alasan untuk gelisah dan semua alasan untuk gagal. Kenaikan harga BBM seolah menghembuskan badai pesimisme yang sangat dahsyat.
Eh, benar ya? Saya sendiri merasa berat dengan tiap kali kenaikan tarif angkot yang tiap hari saya tumpangi tiap kali terjadi kenaikan harga bensin bersubsidi. Seperti ketika tarif angkot yang biasanya Rp 2.000,- mendadak menjadi Rp 3.000. Besok kalau bensin dinaikan sebesar 30% akan persis menaikan tarif angkot menjadi Rp 4.000,- 😀
Memang, adalah tugas pemerintah dan fungsi negara untuk memikirkan bagaimana caranya meminimalisasi dampak buruk tiap kali kenaikan harga bahan bakar bersubsidi ini dilakukan. Termasuk tugas pemerintah untuk mengurangi pesimisme di tengah-tengah masyarakat.
Permasalahannya: Untuk mengurangi pesimisme itu diperlukan kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap pemerintah. Apakah pemerintah saat ini cukup punya deposit kredibilitas yang memadai. Baca lebih lanjut