Hidup Belum Lengkap Bila Belum Swab Tes

Sebagai orang yang disuntik saja takut, bagi saya menjalani rapid test dan PCR swab test bukanlah hal yang mudah. Bila bukan karena terpaksa tentu saja tidak akan mau melakukannya.

Alhamdulillah memang bukan karena saya merupakan seseorang yang merupakan suspect terinfeksi Covid-19 dari suatu contact tracing, riwayat perjalanan, atau gejala-gejala fisik. Saya melakukan Rapid Test sebagai persyaratan untuk mengikuti sebuah event. Event itu adalah Sosialisasi CHSE Marathon yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan Marathon Owner yang bertempat di Hotel Hyatt Regency Yogyakarta.

Rapid test yang dilakukan di Lab Budi Sehat di Jalan Laksda Adisucipto Yogyakarta mengingat kapasitas rapid test di Hyatt Regency yang terbatas.

Menjalang pelaksanaan rapid test jantung saya berdebar-bedar. Pertama seperti yang saya sebut di awal tulisan ini, saya takut dengan jarum suntik. Kedua saya takut jangan-jangan hasil rapid test saya menunjukkan reaktif. Bila hasil menunjukkan reaktif tentu buntutnya akan panjang. Saya akan gagal mengikuti event Sosialisasi Clean, Health, and Safe Environment Marathon dan tentu saja harus menjalani protokol kesehatan yang rumit.

Proses rapid test di Lab Budi Sehat dilakukan dengan mengambil sample darah melalui pembuluh darah vena di lengan. Berbeda dengan rapid test yang saya ketahui yang mengambil sample darah di jari tangan.

Menunggu hasil test selama satu jam lebih dengan harap-harap cemas, akhirnya saya boleh merasa lega. Selembar hasil lab yang saya buka dengan hati-hati dari amplop nya menunjukkan non reactive. Alhamdulillah.

PCR Swab Test

PCR Swab Test ini sebagai persyaratan ketika saya mengambil bagian menjadi panitia Borobudur Marathon 2020 Elite Race. Sebagai satu-satunya event Marathon yang diselenggarakan pada masa pandemi maka segala sesuatunya harus dilaksanakan sesuai protokol Covid-19 sebagaimana yang telah ditetapkan oleh IAAF. Mirip-mirip dengan tata laksana yang diambil oleh London Marathon 2020 Elite Race beberapa waktu yang lalu.

Tak ayal semua athelete, VIP undangan, dan semua panitia yang bertugas termasuk saya harus menjalani test swap. Tidak tanggung-tanggung PCR Swab Test harus dilakukan sebanyak 2 kali untuk panitia yaitu pada H -7 dan pada hari kedatangan di hotel dimana kami bekerja. Sedangkan untuk para athelete PCR Swab Test harus dilakukan sebanyak 3 kali termasuk ketika athlete selesai menjalani perlombaan dan akan pulang ke kota dan daerah masing-masing.

Swab Test pertama bagi panitia dan athlete Borobudur Marathon 2020 dilakukan di daerah masing-masing. Karena di daerah saya di Kab. Gunungkidul belum ada Rumah Sakit atau Lab yang melayani Swap Test Atas Permintaan Sendiri, maka saya terpaksa menjalaninya di Kota Yogyakarta. Saya dan beberapa rekan panitia Borobudur Marathon 2020 menjalaninya di Parahita Lab.

Bagi saya menjalani Swab Test jauh lebih menakutkan dibandingkan dengan Rapid Test. Menakutkan karena sebelumnya saya pernah mendengar testimonial betapa sakit dan after taste dari rekan-rekan saya yang pernah menjalaninya lebih dulu. Memang beberapa teman saya sebelumnya sudah melakukan swab sebagai bagian dari contact tracing.

Proses swab di Parahita siang itu dimulai dengan pembagian Swab Kit yang dilakukan oleh petugas yang mengenakan APD lengkap/hazmat. Melihat orang berpakaian hazmat bagi saya lebih mengerikan dibanding melihat hantu pocong di layar lebar. Dengan segala kecemasan akhir butuh waktu beberapa menit bagi saya untuk pengambilan swab melalui hidung dan mulut.

Selesainya pengambilan sample ini membuat saya sedikit lega, tetapi belum benar-benar lega. Kekhawatiran terus terjadi selama beberapa hari. Mengingat hasil PCR Swab baru akan keluar pada beberapa hari mendatang.

Selama menunggu segala prasangka berkecamuk. Meskipun selama ini saya tidak merasakan gejala-gejala yang menunjukkan infeksi Covid-19 namun kekhawatiran itu selalu ada, saya takut menjadi OTG/Orang Tanpa Gejala, sebagai virus carrier.

Maklum dalam beberapa pekan sebelumnya saya memang kurang bisa menjaga social distancing, saya banyak berinteraksi dengan orang-orang yang saya tahu abai terhadap protokol kesehatan. Saya khawatir tidak bisa memanfaatkan kesempatan menjadi bagian Borobudur Marathon 2020 Elite Race yang belum tentu pernah akna terulang lagi.

Salah seorang kawan mengabari kalau ia mengambil hasil swab semua rekan panitia yang melakukan test di Parahita Lab. Saya memintanya untuk mengirimi hasil swab saya via whatsapp. Ia meminta ijin terlebih dulu untuk membuka amplop swap test sebelum mengirim hasilnya kepada saya.

Alhamdulillah hasil PCR Swab test saya dan semua rekan-rekan yang pada siang itu melakukkan test semuanya negatif.

PCR Swab Test kedua saya bertempat di salah satu ruang Poncowati Hotel Puri Asri Magelang. Kali ini Swab Test dilakukan oleh Pharma Lab dari Jakarta. Pharma Lab ini merupakan salah satu sponsor dari Borobudur Marathon 2020 Elite Race.

Meskipun ini bukan swab test pertama saya tetap saja saya merasa ketakutan. Itulah mengapa saya mengambil antrian terakhir untuk ditest. Pilihan untuk mengambil antrian terakhir yang kemudian saya sesali. Mengapa? Karena dengan di deretan antrian paling belakang saya jadi tahu testimonial dari rekan-rekan saya yang sudah dites lebih dulu. Menurut mereka swab test kali ini lebih sakit daripada yang pernah kami jalani di Parahita Lab sepekan sebelumnya. Kali ini pengambilan sample dilakukan melalui kedua hidung kami, amat berbeda dengan di Parahita yang mengambil sample dari satu lubang hidung dan dari mulut.

Memasuki ruang pemeriksaan swab, kepada petugas saya yang ketakutan mengatakan untuk pengambilan sample dari satu lubang hidung saja karena saya takut. Ini membuat petugas tertawa tertiwi seolah ingin ngerjain saya.

Pengambilan sample untuk saya kali ini tidak berjalan sangat mulus. Perlu pengulangan sampai beberapa kali sampai-sampai membuat hidung saya sakit. Untungnya pengambilan sample hanya dilakukan dari satu lubang hidung, tidak dua seperti rekan-rekan saya yang lain.

Pemeriksaan swab sampai keluar hasilnya kali ini membutuhkan waktu yang sangat cepat. Kurang lebih 15 menit. Bandingkan dengan di Parahita Lab yang membutuhkan waktu sampai beberapa hari.

Jadi apakah kelak saya masih mau di-swab test? Rasanya saya ogah bila tidak sangat terpaksa atau untuk sesuatu yang sangat worth it. πŸ˜€

3 komentar di “Hidup Belum Lengkap Bila Belum Swab Tes

  1. wah mantap review swabnya mas.. alhamdulillah negatif.. semoga sehat selalu..

    kangen juga event lari, tercatat terakhir event di Volcano Run 2020, itu juga agak agak khawatir karena peserta dari berbagai daerah.. untungnya sih nggak ada kluster dulu pas disana.. πŸ˜…

  2. yang jadi pertanyaan saya jika misal hasilnya positif.. apa yang kemudian dilakukan oleh penyelenggara? apakah si orang tersebut baik panitia atau peserta akan dibawa ke rumah sakit atau hanya dipulangkan? atau kemudian ada semacam isolasi ke orang-orang yang berkontak dengannya? πŸ€”

Tinggalkan Balasan ke Zam Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s