Menanam Jagung Jangan Jemu-Jemu

Dari kemarin sore sampai tadi malam, hujan cukup deras dan merata turun di desa dimana aku tinggal dimana mata pencaharian utama penduduknya adalah bertani. Waktu yang tepat untuk segera bercocok tanam. Terutama dan yang harus didahulukan adalah tanaman palawija. Kecuali padi yang harus menunggu curah hujan lebih banyak.

Kali ini kami sengaja meladang lebih pagi agar kedua ladang itu sudah selesai ditanami sebelum matahari terlalu terik. Bukan kami takut sengat matahari. Hari ini adalah hari Arofah. Hari dimana muslim disunahkan untuk berpuasa sebelum Hari Adha. Kami menjaga diri agar keringat tidak terlalu berlebih sehingga menurunkan cairan tubuh dan bisa-bisa mengurangi kekhusukan berpuasa.

Udara pada jam 5 pagi tadi terasa dingin. Mendung menggelayut menutupi wajah langit. Itu bukan penghalang bagi semangatku, bapak dan simbok untuk segera bergegas ke ladang keluarga di Ngglempeng dan Lor Ngglempeng. Kami bertiga berjalan kaki ย dengan benih jagung, tugal dan cangkul dipundak,ย menempuh jarak hampir 2 km.

Jalan kaki ke Nglempeng itu sendiri aku rasakan asik. Entah kenapa aku melihat jalanan yang jeblok-jeblok banyak gedebel-nya itu seolah baru. Padahal aku telah berulang kali melewatinya dengan kaki ini. Apalagi laron-laron yang aku lihat beterbangan menikmati mongso rendeng dan kebebasan dan ada yang hinggap di ranting-ranting kering. Juga laron-laron yang dengan dikawal rayap sedang keluar dari lobang kepundung di kiri kanan jalan di dekat pohon randu raksasa di Lor Ngglempeng. Rumput dan dedaunan basah yang membagikan aroma alam yang tidak bisa aku ceritakan dengan kata-kata.

Bapak meneruskan jalan kaki ke Ngglempeng. Sementara aku dan simbok menuju Lor Ngglempeng. Di ladang tegalan yang sebelumnya telah dipersiapkan dan ditebari pupuk oleh bapak ini, simbok dan aku menanam jagung. Aku menugal tanah, membuat lubang-lubang kecil pada tanah dengan batang kayu yang ujungnya diperuncing atau tonjo, dan simbok nlethikke wiji, menjatuhkan biji Jagong pada lunang-lubang itu.

Kira-kira jam setengah delapan, aku dan simbok selesai menanam Jagung di tegal Lor Ngglempeng. Aku dan Simbok bergegas menyusul bapak ke Ngglempeng.

Di Ngglempeng, bapak belum selesai menabur pupuk kandang. Bapak terus melanjutkan pemupukan. Aku dan Simbok mulai menugal dan menanam biji Jagung.

Sama seperti di Lor Ngglempeng, di tanah yang aku tanami ini banyak sekali dogolan-dogolan jangkrik, pasangan laron yang mbrondoli, katak yang memakan laron, bahkan kelabang dan kalajengking pun ada. Bapak memperingatkanku agar berhati-hati. Kelabang dan kalajengking memang berbahaya bila menyengat atau menggigit, tapi tidak perlu dibunuh. Katak apalagi. Katak-katak ini lebih baik dibiarkan hidup karena katak bisa menjaga keseimbangan populasi jangkrik. Kalau katak dibunuh, populasi jangkrik bisa meningkat tak terkendali sehingga akan memakan tunas-tunas jagung yang baru tikrik/tumbuh.

Alih-alih tentang jangkrik, jaman aku masih anak-anak dulu senang sekali menangkapi jangkrik. Terutama jenis jangkrik yang bisa ngerik. Jangkrik yang bisa ngerik, atau disebut Jragrem itu dirumahkan pada gothang dan ditaruh di dalam rumah di dekat dipan tempat tidur. Jangkrik yang tidak bisa biasanya hanya diwadahi ketupat, untuk kemudian digoreng sebagai lauk.

Aku, bapak dan simbok meladang sambil bercerita apa saja. Kalau tidak mau dibilang bercerita sambil meladang. Baik itu jangkrik, kalajengking, tarangan jagung, olan-olan dan dongeng jaman simbah-simbah merupakan cerita yang tidak akan pernah habis.

Sampai sengat surya mulai terasa. Simbok menanyaiku, jam berapa. Sudah jam sembilan. Pantas keringat sudah mulai menetes dari pelipis. ๐Ÿ™‚ Setengah tegalan Ngglempeng baru separo selesai ditanami.

Kami bertekad untuk menyelesaikan siang itu juga. Bila siang tidak selesai, simbok tetap tidak bisa membantu pada sore hari. Sore hari adalah waktu simbok untuk memasak dan mempersiapkan makanan berbuka puasa. Kami ingin penanaman benih jagung selesai dan sore nanti bapak tinggal menyelesaikan beres-beres di tegalan Ngglempeng itu.

Kira-kira jam sepuluh, benih jagung sudah selesai tertanam di semua luangan yang telah dipersiapkan oleh Bapak. Aku dan simbok bergegas pulang sementara bapak masih mencari hijauan untuk makanan sapi dan kambing kami.

Bayang - Bayang

Bayang - Bayang

Gambar di atas adalah foto Pak Tani yang menulis posting ini. Dia sedang melepas lelah bertumpu pada tongkat tonjo yang ia pegang.

Posting ini hampir selesai aku ketik tapi waktu berbuka puasa masih hampir satu jam lagi ๐Ÿ˜€

Iklan

11 thoughts on “Menanam Jagung Jangan Jemu-Jemu

  1. wah senang membaca tulisan ini. ini blog pertanian pertama yang memadukan antara cara menanam jagung, suasana, dan sensasi menanam. Suka… ๐Ÿ™‚
    sayangnya wordpress ya, kalau follow harus lewat email, rempong

  2. kak, kalo tanam jagung, lubangnya nggak dalam-dalam kan?
    penasaran benar tidaknya lagu anak-anak yg soal kebun jagung

    “cangkul..cangkul..cangkul yg dalam.. menanam jagung di kebun kita”

    ๐Ÿ˜€

  3. Ping-balik: Selamat Sore (dari Ladang Jagung) « Menuliskan Sebelum Terlupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s