Kemanusiaan di Era Informasi

Wah apa apaan ini. Kok kayaknya serius banget. Iya saya memanfaatkan waktu menunggu shalat Jum’at untuk menuliskan ‘sesuatu’ diri saya. Iya seperti halnya shalat merupakan kepentingan pribadi. Ini adalah kepentingan pribadi saya yang lain. Biarkan saya untuk kadang kadang memanjakan diri.

Berbicara mengenai kemanusiaan (di era informasi), marilah mula mula untuk menengok pada sejarah era (manusia), Peradaban. Konon katanya sebelum nenek moyang kita memasuki era agraris dulunya merupakan pemburu dan pelari yang hebat. Mempunyai tubuh yang berotot dan kuat, sehingga mereka bisa menyelesaikan sebagian besar permasalahan pada masa itu dengan paradigma otot. Otot? Bukankah pada masa itu kakek dan nenek moyang kita harus berkelahi dengan binatang buas untuk survive dan mendapatkan makan. Dan kadang kadang berkelahi dengan kelompok atau etnik lain untuk berebut wilayah perburuan.

Menjadi petani

(seperti saya sekarang). wah saya tidak mau bercerita bagaimana peradaban masyarakat petani. Tetapi apabila ada orang yang mau mengamati kehidupan saya dari dekat. Biarlah orang itu saja yang menuliskan dalam blognya. Singkatnya di era pertanian lebih ada jaminan bahwa untuk kebutuhan makan sehari hari selama setahun atau semusim lebih baik. TITIK

eRA iNDUSTRi

sETELAH merasa bahwa apa yang bisa dihasilkan oleh pola hidup bercocok tanam jauh lebih baik dibanding dengan berburu dan meramu, maka keserakahan manusia semakin menjadi jadi. Mereka ingin melipat gandakan apa yang disebut produktifitas. Manusia mulai memikirkan spesialisasi, delegasi dan pemecahan alur produksi menjadi bagian bagian yang berantai dan terkait. Mereka memikirkan efisiensi untuk mendongkrak produksi. Manusia mulai mengembangkan mesin, sistem, dan prosedur dan kemudian menyebutnya sebagai teknologi.

Muncul dalam pikiran manusia sebagai suatu paradigma adalah bahwa sistem dan prosedur serta mesin adalah piranti utama produktifitas dengan manajemen sebagai agen efisiensinya. Manusia melihat bahwa mesin dan sistem yang bekerja dalam suatu ukuran waktu, dan waktu itu linier dengan produktifitas. Belakangan sistem dan prosedur tersebut membisikan suatu kata mantra kepada manusia. Apa kata mantra tersebut? DISIPLIN

Berbekal kata mantra tersebut manusia menerapkan disiplin (ala mesin) dalam banyak bidang kehidupan. Manusia mulai secara perlahan lahan menyama ratakan antara disiplin manusia dan disiplin mesin. Apabila dalam satu jam mesin mempunyai produktifitas sebanyak 10 maka produktifitas untuk 12 jam adalah perkaluanya. Hitung hitungan tersebut kemudian juga diterapkan untuk menghitung produktifitas manusia. Manusia sudah sampai pada jaman matematika dan menjadi pandai berhitung ya?

Puncak era industri adalah penemuan dimana mana bahwa manusia industri, manusia berkualitas adalah manusia yang bisa mengikuti disiplin mesin, menyesuaikan diri dengan baik dengan sistem dan prosedurnya. Berangkat kerja tepat pukul 08:00 dan pulang kerja pukul 16:00. Apabila tidak seperti itu maka dia adalah tidak berkualitas. Disiplin era industri berarti datang tept waktu, bekerja sesuai dengan jam kerja, mengenakan seragam, patuh pada pimpinan dan mengerjakan sesuai perintah.

Manusia meletakan keunikanya, meletakan fitrah unik yang diberikan oleh penciptanya, melepaskan hatinya untuk bekerja sesuai prosedur. Hati dan Jiwa di era industri adalah hambatan bagi disiplin dan kemajuan.

era INFORMASI

era Informasi adalah gelombang mula dari kemanusiaan manusia. Tren yang terjadi adalah gelombang pencarian yang terus menerus, saling susul dan tidak pernah jera atau terputus. Tidak ada detik atau bahkan mili detik dimana google beristirahat dalam melakukan pencarian. Manusia ingin menemukan kembali jati dirinya.

Manusia sudah bosan dengan disiplin ala era industri, manusia terlahir unik, maka manusia (tetap) ingin menjadi unik. Suara ini tidak bisa dibendung oleh kekuatan apapun. Yang dilakukan era industri selama 6 abad lamanya ternyata tidak bisa membungkam atau menghambat bisikan bisikan kemanusiaan manusia. Dalam banyak hal, walaupun ketika saya menuliskan ini masih sebatas dalam masa transisi.

Kalau di era informasi manusia harus menyesuaikan diri dengan sistem,prosedur dan disiplin mesin, maka giliran kitalah yang akan menyesuaikan prosedur dan disiplin mesin dengan suara manusia. Kalau 15 tahun yang lalu anda masih menggunakan mesin ketik mekanik atau word prosesor seperti word star. Apa yang anda rasakan ketika saat ini anda berinteraksi dengan MS Office dan Pengolah Kata moderen lainya. Pernahkan anda membayangkan bahwa interaksi antara mesin (PC) dengan manusia bisa menggunakan bahasa yang semudah dan semanusiawi sekarang. Apalagi penyebabnya kalau bukan dorongan manusia yang kuat untuk menjadi, benar benar menjadi dirinya

BERSAMBUNG YA MENJELANG SHALAT JUM’AT

KAPAN KAPAN SAYA TERUSKAN LAGI

One thought on “Kemanusiaan di Era Informasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s