Kecewa … mengapa?

Saya senang sekali bahwa ternyata banyak orang yang berusaha memahami dan mengerti saya, maksudnya berusaha mengenal saya, atau merasa mengenal saya [ jangan GR dong ]. Ya dech. Maksud saya banyak orang yang mengenal saya setengah setengah atau sebagian ( kecil ) saja dari dimensi kehidupan saya yang komplek.

Benar saya menyadari betapa kompleksnya ‘saya’, sama kompleknya dengan orang lain dan dimensi kehidupan mereka. Kalau orang mengira saya ini under quailified, tentu saja egoisme saya tidak akan terima walaupun memang seperti itulah saya ( dalam banyak bidang, saya kan hanya maksimal dalam bidang tertentu saja ). Sama tidak nyamanya ketika saya mendapati orang orang yang over estimate terhadap saya. Mengira hal hal yang hebat melekat pada saya.

Pada lapisan yang paling permukaan seperti inilah yang memupuk egoisme saya, selfish -isme, sok rumongso. Mungkin ngga ya kita menemukan orang yang bisa memahami kita seperti apa adanya. Memahami komposisi paling tepat mengenai kita. Mengenal dinamika, personalitas, dan kompleksitas kita.

[ Loh, jangan mencoba mencari orang yang bisa mengenali kamu, Bukankah kamu juga tidak pernah mengenal dengan baik siapakah dirimu ]

Penilaian ( subyektif ) yang berlebihan tentang saya. Saya percaya itu awal dari kekecewaan ( mereka yang memberi penilaian ). Over estimate adalah akar tunjang dari kekecewaan ( …. ? ). Orang kecewa.

Mengapa orang orang ( mereka ) kecewa? Saya pikir mereka adalah orang orang yang telah memperhatikan saya, hanya saja mereka melihat hanya dari satu dimensi saja dari sekian banyak dimensi saya . Over Estimate. Melihat sesuatu bukan apa adanya melainkan apa yang seharusnya. Dan selanjutnya menumbuhkan harapan harapan yang berlebihan.

Tidak terpenuhi dan akhirnya kecewa

Harus bagaimana ya saya mensikapi orang orang seperti itu?

[ Saya sepenuhnya berterima kasih kepada anda sekalian dan mereka mereka yang telah dan pernah kecewa dengan saya ]

Satu komentar di “Kecewa … mengapa?

  1. Numpang lewat….
    Yup, saya setuju dengan pendapat jenengan yang ini. Kadang terlalu berusaha memenuhi harapan orang malah membuat kita jadi kehilangan jati diri 😛

Tinggalkan komentar