Syarat Utamanya Monitor Bagus

Kali ini saya masih akan bercerita tentang penyuntingan foto. Maklum karena beberapa waktu terakhir ini saya memang sedang banyak mengotak-atik foto-foto jepretan kamera saya sendiri. Sedang belajar memotret dan post processing untuk mempermanis foto hasil jepretan.

Umumnya, bila kita selesai memotret, kita ingin cepat-cepat melihat hasil jepretan kita di monitor. Bila foto yang dihasilkan kurang memuaskan, biasanya kita akan cepat-cepat mengolahnya dengan bantuan software image editing. Tidak pernah cukup sabar untuk membiarkan foto yang kita dapatkan dengan bersusah payah lama-lama kurang memuaskan.

Saya sendiri begitu, entah pemotret-pemotret pemula yang lain. Setelah kamera dan kondisi pemotretan di lapangan, software yang baguslah biasanya yang dianggap akan membantu menentukan hasil akhir sebuah foto. Ini memang benar. Sama sekali tidak salah. Sehingga banyak orang berinvestasi untuk membeli software image editing yang canggih-canggih dan mahal-mahal.

Namun menurut saya sendiri ada satu komponen penting yang sangat menentukan, yaitu Monitor yang bagus. Monitor yang bagus mereproduksi warna, brightness dan contrast yang akurat. Monitor yang terkalibrasi dan terstandarisasi sehingga bisa menampilkan gambar/foto secara konsisten.

Untuk mendapatkan monitor yang bagus biasanya juga tidak sulit-sulit amat. Yang penting punya uang untuk membeli monitor high end. Syukur-syukur bisa beli monitor dengan pixel density serapat monitor-monitor retina display. Baiklah, hal yang susah dilakukan adalah mengkalibrasi monitor yang kita punya. Ini saya juga belum menemukan cara yang mudah. Saya sendiri sering tidak yakin apakah saturation, brightness, contrast dan hue dari monitor saya sudah benar-benar tepat.

Setting yang kurang tepat, apalagi monitornya memang jelek, akan menghasilkan tampilan yang tidak standar. Foto yang sudah terlihat bagus di monitor kita bisa jadi akan under exposure di monitor orang lain dan sebaliknya. Foto yang sebenarnya sudah bagus malah kita otak-atik dengan software yang ujung-ujungnya menjadi tidak menarik dilihat di monitor kline, katakanlah.

Monitor sangat penting. Bila harus berkompromi dengan budget yang pas-pasan, maka saya akan memilih menggunakan uang saya untuk membeli monitor bagus daripada software image editing yang mahal. Saya tidak bermaksud menggunakan software bajakan, tetapi software open source image editing GNU GIMP yang gratis sudah sangat cukup untuk kebutuhan penyuntingan foto buat saya sehari-hari

 

 

 

Bermain-Main (Lagi) dengan GNU Gimps

Kali ini saya sedang selo untuk mengutak-atik foto yang saya jepret dengan ponsel saya. Setelah beberapa waktu saya malas melakukanya. Sebelumnya saya langsung meng-upload foto jepretan saya tanpa banyak manipulasi. Paling-paling saya sedikit memperbaiki saturasi dan level pada gambar. Dan seringnya pula saya melakukannya dengan software image manipulation pada ponsel atau pun Piknik di Google+

Untuk foto di atas saya menggunakan GNU Gimp 2.8. Apa yang saya lakukan pun cukup banyak (dibandingkan biasanya), yaitu mulai memperbaiki level, curves, saturation, sampai dengan layer blending. Padahal hanya untuk membuat suatu gambar hitam putih ya.

Baiklah, Foto aselinya bisa dilihat di bawah ini:

2013-03-13 08.51.45