Sebel tau ..

ce : “Sebel sebel, sebeeeel …”
co : kenapa sebel, ngomong dong
ce : ngga, ngga jadi, ngga penting tau ..
co : ngomong … dong, aku dengerin deh, dari tadi isinya sebel melulu, isi kacang ijo kek, atau  keju … he he he
ce : ngga penting. Titik.
co : gue kan udah bilang maw dengerin, ya udah kalau memang ngga penting
co : lagian banyak yang mesti kelar sore ini …

Cewe meninggalkan ruangan sambil memain mainkan kertas yang dibawanya yang entah kosong atau … ngga tauw. Ia berjalan pulang. Ia memandang ke depan, tak ada yang tau pasti didepan ada apa, kadang kekiri, tapi lebih banyak memandangi arah depan sana walau kadang kadang menunduk takut kalau kakinya terantuk batu batu yang berserakan dijalan yang tidak rata …
Mungkin dia ingin menengok kebelakang sekali saja, sayangnya keraguan menyuruhnya untuk terus berjalan pulang. Ia meraba sakunya, memeriksa ponsel disaku. Maksudnya? Takut ponselnya ketinggalan? Ngga tuh … Trus paan?
[ Ringtone Playing louder and louder ]
Buru buru ce mengambil ponsel dari saku celananya. Cepat cepat ia memeloti layar ponselnya. “Sebel sebeeeel …”, ternyata Rini yang melakukan panggilan. Tombol merah ( tolak telepon masuk ) menjadi korban perlakuan semena mena sore itu. “Rese loh rese”. Rupanya bukan panggilan yang dikehendaki. Ce berjalan selangkah atau dua barangkali. Sekali lagi dan sekali lagi ce meraba ponsel dalam saku celananya.

Baca lebih lanjut