Ayat ayat cinta, novel, film, kritik

Rasanya sudah basi kalau saya ikut nimbrung mengomentari ayat ayat cinta. Bang Bas (Barang Basi) , tak apalah. Saya (tetep) ikut ikutan nimbrung. Beberapa Pekan ini kesuksesan fim garapan Hanung B ini menjadi pemberitaan di media masa dan bahan ngobrol teman teman ( adik adik )

Siang tadi saya sempat nonton film ini ( di rumah Ms Miyanto, dari VCD bajakan yang saya bajak lagi dari Ms Susilo). Dan … Beberapa Minggu yang lalu, saya meng copy file pdf novel ini dari Ms Sumar. Saya membacanya secara acak dan berhenti membacanya pada sekitar halaman 60. Tidak ada yang istimewa dalam novel ini (walaupun laris manis dipasaran). Menurut saya sangat menggurui. Berbeda dengan novelnya saya nonton film ini sampai selesai …

Berikut adalah pegalaman saya dan adik adik dalam menonton film ini :

Menyaksikan cast satu-satu pemain, saya mulai merasa tidak kuat. Saya merasa usaha sutradara untuk ‘membohongi’ saya dengan film ini benar-benar keterlaluan. Bagaimana saya bisa mempercayai bahwa Surya Saputra sebagai orang German? Sementara sosoknya kental di ingatan saya sebagai pemain film Indonesia. Saya menolak mempercayai Zaskia Mecca sebagai orang Mesir, saya tidak bisa menerima Marini sebagai orang Mesir. Banyak lagi cacat dari segi casting ini… Sutradara menempatkan pemain2 yang sudah dikenal baik di Indonesia dan berupaya ‘memalsukan’ mereka, tidak ubahnya sandiwara-sandiwara atau film-film zaman dulu di mana yang berperan sebagai tentara Belanda adalah pemain dengan tampang Indonesia juga. Parahnya pemeran yang dipilih punya sosok yang kadung kuat di ingatan penonton.

Batin saya tersiksa menyaksikan pertemuan Fahri dengan Aisha di bus. Ketika seorang penumpang (ceritanya dia ‘orang mesir’) nyaris berkelahi dengan Fahri dan menyebut, “Ya Indonesia!” atau adegan lain ketika Fahri di penjara… di mana seorang dengan tampang jelas2 Indonesia, bicara dengan bahasa Indonesia, tetapi berperan sebagai bukan orang Indonesia, dan menyebut Fahri dengan “Indonesia!”

Dalam novel digambarkan Fahri sebagai seorang terpelajar, intelektual, mahasiswa S2. Tapi sepanjang film saya tidak melihat adegan yang menunjukan kalau Fahri itu cerdas. Bahkan banyak kalimatnya yang menurut saya tolol. Perkenalan dalam bahasa Jerman “Meine name Fachri” membuat saya tidak tahan untuk tidak tertawa, begitu juga dengan diskusi2 Fachri di adegan yang lain termasuk dengan guru Talakinya. Dibanding akting Andre Stinky di Kiamat Sudah Dekat rasanya Fachri masih tertinggal jauh. Fredi Nuril sendiripun dalam hal akademik memang belum ada record nya. hm .. Mungkin saya terlalu banyak nonton Film sekelas The Departed, The Beautiful Mind yang sangat show off intelektualisme.

Fredi Nuril gagal membuat saya percaya pria itu telah menjadi sumber patah hati akut hingga depresi begitu banyak gadis. Aku tidak (sedang) jatuh cinta bahkan tidak juga bisa sekadar menerima alasan kenapa para gadis itu sedemikian terobsesinya pada si Fahri ini?

Perlu seseorang yang sangat amat kuat untuk memerankan Fahri hingga penonton teryakinkan. Fahri di sini makin lama makin cengeng… Cara berdirinya, caranya memandang, terutama cara membantahnya terhadap Aisya, yang lebih terlihat sebagai gerutuan anak kecil kepada ibunya, ketimbang protes (logika) atau nasihat seorang suami kepada istrinya (adegan makan bersama dengan Aisha, Maria, dan ibunya dengan Fahri, adegan laptop, pertengkaran ketika keluarga Nurul datang).

Logika cerita?
Nggak kalah kacaunya.
Proses menemukan Noura yang sudah setidaknya belasan atau bahkan 20 tahunan tertukar dari orang tua asli, terjadi secepat kilat. Pertama Fahri meminta tolong seseorang, kemudian sim salabim… tanpa ada proses yang terlihat (make a call perhaps? atau sedikit kesibukan lain sebagai upaya pencarian?) adegan berikutnya adalah Noura bertemu dengan orang tua kandungnya.

Adegan Fahri berta’aruf dengan Aisya pun sulit diterima logika. Bagaimana bisa Fahri yang selama ini saleh dan memiliki konsep tentang soul mate (jodoh) yang sedemikian, juga wawasan keislaman yang mantap, dan karenanya belum juga menikah itu, dengan mudah memutuskan menikahi Aisha hanya beberapa detik setelah Fahri memandang dengan tidak berkedip wajah Aisha setelah membuka cadarnya… Yang membuat saya membatin: fisik sekali… alasan Fahri menikahi Aisha! Tidak ada diskusi, atau surat2an atau upaya mencari tahu dari pihak lain, yang membuat Fahri mengenal cara pandang, kecerdasan, kelebihan2 lain dari Aisya kecuali beberapa pertemuan singkat yang tidak membahas hal2 yang esensi (Aisya jatuh cinta pada wawasan Fahri, OK lah ada beberapa alasan.. tetapi sebaliknya? Begitu mudah?).

Yang lebih meletihkan adalah adegan yang sebagian besar indoor, yang benar2 membunuh justru kelebihan utama dari novel ini : setting. Sia-sia berharap bisa melihat keindahan sungai Nil, dan Mesir. Sekalinya ada adegan outdoor, jauh dari romantis malah terkesan norak habis, adalah adegan Fahri berboncengan unta dengan Aisha di padang pasir.

Kekacauan logika lain, yang terlihat amat dipaksakan adalah permintaan Aisha agar Fahri menikahi Maria yang terbaring koma. Fahri yang tidak punya pendirian itu pun (utk orang secerdas dan sebagus itu pemahaman islamnya, gitu lho:P) menurut, hanya sedikit menyampaikan bantahan yang tidak meyakinkan. Btw terlihat dari awal pernikahan dengan Aisha di mata saya Fahri terlihat tak ubahnya suami-suami takut istri:P

Dan ajaib, kunjungan sekali Fahri dan pernikahan kilat yang dilakukan ketika Maria sedang koma, pun membangunan Maria dari koma panjangnya.Sungguh luar biasa!

Tentang Aisya : Aisya digambarkan sebagai gadis muslim shalih dengan pemahaman Syaria’at Islam ( Buktinya ketika ditempat umum dan menemui orang yang bukan muhrimnya mengenakan cadar) OK, tapi kenapa ketika menjadi istrinya Fahri sangat tidak tau sopan santun dan adab berbakti kepada suami. Misalnya dengan memanggil Fachri dengan langsung nama “Fachri”. Mengapa Aisya tidak memanggil suaminya dengan kata “ABI’ begitu pula dan Fahri memanggil Aisya dengan Umi

Yang membuat saya geli, ketika adegan di Bus, Maria bertemu dengan Fachri, kemudian membaca QS Maryam. Bukanya cara seperti itu, stylenya anak anak TK di Jawa. Padahal Maria adalah orang yang fasih berbahasa Arab dan Bahasa sehari hari juga adalah bahasa Arab. Dalam bahasa arab perbedaan Mad ( panjang pendek kata ) membedakan arti katanya. Coba cermati apakah Bacaan Maria benar.

Dari segi ploting, banyak adegan yang satu dengan yang lain, sulit diterima kaitan logikanya. Di bagian awal-awal yang tanpa konflik mendapat porsi lebih dari yang seharusnya. Paling tidak sampai menit ke 46. Sementara adegan penting di mana konflik dimulai (tuduhan terhadap Fahri) dan penyelesaiannya kurang mendapat porsi, hingga meninggalkan ketidakjelasan di beberapa bagian.

Menonton AAC memberikan saya penderitaan yang tidak usai. Mungkin karena sosok Fahri yang kurang meyakinkan itu lagi, saya sulit menerima potret perempuan yang ditampilkan. Satu perempuan yang terobsesi dan depresi karena cinta tidak bersambut, okelah. Tapi tiga???

Satu lagi, saya tidak melihat ada penggambaran usaha Fahri mencari nafkah, selain hanya disebutkan dalam kalimat sekilas (Penonton diberitahu, tidak ‘ditunjukkan’ ).

Ketidakterlibatan keluarga Aisha yang kaya ketika Fahri dipenjara, juga sulit diterima, apalagi Fahri terancam hukuman mati. Momen yang rasanya amat membutuhkan dukungan keluarga.

Masalah teknis, editing, dan visual efek, sebenarnya ingin saya komentari lebih, tetapi rasanya tulisan ini sudah cukup panjang.

Terakhir, dengan sebegitu banyak cacat yang membuat film AAC menjadi kisah cinta klise yang membosankan, adakah kebagusan film ini?
Ada, salah satunya soundtrack film.
Apalagi?
Apapun Ayat Ayat Cinta adalah kekayaan khasanah perfileman Indonesia non Pornografi, vandalisme, horor dan Pacaran isme.

4 thoughts on “Ayat ayat cinta, novel, film, kritik

  1. Emang filmnya jauh dari novelnya, gak sebagus novelnya, ganti aja sutradaranya sm ente. dan bikin AAC 2 (Film Revisi). tp I salut, komentar ente nonjok banget : kritis! bagus! gimana ntar film kcb…

  2. komentar anda betul banget…film nya cemen banget…tapi klu novelnya OK bangettttttttt…klu kita udah baca novel aac bakal kecewa waktu nonton filmnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s