Paneeen Paneeen ….

Bulan bulan ini adalah masa (musim) panen di desa ini ….  Yang menjadi catatan adalah meningkatnya panen padi secara umum di desa ini. Pada acara panen raya kalau tidak salah di Desa Wareng dan satu lagi di suatu kecamatan di Semanu, Bapak Suharto – bupati gunungkidul red) ngendika aken bahwa secara umum di kabupaten Gunungkidul panen padi meningkat. Bahkan menurut hitung hitungan Dinas pertanian dengan kenaikan ini diperkirakan terdapat surplus beras untuk Kabupaten ini sebanyak 140 000 ton – luar biasa ya dari suatu kabupaten yang terkenal kurang mampu mencukupi kebutuhan berasnya di tahun tahun sebelumnya

Ternyata bibit padi varietas ciherang yang dibagi bagikan gratis kepada masyarakat petani se Gunungkidul ada manfaatnya

Syukur. Sedikitnya saya ikut bersyukur walaupun sawah simbok saya dan tetangga tidak seberuntung petani padi di desa lain.

Kemudian yang masih menjadi pemikiran Bapak Bupati adalah bagaimana membuat lumbung lumbung beras di gunungkidul, sehingga dimusim paceklik nanti –musim kemarau—kebutuhan beras bisa terpenuhi. Artinya bagaimana kesiapan Bulog untuk meregulasi harga gabah. Apakah bulog telah siap untuk membeli harga gabah dengan harga yang wajar. Kalau saja bulog tidak mampu mungkin petani akan memilih untuk menjual gabahnya ke pedagang atau pengepul dari luar Gunungkidul. Mengingat pada musim panen kali ini secara nasional terjadi penurunan. Setidaknya yang bisa dibaca pada tajuk rencana Kompas hari Rabu, 12 maret 2008 yang lalu.

Tindakan antisipatif seperti ini tentu saja harus dipikirkan mulai sekarang. Selain menjadi tugas pemerintah tentu saja kesadaran masyarakat untuk menjaga kebutuhan beras mereka untuk setidaknya 6 bulan yang akan datang akan membawa dampak yang berbeda.

Saya ingat ketika masih kecil, disetiap rumah atau paling tidak beberapa terdapat dalam setiap dusunya lumbung paceklik –istilah untuk gudang penyimpan bahan makanan yang dipersiapkan untuk musim kemarau panjang (mongso pakeklik) walaupun sepertinya keberadaanya saat ini sudah hilang ditelan bumi. Mungkin saja saat ini masyarakat makin manja atau termanjakan dengan keberadaan program Beras Miskin (RASKIN). Kemandirian mereka yang tumbuh sejak jaman kolonial rupanya telah layu oleh program pemerintah yang kurang komprehensif. Mengapa pemerintah dalam program pengentasan kemiskinanya tidak dipadukan dengan mengedukasi masyarakat untuk menjadi mandiri.

Tindakan antisipatif untuk menjaga ketahanan pangan juga sudah sangat kentara ditunjukan oleh negara negara yang selama ini meng ekspor berasnya ke Indonsia seperti Thailand dan Philipina. Mereka sudah melangkah dengan meninjau ulang ekspor berasnya keluar negeri. Mudah ditebak tujuanya adalah untuk memenuhi ketercukupan beras dalam negeri mereka sendiri.

*****

Kemudian jagung, walaupun produksi jagung tahun ini rata rata tidak sebanyak tahun kemarin, mengingat curah hujan yang kurang bersahabat dengan jagung. Istilah jawanya “kebaceken” terlalu banyak curah hujan. Walapun tetep panen

Harga jual dari petani yang saya amati dari pasar tradisional terdekat adalah sekitar Rp 1400 pernah beberapa hari yang lalu sempat turun sampai angka Rp 1000 / kg nya. Menyedihkan ya. Padahal selama ini pabrikan roti masih mengimpor jagung dari negeri Paman Syam. Dan untuk tahun tahun ini Paman sepertinya juga harus mengurangi jumlah ekspor jagungnya karena jagung akan dialih fungsikan. Harga minyak dunia yang terbang tinggi telah memaksa Paman kita ini untuk memproduksi BIO Karosen – bahan bakar dari tumbuhan, termasuk dari jagung, cassava dan lain lain

Terus mengapa harga jagung dari tingkat petani tidak juga beranjak naik?

Sebagian besar petani desa (petani kita) adalah petani tradisional mereka tidak mempunyai teknologi pasca panen, tidak bisa mengendalikan kualitas jagung mereka, tidak bisa mengukur kadar air ideal pada jagung [Kasian juga ya … salah siapa nih]. Sehingga para tengkulakpun kesulitan untuk menjual jagung jagung ini pada industri yang membutuhkan.

“Selain kualitas yang buruk, mereka tidak menjualnya bersama sama sehingga untuk mendapatkan jagung kering 8  – 10 ton saja kesulitan” ujar salah satu pengepul di pasar desa

Petani tradisional memaksakan diri menjual jagung yang belum sepenuhnya kering dan layak jual. Alasanya klasik ya. Itulah satu satunya yang ia punya yang dapat di uangkan untuk sekedar mencukupi kebutuhan makan atau kebutuhan sekolah anak anaknya. Hm …

Tidak cuman jagung, kedelai, kacang tanah dan lain lain mereka perlakukan dengan serupa, proses asca panen yang kurang maksimal dan …..

   

Satu komentar di “Paneeen Paneeen ….

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan sejak tahun 1969 oleh pemerintah saat itu, karena berdasarkan penelitin tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan tersebut. Hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an. Saat itu Indonesia swasembada pangan.
    Petani kita selanjutnya secara fanatis dan turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK dan pengendali hama kimia saja.
    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita. Mungkin ini walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam teknis budidayanya.
    Petani kita sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan pola tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI SISTEM GABUNGAN POLA SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
    SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
    KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    GUNAKAN PUPUK DAN PENGENDALI HAMA ORGANIK NASA UNTUK TANAM PADI DAN BERBAGAI KOMODITI. HASILNYA TETAP ORGANIK.
    KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA PENGHASILAN PETANI MENINGKAT, RAKYAT MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.
    omyosa, 08159927152
    papa_260001527@yahoo.co.id

Tinggalkan komentar