Pernah ngga suatu kali kita merasa bahwa kita tak dianggap punya kompetensi? Atau malahan dilingkungan anda tidak ada yang pernah meragukan kemampuan anda ( dalam segala bidang ) ?
Kira kira dari asumsi asumsi tersebut enak yang mana ?
Siapa yang pernah mendapati orang orang yang melihat anda sebagai orang yang super smart, dengan kompetensi yang luas. Kemudian orang orang disekitar anda memberikan banyak kepercayaan kepada anda. Menaruh banyak harapan yang berlebihan.
Seneng ya kalau kejadianya demikian? Atau malah senep?
***
Barangkali persepsi yang berlebihan kepada kita ( dari orang lain ) adalah awal dari kekecewaan mereka. Atau malah sebaliknya? Kekecewaan mereka adalah akibat dari perhatian mereka ( dulunya ) kepada kita. Kalau kasusnya demikian boleh jadi kita berhak merasa bangga dengan semakin bertambahnya orang orang yang kecewa dengan kita he he he …
Mereka yang kecewa dengan kita adalah mereka yang perhatian dengan kita!
Mana yang benar ya … ) [ hik hik hik ]
Menurut saya :
Saya lebih suka memposisikan diri saya sebagai ‘pembelajar’ ketimbang ‘orang pintar’. Proses pembelajaran tidak kenal kata akhir, tetapi ‘pintar’ adalah puncak segala usaha yang akan membuat orang merasa tidak perlu belajar lagi! Kalau kita renungkan, hidup ini sejatinya juga sebuah proses pembelajaran. Khatam pembelajarannya adalah ketika kita mengembuskan napas terakhir! Dan saya menerima bahwasanya tidak ada orang yang bodoh. Tuhan mengodratkan semua manusia pintar. Bedanya hanya dua: Ada yang menggunakan kepandaiannya, dan ada yang tidak!
@trimulya : he he he, aku ngga ngira loh kalau kamu sempat berjunjung. ‘n thanks 4 comment. Tulisan tsb sekedar asal bunyi saja. Yang sedang kepikiran waktu itu adalah tentang persepsi seseorang terhadap orang lain hm …
intelligent is relative -albert einstrein