Kamu yang menjadi Imam. Tidak Kamu saja

Di suatu shalat Isya di suatu masjid, hanya ada beberapa pemuda yang bertampang tidak alim. Tidak seperti biasa, jamaah yang lain sepertinya sedang tidak akan  bershalat Isya’ di masjid itu.

Beberapa pemuda itu entah kenapa terus saja ngobrol entah apa yang dibicarakan. Mereka cuek atau memang tidak mendengar kalau di masjid tetangga, Iqamah sudah dikumandangkan. Atau mungkin ada yang mereka tunggu. Mungkin menunggu biar jamaah lain terkumpul agar jamaah lebih banyak. Atau apa?

“Kamu yang jadi imam ya” dari ngobrol tidak karuan mereka, kalimat itu yang agak terdengar.
“Ngga bisa, kamu saja”
“Kamu …”
“Kamu …”

Salah satu pemuda tidak alim itu kemudian menyudahi pertengkaran dan legawa menerima musibah untuk mengimami jamaah isya yang tidak banyak itu.

Shalat Isya berlangsung cepat. Bacaan shalat di baca cepat. Tajwid dan Qalqalah sepertinya bukan isu yang perlu diseriusi malam itu.

Beberapa pemuda itu tanpa banyak apa segera menuju tempat nongkrong di perempatan yang biasanya. Memang itulah rutinitas mereka sehari hari.

Tidak terlalu lama  waktu berselang. Di jalan itu lewat serombongan orang yang sepertinya mirip dengan mereka mereka yang menjadi pemuka dan berjamaah di masjid. Kalau tidak salah loh … Mereka itu dari menunaikan acara kenduri, ‘genduren‘ untuk selamatan bagi orang yang telah meninggal di kampung mereka.

Oh jadi itu sebabnya jamaah pada malam itu tidak biasa!

Keistimewaan JOGJA

Everyday is Sunday in Jogja

Itu. Dulu tertulis di kaos kaos dagadu. Sekitar tahun berapa ya 97 an kali. Everyday is Sunday in Jogja. (Kota) Istimewa. Sangking istimewanya sehingga Setiap Hari adalah Hari Minggu. Luar Biasa ya. Istimewa banget.

Iya memang Keistimewaan (seharusnya) selalu melekat dengan Jogja, dan semua yang ada di Jogja tanpa terkecuali

[ Termasuk aku juga, sangat Istimewa, unik, mbedani dan tidak ada duanya he he he ]

Tetapi mengapa pembahasan tentang keistimewaan Jogja menjadi begitu berlarut larut. Padahal masalah ini sudah ada sejak jaman Orla, Orba, sampai era Mendagrinya Mr Mardiyanto. Masyarakat Jogja termasuk dan tidak terbatas pada Paguyupan Ismawa menuntut untuk segera ditetapkan/disahkanya UU tentang Keistimewaan Jogja. Segera …

“Keistimewaan Jogja harus diposisikan pada tempat yang pas. Dalam konteks penegakan Demokrasi ( dalam hukum legal RI tidak dikenal Gubernur/Presiden Seumur Hidup), keutuhan NKRI dan Pemahaman Kesejaharan D I Y”

[ Omongan siapa ya, WoooOoooW … Lha Embuuuh ]

Yang jelas sebagai warga Ngayogyakarto hadingingrat,

Saya ingin UU Keistimewaan Jogja segera ditetapkan dengan mengacu pada pemahaman Sejarah, Aspirasi Warga Jogja Bukan kepentingan politik praktis partai partai yang oportunis ( — mengingat setahun lagi akan berlangsung pesta Demo Crazy … eh maaf “Demokrasi”) dan Kemaslahatan Bangsa INDONESIA ( dalam konteks penegakan Demokrasi )

Lan dumatheng sedoyo warga Ngayogyakarto, Monggo sami sami mberjuangaken Keistimewaan Jogja, mawi cara cara ingkang “ISTIMEWA”, kanthi adab budaya inggil, sopan santun tata kromo, penggalihan ingkang tepo sarira.

Mugi ingkang mekaten saget dados tepo thulodo tumrap daerah sanes? Ngatonaken budoyo lan peradapan Inggil Ngayogyakarto

[ Nggiiiih Mmmbbaaaah ….]

Bagaimana “Keistimewaan Jogja menurut Anda?”