Review Nike Air Zoom Pegasus 37

Nike Air Zoom Pegasus 37 ini sudah saya miliki selama kurang lebih satu bulan. Saya telah menggunakannya untuk berlari kurang lebih 150 km. Dengan jarak terjauh 28 km.

Kini saatnya untuk menulis review singkat sepatu yang tahun ini kehadirannya saya tunggu-tunggu. Persis seperti ketika saya menunggu setiap edisi baru Pegasus setiap tahunnya.

Saya membeli Pegasus 37 di Nike Store Ambarukmo Plaza. Harga baru sepatu ini Rp 1.799.000,-.

Pada hari pertama hadir di Nike Store Ambarukmo Plaza, sepatu ini tersedia dalam 4 pilihan warna. Warna abu-abu – hijau, warna hitam – hijau, warna hitam – merah, dan satu lagi saya lupa apa warnanya.

Pilihan warna yang cukup melimpah dibandingkan tahun lalu ketika saya membeli Pegasus 36. Saat itu Pegasus 36 hanya tersedia dalam warna Hitam – Putih.

Pilihan saya jatuh pada warna Hitam – Merah. Kenapa saya tidak memilih warna yang lebih mentereng? Karena saya tidak yakin tahun ini akan mampu membeli berapa sepatu lari sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Bila Pegasus 37 merupakan satu-satunya sepatu lari yang saya beli pada masa pandemi yang sulit ini, setidaknya saya sudah membeli sepatu berwarna generik, netral, yang mudah saya padankan dengan apparel – apparel yang sudah saya miliki.

Baca tulisan saya tentang sepatu Pegasus edisi sebelumnya:

  1. Review Pegasus 31
  2. Review Pegasus 32
  3. Review Pegasus 33
  4. Review Pegasus 34
  5. Review Pegasus 36

Aksen warna merah di Pegasus 37 saya rasa sudah cukup membuat sepatu ini tampil stand out. Saya suka pilihan warna merahnya. Mirip salah satu warna laptop Asus VivoBook S14 warna merah, yang oleh Asus disebut berwarna resolute red.

Secara visual sepatu ini memiliki cukup perbedaan dengan generasi Pegasus 37. Di bagian belakang sepatu terdapat elemen digital count down dan logo contreng. Persis apa yang terdapat di Pegasus 35 warna biru yang terinspirasi project Monza.

Untuk logo contreng di bagian sisi sepatu, Nike memberinya warna keemasan. Cukup stand out karena warna emas sepertinya bukan pilihan warna logo para kompetitor brand ini.

Perubahan lain yang paling saya suka adalah dihilangkannya kabel flywire cable / flywire cord.

Sebelum benar-benar menggunakan suatu sepatu untuk berlari, apa yang saya lakukan pertama kali adalah melakukan penyesuaian tali sepatu. Saya perlu melakukan serangkaian percobaan sampai saya mendapatkan tingkat kekencangan tali sepatu yang benar-benar pas. Ini penting karena saya punya pengalaman kurang menyenangkan dengan pengaturan tali sepatu yang berakibat ankle saya sakit.

Pegasus 37 mengadopsi lidah sepatu yang tipis. Mirip dengan lidah Nike Pegasus 36 tetapi berbeda. Bila lidah Pegasus 36 di kaki saya mudah selip dan berpindah posisi, di 37 bentuk lidah telah dibuat irisan diagonal sedemikian rupa sehingga mengunci dengan anatomi kaki sehingga tidak mudah selip. Saya suka modifikasi lidah sepatu di Pegasus 37.

Bagaimana performa Pegasus 37 untuk berlari?

37 menurut saya enak dipakai untuk jogging. Cukup memberikan kenyamanan dan perlindungan ketika digunakan untuk berlari di pace kisaran 6 menit/km.

Dipacu di kisaran pace 5 sepatu ini terasa responsif, bouncy, dan memberikan energy return yang baik. Meski menurut spesifikasi teknis Pegasus 37 hanya memiliki bobot lebih berat belasan gram dibanding 36, namun perbedaan bobot ini cukup terasa di kaki saya.

Pegasus 37 memiliki ground feel yang kurang baik dibanding Pegasus 36 yang menurut saya lebih natural. Perbedaan ground feel ini sangat terasa ketika digunakan untuk berlari di kisaran pace 4.30 menit/km – pace 3.30 menit/km.

Menurut saya, dibandingkan 36, 37 kurang cocok digunakan untuk berlari dengan langkah-langkah pendek. Ketika mencoba berlari pace 6 dengan cadence kurang lebih 175 spm, ankle saya terasa tersiksa. Tetapi dengan pace sama ketika saya menurunkan cadence menjadi antara 165 – 170 spm kaki dan ankle terasa lebih enak. Berlari dengan cadence 175 – 180 spm dengan Pegasus 37 akan terasa nyaman ketika saya berlari di kisaran pace 4 menit/km.

Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh penggunaan Zoom Airbag yang lebih tebal di bagian depan sepatu. Perbedaan yang cukup banyak dibandingkan dengan Pegasus 36 yang mengadopsi full length zoom unit. Pegasus 36 menggunakan zoom unit tunggal yang memanjang dari ujung depan sepatu di bagian fore foot sampai ke belakang di bagian heel.

Nike mempertegas keberadaan zoom unit yang lebih tebal di sisi depan sepatu dengan memberikan logo Air Zoom yang nampak tegas.

Saya belum pernah mencoba 37 untuk berlari di pace lebih cepat dari 3.30 menit/km. Maklum, sepanjang tahun 2020 saya sama sekali tidak pernah berlatih speed.

Experience berlari yang saya tulis di atas adalah ketika sepatu ini saya gunakan berlari di jalan aspal yang datar.

Di jalan aspal yang menanjak menurut saya Pegasus 37 terasa berat. Sepatu ini terasa meredam tolakan sehingga membutuhkan energi lebih untuk menakhlukan tanjakan.

Begitu pula ketika di turunan yang cukup curam, landing dengan Pegasus 37 kurang stabil di kaki saya.

Berlari di permukaan paving atau cor dengan Pegasus 37 terasa lebih nyaman. 37 menurut saya cukup baik meredam benturan kaki dengan beton.

Berlari di permukaan lunak seperti rumput dengan Pegasus 37 cukup menguji stabilitas dan agility. Selain terasa berat, Pegasus 37 juga kurang stabil ketika kaki harus mendarat di permukaan tidak rata seperti gundukan, tanah miring, atau kerikil dan bebatuan.

Di permukaan tanah kering, sepatu ini cukup enak digunakan. Kenyamanan yang diberikan kurang lebih sama dengan ketika sepatu ini digunakan untuk berlari di jalan aspal yang datar.

Bagaimana bila digunakan berlari di lintasan atletik yang berpermukaan tartan atau gravel? Kebetulan saya belum pernah berlatih di stadion. Karakter Pegasus 37 di lintasan kelak akan saya tambahkan sebagai bagian dari review ini.

Hampir lupa saya sebutkan. Penghilangan flywire cord sangat terasa membuat kaki saya lebih rileks. Di Pegasus 37 saya tidak perlu berkompromi dengan melonggarkan tali sepatu untuk membuat kaki saya nyaman.

Bila kita lebih banyak berlatih di jalan aspal yang datar, permukaan tanah, lapangan rumput yang rata dan bersih, dan jalan paving, secara umum menurut saya Nike Air Zoom Pegasus 37 merupakan sepatu yang cocok digunakan sebagai daily trainer.

Konon Nike sudah mengganti midsole sepatu yang sebelumnya mamakai Cushlon Foam dengan React Foam, seharusnya Pegasus 37 akan menjadi sepatu yang cukup awet digunakan untuk latihan.

Potensi keawetan atau durability Nike Air Zoom Pegasus 37 juga nampak dari penggunaan bahan rubber untuk outsole sepatu ini. Outsole mempunyai pattern yang mirip dengan pendahulunya tetapi memang sudah dimodifikasi. Pola outsole seperti ini akan membuat Pegasus 37 mempunyai grip yang baik di berbagai jenis permuakaan dan berbagai perubahan cuaca.

Memperhatikan outsole di bagian heel, rasanya Pegasus 37 memang dirancang untuk lebih berpihak kepada pelari dengan gaya fore atau midfoot strike. Buktinya Nike tidak memberi Pegasus 37 heel crash pad yang sesuai seperti pada generasi Pegasus sebelumnya.

Perhatikan foto berikut:

Sebagai seorang pelari bergaya forefoot strike tentu saya tidak bisa lebih jauh mengomentari kenyamanan landing Pegasus 37 ketika seorang pelari menjatuhkan lebih dulu bagian tumit ke permukaan.

Akhirnya, menurut saya dibawa ke suatu race pun tetap masuk, sepanjang kita berlomba untuk hore-horean dan tidak untuk mengejar PB. Kalau untuk mengejar podium tergantung atlet -nya juga sih. 😀

Banyak kurang di dalam saya menulis sepatah dua patah review ini saya mohon maaf.

Spesifikasi Nike Zoom Pegasus 37

Tech specs Nike Air Zoom Pegasus 37
Weight

Drop

Stack height (heel/toe)

Zoom Air PSI

Midsole foam

Category

Use

8.28 oz (W8), 10.05 oz (M10)

10 mm

24mm/14mm

~15 PSI (W), ~20 PSI (M)

React

Neutral

Everyday training

Nike Zoom Pegasus 36 vs Nike Zoom Pegasus 37

Tech Specs Nike Zoom Pegasus 36 Nike Zoom Pegasus 37
Weight

Drop

Drop (heel/toe)

Midsole foam

Zoom Air

Category

9.58 oz (M10)

10 mm

22mm/12mm

Cushlon

Full Length

Neutral

8.28 oz (W8), 10.05 oz (M10)

10 mm

24mm/14mm

React

Front-foot Only

Neutral

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s