Telemedicine, Solusi Kesehatan Masa Pandemi Covid-19

Kejadian salah obat yang menimpa ayah saya beberapa tahun membuat kami trauma. Betapa tidak ketika pada tengah malam membutuhkan pertolongan cepat di fasilitas layanan kesehatan (faskes) karena diare yang parah, ternyata bagian farmasi/ apotik di faskes tersebut malah memberikan beberapa jenis obat yang salah satunya adalah amboxol (obat batuk). Padahal tidak ada gejala batuk yang menyertai diare yang diderita oleh ayah saya. Peristiwa selengkapnya bisa dibaca di tulisan lama saya di sini.

Semenjak peristiwa tersebut kami semakin berhati – hati dengan setiap layanan kesehatan yang kami gunakan sekaligus membuat kami sadar bahwa kesalahan tak disengaja selalu mungkin terjadi. Di fasilitas layanan kesehatan (faskes) kesalahan tak disengaja itu bisa berupa salah pemberian obat seperti kasus yang saya ceritakan di atas dan kesalahan atau kekurang akuratan diagnosa.

Karenanya setiap kali berobat di faskes, baik itu di dokter praktek, di puskesmas, dan atau di rumah sakit, saya selalu berusaha untuk menjelaskan keluhan kami sedetil – detilnya, mendengarkan dengan cermat pertanyaan dan saran dokter, dan menyimak dengan cermat penjelasan terhadap setiap terapi, jenis dan cara pakai obat yang diresepkan kepada kami.

Tidak berhenti sampai di situ, kehati – hatian saya berlanjut dengan mencari detil dan informasi setiap obat yang kami terima. Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan pencarian data obat di situs – situs terpercaya. Pencarian saya itu meliputi informasi jenis obat, komposisi obat, dosis atau cara pakai obat, kontra indikasi obat, dan efek samping suatu obat.

Suatu saat ketika merasakan gejala demam sudah berlangsung dalam beberapa hari, saya pun segera berobat ke salah satu rumah sakit swasta di kota saya. Setelah melalui pemeriksaan dokter saya diminta untuk menjalani beberapa pengecekan di laboratorium di rumah sakit tersebut untuk kepentingan diagnosa. Berdasarkan pemeriksaan klinis dan hasil tes di laboratorium, dokter menyimpulkan bahwa saya sakit tipes.

Oleh dokter saya diberikan resep yang berisikan beberapa jenis obat. Obat – obatan itu diantaranya adalah: paracetamol, antibiotik, ranitidin, dan omephrazole.

Seperti yang sudah – sudah ketika menerima obat dari faskes manapun saya selalu mencari informasi mendetil tentang jenis obat yang diresepkan agar pengalaman salah obat tidak terulang. Pencarian saya saat itu menemukan bahwa ranitidin dan omephrazole merupakan obat yang berbeda namun mempunyai fungsi yang saya. Fungsi keduanya adalah untuk menekan produksi asam lambung yang bertujuan agar lambung tidak terluka akibat asam lambung yang berlebihan.

Di sini saya mulai bertanya – tanya, jangan – jangan dokter di rumah sakit tersebut salah meresepkan obat, kok bisa – bisanya memberikan dua jenis obat dengan fungsi yang sama sekaligus, jangan – jangan saya over dosis.

Di tengah keragu – raguan dengan obat dan diagnosa yang diberikan dokter saya mulai berpikir tentang pentingnya “second opinion” atau pendapat lain dari dokter yang berbeda sebagai perbandingan. Permasalahannya adalah apabila saya pergi ke rumah sakit atau dokter praktek yang berbeda dalam keadaan badan masih demam saya pikir akan berakibat kurang baik bagi kondisi kesehatan saya.

Beruntung pada saat itu saya sudah mengetahui keberadaan layanan telemedicine yang menyediakan konsultasi secara online. Saat itu adalah untuk pertama kalinya saya meregistrasikan diri ke layanan yang bagi saya sama sekali baru.

Selesai dengan proses registrasi dan memilih dokter yang saya kira sesuai, saya menghubungi dokter tersebut dengan fasilitas chat di platform telemedicine tersebut. Saya kemudian menjelaskan permasalahan dan keluhan saya, mengunggah foto hasil lab dan memberikan informasi obat yang diberikan oleh dokter rumah sakit.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dokter yang saya chat di telemedicine tersebut memberikan sejumlah keterangan kepada saya. Salah satu keterangannya adalah penjelasan tentang kenapa dokter di rumah sakit memberikan ranitidine dan omephrazole sekaligus. Pemberian ranidine dan omephrazole sekaligus adalah lumrah bagi pengobatan sakit tipes karena dengan pemberian keduanya akan lebih efektif menekan produksi asam lambung. Ranitidine dan Omephrazone memang mempunyai tujuan yang sama, namun sebenarnya bekerja dengan cara yang berbeda.

Second opinion yang mengkonfirmasi diagnosa dan resep obat yang diberikan oleh dokter rumah sakit membuat saya lega. Karena saya tahu bahwa saya sudah didiagnosa dan diberikan obat yang tepat.

Menggunakan layanan telemedicine saat itu membuat saya berpikir bahwa layanan ini pada masa depan akan berperan peran vital bagi kesehatan umat manusia. Bukan sekedar untuk mendapatkan second opinion seperti yang saya lakukan melainkan akan menjadi solusi utama dalam banyak masalah kesehatan.

Masa depan itu ternyata datang lebih cepat dari yang saya kira, yaitu ketika wabah coronavirus melanda dunia sejak akhir tahun 2019 lalu. Kini wabah Covid-19 melanda Indonesia yang sudah menyebabkan semua faskes kewalahan, dokter – dokter praktek pun sudah banyak yang tutup dan banyak faskes dan rumah sakit yang membatasi layanan – layanan mereka. Bahkan mengingat besarnya resiko penularan wabah penyakit yang disebabkan oleh virus nCov v2 telah banyak faskes yang menolak seseorang berobat bila sakit yang dideritanya tidak terlalu berbahaya. Sakit yang tidak berbahaya itu misalnya sakit gigi, cidera ringan, gatal – gatal dan sejenisnya.

Di sinilah peran penting telemedicine tersebut. Layanan telemedicine di Indonesia saat ini sudah memungkinkan diagnosa secara online, pembuatan resep secara online, hingga pembelian obat secara online. Dengan demikian seseorangyang sedang sakit bisa berobat di rumah dan tanpa perlu keluar rumah untuk mendapatkan obat yang diresepkan oleh dokter.

Halodoc merupakan salah satu layanan telemedicine di Indonesia. Keberadaannya sejak tahun 2016 sebenarnya telah banyak saya ketahui ketika saya mencari berbagai macam informasi obat, gejala, jenis, dan penanganan suatu penyakit dan sejenisnya.

Untuk mamanfaatkan layanan telemedicine dari Halodoc pun sangatlah mudah. Layanan Halodoc bisa digunakan melalui website atau aplikasi di smartphone. Seseorang tidak perlu melakukan proses registrasi yang berbelit sebelum menggunakan layanan ini. Cukup dengan login dengan memasukkan nomer ponsel dan mengisikan kode OTP yang dikirimkan ke handphone kita lewat SMS.

Setelahnya seseorang bisa memilih dokter sesuai spesialisasi dan kebutuhannya, menghubungi dokter pilihan via fitur chat di platform Halodoc dan mengikuti langkah – langkahnya dengan mudah. Bila perlu melalui aplikasi ini seseorang pasien bisa mendapatkan lebih dari konsultasi seperti membooking fasilitas lab, rumah sakit, dan atau pembelian obat dari apotik.

Nah, bila ketika kita berkunjung ke faskes karena gejala sakit malah berpotensi terpapar resiko yang lebih besar berupa tertular Covid-19, dengan memanfaatkan telemedicine kita bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah. Telemedicine adalah solusi baik pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar sampai nanti ketika kehidupan new normal berlangsung pasca Covid-19.

4 komentar di “Telemedicine, Solusi Kesehatan Masa Pandemi Covid-19

  1. Telemedicine sepertinya akan jadi gaya hidup masa kini. Karena orang pasti butuh cepet dan akurat untuk layanan kesehatan

  2. aku juga suka googling juag ini oabat apa sih, efekknya apa. Bukan sok tahu tapi kita sebagai konsumen juga harus tahu kegunaannya gak cuma minum obat aja ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s