Review Mandiri Jogja Marathon 2019, Lebih Baik Namun Belum Baik

Sebetulnya kali ini saya tidak cukup ‘eligible’ untuk mereview perhelatan marathon Mandiri Jogja Marathon 2019. Karena berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya yang mana saya selalu ikut kategori marathon, kali ini saya turun di kategori half marathon. Jadi dalam tulisan ini saya akan lebih banyak menceritakan tentang pengalaman saya mengikuti event yang selalu dihelat pada bulan April setiap tahunnya ini.

Lomba pada tanggal 28 April 2019 pekan lalu di Mandiri Jogja Marathon 2019 merupakan half marathon kedua saya. Half pertama dimana saya memerawani ketegori lomba ini terjadi pada 3 tahun lalu di Jakarta Marathon 2016. Menuntaskan perlombaan pada pekan lalu membuat saya bisa merasakan perbedaan antara dua half marathon yang pernah saya ikuti.

Pada half marathon pertama, saya merasakan betapa diri ini begitu larut dalam euforia lomba. Berlari sepenuhnya mengandalkan andrenalin tanpa didukung oleh strategi lomba dan program latihan yang terstruktur.

Meskipun sama – sama tidak didukung dengan program latihan yang terstruktur, half marathon kedua bisa saya bawakan dengan rileks. Karena sejak awal saya memang sama sekali tidak membebani lomba kali ini dengan target apapun. Tidak ada misi pemecahan personal best seperti ketika saya mengikuti full marathon di Jakarta Marathon 2017, Jogja Marathon 2018 dan Borobudur Marathon 2019. Keinginan saya sepenuhnya ingin menikmati sepanjang lomba.

Alhasil saya benar – benar bisa menikmati sepanjang perlombaan half marathon kali ini dengan tanpa drama dan tanda cidera. Masih dengan bonus penghiburan berupa kalungan tag potensial winner. Saya pikir tag potential winner ini boleh juga digunakan untuk berfoto-foto narsis. Pada perlombaan half marathon kali ini saya memang tidak mencatatkan waktu sebaik ketika latihan. Namun waktu finish 01:41:08 yang mengantarkan saya menjadi finisher ke 19 tetap lebih baik dibandingkan virgin half saya pada 3 tahun lalu yang mana saya mencatatkan 01:41:53.

Perbaikan waktu 45 detik memang tipis, namun bila dilihat lebih dalam maka perbaikan kemampuan saya akan terlihat. Statistik di Garmin Connect menunjukkan saya bisa berlari cukup stabil dari start sampai finish. Detak jantung saya tergambar cukup stabil berada di rentang Zone 3. Detak jantung saya melampuai Zona 4 hanya terjadi saat saya melakukan finishing kick di 100 meter menuju gerbang finish. Sangat berbeda dengan laku temperamental saya di Jakarta Marathon 2016 dengan detak jantung yang menyentuh skala puncak.

Review Mandiri Jogja Marathon 2019

Tiba di Race Village menjelang pukul 04:00 wib saya mendapatkan gerbang pintu timur sebelah utara sudah dibuka. Saya bisa melanggang masuk melalui pintu ini tanpa harus memutar lewat pintu utara sebagaimana pada Jogja Marathon 2018.

Sambil menyapa beberapa pelari yang saya kenal dari beberapa komunitas, saya langsung menuju tenda mushala untuk mempersiapkan shalat subuh. Tenda mushala kali ini cukup rapi dan di tempat wudhu pun air mengalir lancar tanpa terjadi drama selang air macet seperti  yang terjadi pada tahun lalu.

Proses penitipan drop bag berjalan lancar. Begitu pula toilet, tersedia cukup banyak toilet portable sehingga antrian lebih panjang bisa dicegah.

Pada Mandiri Jogja Marathon 2019 ini terdapat gate untuk mengatur peserta lomba memasuki start area. Saya tidak ingat apakah pada Jogja Marathon 2018 lalu terdapat gate seperti ini. Peserta half marathon tidak serta merta bisa memasuki start area. Prioritas untuk peserta kategori lomba full marathon.

Jarak antara gate dengan start area cukup jauh. Saya dan peserta lomba lainnya berjalan kaki ke sana. Melihat waktu start yang semakin mepet saya pun bergegas dengan berlari-lari kecil. Mengherankannya di depan garis start sudah berjubel peserta half marathon yang bersiap untuk start. Saya tidak tahu apakah mereka masuk melalui gate yang saya lewati atau terdapat gate lain yang lebih dekat dengan start area. Atau mereka menerobos masuk membarengi peserta kategori full marathon.

Sambil sedikit kesal karena jam Garmin tidak kunjung dapat sinyal saya mencoba merangsek sedikit ke depan. Untungnya beberapa detik sebelum bendera start dikibarkan jam FR 35 saya sudah siap digunakan.

Saya memulai berlomba dengan ritual menembus kerumuman pelari. Sekitar 2 km pertama saya zig zag dengan pace 4.35 menit/km. Orang bilang lepas dari mulut harimau terpeleset ke mulut buaya. Kurang lebih begitu yang saya alami. Keluar dari kerumuman peserta lomba half, memasuki km ke-3 saya harus berjibaku menembus kerumuman pelari kategori full marathon. Untungnya di km ke-7 ketika saya berhasil memisah dari rombongan full, saya memasuki rute yang landai dengan jalan aspal yang relatif bagus.

Bila di sepanjang 7 km pertama saya banyak mengabaikan water station, kali ini saya bisa memanfaatkan air mineral mulai dari ws ke-4 di km 8. Menurut saya kualitas water station yang saya temui di sepanjang rute relatif lebih bagus dibanding tahun lalu, kecuali yang tidak berubah adalah minuman isotonik yang digunakan.

Meskipun rute half marathon nampak telah sedikit diubah dibanding rute Jogja Marathon 2018, kualitas rute menurut saya tetap menjadi isu. Jogja Marathon yang sejatinya merupakan lomba lari jalan raya (marathon road race) yang masih terciderai oleh beberapa ruas rute berupa jalan rusak dan jalan paving/cor yang membahayakan. Rute yang tidak memenuhi standar lomba lari jalan raya itu terdapat di km 13 sampai km 18.. Kualitas rute yang belum sepenuhnya baik yang kurang memungkinkan para pelari untuk menampilkan performa terbaiknya.

Sorak sorai dan cheering para spectator di kanan kiri gerbang finish membakar semangat siapa saja untuk melakukan finishing kick. Bahkan saya yang sejak awal sudah meniatkan untuk tidak berniat mengejar PB terbakar untuk melakukan final push. Saat itu saya pikir hitung – hitung untuk mendapatkan foto finish yang bagus. Sayangnya, alih – alih dapat foto finish yang gahar, semua foto finish saya malah blur semua.

Menginjakkan kaki di garis finish pada pukul 06:41 wib saya disambut oleh keceriaan Fira Sasmita yang bertugas sebagai MC. Sambutan hangat yang membuat saya lupa bahwa berlari sepanjang 21k itu cape. Apalagi di balik gerbang saya sudah disambut oleh teman – teman blogger yang sedang melakukan liputan.

Finisher medal diberikan setelah pelari melewati pintu gerbang finish. Medali penamat iberikan begitu saja, masih terbungkus plastik dan tanpa ada acara pengalungan. Saya pun melenggang sambil mengambil sebotol air mineral dan sepotong Fitbar.

Sama seperti pada tahun lalu, Jogja Marathon tahun ini tetap menyediakan refreshment/recovery zone. Ada beberapa fasilitas yang disediakan di sana. Mulai dari layanan fisio terapi, ice bath dan lain – lain. Bersama beberapa kawan pelari yang finish lebih dulu saya pun melepas lelah sambil bercengkrama dan menikmati ice bath yang masih bersih.

Mandiri Jogja Marathon merupakan salah satu dari sedikit perlombaan yang memberikan finisher tee bagi penamat kategori half. Finisher tee dengan kualitas dan desain seadanya namun saya pikir cukup lumayan sebagai penghiburan.

Keluar dari refreshment zone/recovery zone dan beres mengambil finisher tee saya langsung menuju drop bag, mengambil tas, dan membuang muatan di toilet. Saya pun segera bergabung dengan teman – teman saya dari Gunungkidul Runners. Kami pun menuju ke beberapa spot foto sebagai bagian kami merayakan lomba kali ini. Lomba dimana anak – anak di komunitas kami berhasil menyabet podium 2 di kategori 5k, podium 3 di kategori 10k dan podium 3 di kategori half marathon.

Bagi banyak pelari, medali penamat masih menjadi kebanggaan dan selalu menjadi obyek foto wajib. Sayangnya kualitas finisheer medal Jogja Marathon 2019 kali ini terlalu biasa. Bahkan bisa dibilang lebih buruk dibanding medali penamat pada Mandiri Jogja Marathon 2018 dan Mandiri Jogja Marathon 2017.

Bagi kami apa yang cukup membuat kecewa dari Mandiri Jogja Marathon 2019 adalah race result terutama di kategori Half Marathon. Race Result yang disajikan ngawur, tidak akurat. Bahkan pelari yang berada di depan bisa jadi diberi timing yang lebih buruk dibanding pelari di belakangnya.

Contohnya adalah Taufik Oktavian yang berhasil finish jauh di depan saya tetapi diberi timing yang lebih lambat dari saya. Taufik Oktavian berhasi finish HM dengan waktu 1.37, kenyataannya di race result ia diberi timing 1.42.24. Sedangkan saya diberi timing 1.42.11. Kalau saya sebenarnya hanya dikasih bonus sedikit, dari seharusnya 1.41.08. Dugaan saya ini terjadi karena RFid reader milik Jogja Maraton failed dan timing ini dibuat secara manual dan dikarang-karang saja.

***

Terlepas dari masih banyak kekurangan di sana sini, penyelenggaraan Mandiri Jogja Marathon 2019 relatif sudah mendapatkan perbaikan dibanding penyelenggaraan Mandiri Jogja Marathon sebelumnya. Perbaikan itu bisa kita lihat dari website yang berusaha dipercantik, domain name pun diubah menjadi mandirimarathon.com, race village yang lebih tertata, water station yang lebih baik, rute yang berusaha diubah untuk mengurangi elevasi, marshall yang bekerja lebih baik dalam mengatur jalur lomba, water sprinkle dan sponge yang lebih baik sampai pemasangan pagar barikade di area finish.

Ruang – ruang yang perlu diperbaiki bila ingin menyelenggarakan Mandiri Jogja Marathon 2020 yang lebih baik masih sangat terbuka.

Perbaikan itu bisa mulai dari registrasi yang lebih jujur. Jangan membohongi khalayak dengan indikator “waiting list”, padahal setelah dicek jumlah pendaftar kategori tersebut masih sedikit. Saya pernah mengecek ketika pendaftaran menunjukkan waiting list jumlah peserta hanya berkisar 200 an peserta, setelah tanda waiting list berganti pendaftaran tersedia kembali ternyata penambahan peserta hanya dalam hitungan jari. Bahkan saya lihat daftar peserta full marathon hanya sekitar 200 an ketika pendaftaran dinyatakan ditutup. Tak ayal minat pelari untuk mengikuti Mandiri Jogja Marathon pun jauh lebih sedikit dibanding yang digembar gemborkan sebanyak 7.500 peserta. Lihat data tersebut di race result.

Memperbaiki kualitas rute merupakan PR besar yang harus diselesaikan. Bila ingin meningkatkan kualitas lomba, mau tidak mau semua ruas jalan harus diperbaiki dengan aspal kualitas baik.

Harus diakui bahwa kebanyakan pelari rekreasional banyak menuntut foto lomba. Mereka mengharapkan foto dirinya yang bagus dan mudah ditemukan. Sudah seharusnya Jogja Marathon menggandeng provider photo delivery seperti Pic2Go dan sebagainya. Bila lomba lomba yang lebih kecil sudah bisa kenapa Jogja Marathon tidak.

Timing atau pencatatan waktu lomba. Untuk apa kita berlari bila hasilnya tidak tercatat secara akurat. Memang hampir semua pelari menggunakan gear untuk personal tracking. Kenyataannya para pelari seperti kami membutuhkan official race result yang eligible untuk membangun portofolio berlari. Khusus untuk kategori Half Marathon saya banyak melihat pelari yang finish sebelum pukul 06.45 wib rata-rata diberi timing 5 menit lebih lambat. Semoga tim timing tahu bahwa menciptakan Personal Best sebanyak 5 menit itu sangat susah.

Finisher Medal, Race Jersey dan Finisher Tee. Satu kata, bikin desain yang baik dan eksekusi dengan bahan dan kualitas yang bagus. Masa iya 3 tahun lomba diselenggarakan kualitas Race Jersey dan Finisher Tee begitu – begitu saja.

Race MC. Setelah selesai menunaikan ibadah half marathon dengan segala ritualnya saya pun menuju area finish untuk menyemangati teman-teman saya yang menempuh lomba full marathon. Ada sesuatu yang mengganjal di hati. Itu saya lihat sekitar pukul 10 pagi. Saya melihat pelari – pelari full marathon memasuki garis finish tanpa sambutan memadai, tanpa cukup spectator dan tidak ada  seorang MC yang menyambut. Padahal mereka sedang butuh butuhnya diberi semangat.

***

Semoga tahun depan Mandiri Jogja Marathon 2020 lebih baik. Rencananya saya akan turun di kategori 10K.

One thought on “Review Mandiri Jogja Marathon 2019, Lebih Baik Namun Belum Baik

  1. mantap mas.. lengkap dan hampir sama unek-uneknya.. mungkin kalau tulisan saya lebih ke curhat pribadi selama lari.. hahaha..
    kalau desain medali sebenernya sih sudah bagus, tapi memang tidak se wah tahun lalu.. untuk kaos penamat desainnya agak terlalu rame sih menurut saya..
    jujur kalau tentang foto saya kecewa berat.. udah seneng-seneng lompat pas liat banyak potograper di garis finish, eh gataunya cuma ada foto pas hampir mendarat.. itupun jam di gapura tidak terlihat.. padahal niatnya biar dapet itu.. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s