Pernah Bersinggungan dengan NII di Gunungkidul

NII (Negara Islam Indonesia) hingga hari ini masih terasa menjadi berita heboh di koran – koran. Di koran yang ada di warung Soto dimana saya sarapan tadi juga ada berita NII -nya. Kemarin sore saya juga melihat di Metro TV, Al Chaedar yang diwawancari sebagai nara sumber tentang NII.

Pertanyaannya:  Kenapa NII bisa berlama – lama menjadi heboh berita nasional? Seberapa bahayakah NII sampai perlu beritanya diangkat tinggi – tinggi hingga seolah olah menenggelamkan kabar permasalahan – permasalahan lain di negeri ini. Kemana berita pembangunan gedung baru DPR, politisi korup, skandal perbankan, dll

Kalaupun NII sangat berbahaya, kenapa tidak diselesaikan sejak dari dulu. Bukankah NII sudah ada di Indonesia dan jadi permasalahan sejak lama. Saya pernah secara kebetulan bersinggungan dan sedikit mencari tahu. Hingga akhirnya tidak terlalu banyak tahu 😀

Ceritanya begini. Pada sekitar tahun 1999. Ketika saya menjadi Ketua Karang Taruna di kampung dimana saya tinggal. Biasanya pemuda pemudi/remaja masjid tiap hari minggu pagi ada kerja bakti. Pernah saya merasa jengkel pada dua orang remaja putri yang mulai sering ijin meninggalkan kerja bakti. Alasannya untuk mengikuti pengajian. Saya penasaran. Pengajian apaan sih.

Beberapa kali saya tanya tetapi mereka tidak memberi penjelasan memuaskan. Setelah beberapa kali saya desak dengan penasaran, salah satu remaja putri itu mengajak saya ke pengajian mereka. Saya pun datang. Tempat pengajiannya di Siyono. Saya lupa persisnya. Maklum sudah sepuluh tahun lebih. Tapi kira – kira di sebelah selatan bekas Pasar Hewan Siyono.

Di sana saya ditemui beberapa pria. Kalau dilihat tampangnya masih lumyan muda. Kira – kira selisih beberapa tahun di atas saya. Salah satu pemuda itu berambut gondrong. Kalau tidak salah mereka memperkenalkan diri dengan nama – nama Hijrah. Nama – nama yang sudah digantikan ketika mereka bergabung/menjadi anggota kelompok pengajian itu. Mereka tidak ada yang mau memperkenalkan nama asli.

Namanya Said, lupa nama lengkapnya, yang membawa saya masuk ke ruangan sendirian. Said itu sambil membuka Al Qur’an terjemahan dan menjelaskan beberapa ayat ke saya. Saya sudah lupa ayat – ayat apa saja atau ayat dari Surat apa, karena menjelaskannya lompat – lompat dari surat yang satu ke surat yang lain.

Sedikit yang saya ingat hanya orang bernama Said itu agak naik temperamennya karena saya balik cecar dengan pertanyaan – pertanyaan. Ya! Pembawaan saya yang “muda” pada saat itu memang selalu mempertanyakan apa apa yang ingin saya ketahui. Dia menjanjikan kepada saya akan mempertemukan dengan seseorang yang “lebih tinggi”, entah apa maksudnya, agar saya bisa mendapatkan jawaban yang lebih memuaskan. Sayang karena saat itu saya sok sibuk jadinya kelupaan tidak datang pada waktu yang dijanjikan oleh Said.

Hari – hari setelah saya mengingkari janji dengan Said dan saya tidak pernah datang lagi ke pengajian mereka nampaknya telah mempengaruhi hubungan baik saya dengan dua orang remaja putri di kampung dimana saya tinggal. Kedua kawan putri itu jadi seolah menjaga jarak dengan saya. Entah apakah itu karena perintah dari Said dan kawan – kawan.

Entah sampai berapa lama beberapa remaja putri di desa saya itu ikut pengajian yang belakangan saya ketahui sebagai kelompok NII itu. Apakah sampai sekarang mereka masih ikut. Mudah – mudahan tidak. Saya pun ingat peristiwa itu baru sekarang saja karena kehebohan berita tentang NII.

One thought on “Pernah Bersinggungan dengan NII di Gunungkidul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s