Review Film : Emak Ingin Naik Haji

Posted with WordPress for BlackBerry.

Layar dibuka dengan close up sebatang kuas bergerak – gerak melukis Ka’bah. Zein, diperankan oleh Reza Rahardian, sedang melukis Ka’bah. Melukis mimpi Emaknya. (diperankan oleh Aty Kanser) Melukiskan film Emak Ingin Naik Haji. Jreng – jreng lagu: Cerita Untuk Orang Yang Lupa – Iwan Abdurrahman mengalun.Alur film terbagi menjadi tiga:

Adalah kehidupan seorang Emak muslimah kurang mampu yang sabar, qana’ah, ikhlas, berprofesi penjual kue tingkat RT yang ingin menyempurnakan agamanya, naik haji. Emak hidup serumah dengan seorang putra yang tinggal satu – satunya –suami dan anak sulung emak telah meninggal dalam suatu kecelakaan perahu– yang sehari – hari menjual karya lukisnya. Emak dan Zein diceritakan sebagai sosok bertahan melawan ombak yang menerjang hidup mereka. Ini adalah alur utama dalam film ini.

Alur kedua, keluarga tajir Haji Saun yang sudah 9 kali umrah sekeluarga, sedangkan pada alur ketiga dipertontonkan bahwa berhaji itu bukanlah peristiwa sakral yang tidak lebih hanya demi sebuah gelar. Joko Satrianto, seorang pengusaha yang memerlukan gelar Haji untuk mendukung ambisinya merebut simpati pemilih muslim dalam memperebutkan kursi walikota.

Ketiga alur ini dipertemukan oleh “peristiwa serba kebetulan”. Kebetulan rumah emak bertetangga dengan keluarga Haji Sa’un. Kebetulan Zein tertimpa kecelakaan akibat Joko mengendarai mobil sambil bertengkar dengan istrinya. Saya tidak merasakan kreatifitas dalam penulisan skenario Emak Ingin Naik Haji. Saya tidak puas mengetahui pada akhir film Emak bisa berhaji hanya karena sebuah “kebetulan”. Kebetulan Aisyah, anak Haji Sa’un ber-nazar bila ia melahirkan dengan selamat maka ia akan menghadiahi Emak,haji. Memang Aisyah pernah menceritakan masa kecilnya yang merasa enak curhat ke Emak. Haji Sa’un pun kemudian menghajikan Zein secara cuma – cuma tanpa kenapa yang jelas. Seolah – oleh film ini mengajarkan bahwa proses dan perencanaan itu tidak penting. Usaha emak menabung Haji sampai mencapai lima juta tidak kuasa melawan kenyataan nasib.

Tangga demi tangga berjatuhan saling menimpa keluarga Emak adalah lagu lama yang dijadikan langganan untuk mendramatisasi sebuah kisah penderitaan. Tetapi kemampuan Aty Kanser membawa lakon Emak menjadikan saya turut merasakan arti sebuah ketulusan dan watak qanaah. Reza Rahardian sendiri, walaupun bakat aktingnya kurang terasa tereksploitasi, namun cukup untuk memperkuat pembawaan Emak. Nah Didi Pethet “Haji Sa’un” ini, memang selalu bisa membuat tepi – tepi bibir saya berkernyit. Joko Satrianto dan orang – orangnya diperankan sangat buruk.

Emak ingin naik Haji sebenarnya akan tampak lebih bersih tanpa Alur “Haji Gelar Semata”. Saya mengerti pembuat film ini ingin menyuguhkan tontonan yang bukan hanya dikotomi kaya – miskin, melainkan memperkayanya dengan tren sosial. Sayangnya kritik sosial ini disisipkan secara serampangan.

Ada banyak ide yang bisa dikembangkan dalam film ini. Ada banyak iktikad baik. Potret Sosial. Beberapa hal yang terasa mengganjal di mata penonton menurut saya, utamanya ada pada masalah kreatifitas penulisan skenario saja.

Apabila anda ingin merasakan ketulusan, keikhlasan, sifat qanaah, kekuatan berbagi dan “mendengarkan” dan mimpi seorang Emak, Zein yang muda yang berbakti pada Emak-nya, ini adalah Film untuk Anda.

8 thoughts on “Review Film : Emak Ingin Naik Haji

  1. Salam,

    Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas review dan kritikan terhadap film Emak Ingin Naik Haji.

    Biasanya saya searching ttg film terbaru sy “Rumah Tanpa Jendela”.

    “Kebetulan” iseng saya searching EINH di twiiter dan “kebetulan” menemukan blog anda ini. “Kebetulan” saya yang menulis skenarionya bersama Aditya Gumay.

    “Kebetulan” juga cerpen EINH ini kami temukan secara tidak sengaja dari majalah Noor terbitan lama (2007) dan setelah 8 bln mencari penulis cerpennya (Asma Nadia), kami akhirnya bertemu.

    “Kebetulan” seorang teman kami (Producer Mizan) “kebetulan” punya HPnya Asma Nadia yg “kebetulan” langsung mengizinkan kami mengangkat cerpennya ke layar lebar.

    Shooting baru setengah jalan dan kami kehabisan dana (kebetulan kami pakai dana pribadi/tanpa sponsor), Producer Mizan yg memberi no Hp Asma Nadia “kebetulan” menelpon kami krn beliau “kebetulan” melihat berita ttg film EINH yg “kebetulan” dimuat 1 halaman full di Koran Republika.

    Kami ceritakan kami kekurangan dana, dan Alhamdulillah “kebetulan” beliau mau membiayai film EINH hingga rampung dan “kebetulan” bisa anda tonton.

    Bukankah hidup ini adalah kumpulan peristiwa kebetulan yang telah diatur oleh Nya? Dan itu semua adalah Skenarionya Allah SWT.

    Oh ya, “kebetulan” juga Skenario film EINH masuk Nominasi FFI 2009 dan FFB 2010. Walau pun belum menang tp sy sdh bersyukur alhamdulillah. Mungkin skenario saya berikutnya bisa lebih baik karena kritikan dan masukan dari anda sehingga jadi tidak kebetulan jika menang di berbagai Festival.

    Wassalam,
    peace

    Adenin Adlan

    • dan “kebetulan” medapatkan Aty Kanser dengan akting luar biasa, hehehe

      Terimakasih Mas Ade. Saya tidak terlalu mengira Review Film yang release 2 tahun yang lalu, Emak Ingin Naik Haji, di blog yang tidak berpengunjung banyak ini bisa anda temukan dengan bantuan twitter search.

      Bukannya saya tidak percaya akan peran “keberuntungan” dan “kebetulan” dalam kehidupan manusia. Peristiwa kebetulan itu selalu ada. Itu Benar. Peristiwa kebetulan ini tidak banyak. Itu Benar.

      Saya suka ide tentang “keberuntungan” yang dibawa film Match Point. Kalau tidak salah disutradarai oleh Woody Allen.

      Mengapa saya tidak suka dengan “kebetulan” yang anda bawa pada diri Emak Ingin Naik Haji?

      Apa yang bisa ditiru dan hikmah yg bisa dipelajari dari peristiwa kebetulan.

      Saya sendiri yg miskin dan sampai saat ini tinggal di lingkungan kurang beruntung, sangat tidak setuju dikotomi miskin – kaya yg terus – terusan dieksploitasi, seolah olah orang miskin tidak bisa mengentaskan diri tanpa bantuan si kaya dan atau keberuntungan. Seolah olah impian orang miskin hanya bisa diraih dengan peristiwa kebetulan menang lotre/undian.

      Ini memang tidak lepas dari harapan saya akan sebuah film edukatif.

      Mengharapkan keberuntungan jatuh dari langit adl tipikal orang – orang kurang beruntung. Dgn edukasi -lah saya berharap mentalitas spt ini sedikit demi sedikit terkikis. Tidak malah mengenyahkan proses dgn mengajari “orang kurang beruntung” bahwa tabungan Emak tidak berdaya dihadapan takdir kehidupan.

      Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang “berusaha” mengubahnya. Termasuk Allah tidak akan sering2 memberikan “kebetulan/keberuntungan” cuma – cuma tanpa kenapa yang jelas. Hukum sebab akibat adl sunnatullah.

      Mas Ade 🙂 tetaplah makin baik berkarya memajukan perfilman Indonesia. Saya menunggu kabar baik kemenangan anda di berbagai festival film. Tentu saja kemenangan yg diperjuangkan bukan piagam hadiah dari kebetulan.

      Salam
      Jarwadi
      A computer geek not a film Critics living in peaceful land known as Gunungkidul – Yogyakarta

  2. Kebetulan tadi cek FB trus baca link resensi ini, gak tahan buat baca hehe….Mantab nih tulisan bisa menarik Mas Ade buat komentar.Resensi yang objektif.Resensi yg sy buat dulu terlalu subjektif karena sy terlanjur suka. Kalau suka itu yg kelihatan adalah hal-hal baiknya :).Mungkin krn film ini diawali dr kejadian yg kebetulan jadilah film-nya serba kebetulan :D. padahal Bunda Asma sendiri tidak menyukai sinetron yang serba kebetulan.

    • film ini memang tidak boleh dibilang jelek, sayang dong kalau cinematography yang bagus dan Emak yang memukau tidak dinikmati.

      Bunda Nadya Benar:

      Cerpen dan Novel yang ditulis bunda Nadya tidak akan pernah enak dibaca bila tidak dibangun dengan logika yg rapi dan hanya serba kebetulan. Dalam Novel Cerpen, Aty Kanser, Kak Reza, dan cinematography dan musik tidak pernah datang membantu. 😀 Jangan – jangan memanfaatkan kebetulan dalam merangkai cerita itu karena kemalasan kita menggunakan logika. Banyak hal yang nampak tidak berhubungan, tapi bisa ditarik benang merahnya.

      Kalau saya tanya Mimin: Apa hubungan antara banjir di Australia dengan frekuensi mati listrik di Indonesia, apa jawabnya?

      Salam

  3. Semoga film indonesia semakin hari semakin berkualitas …. dan tentunya menarik untuk dinikmati, karena kadang banyak film berkualitas tapi tidak bisa dinikmati semua orang dengan berbagai alasan.

  4. Semoga semakin hari film Indonesia semakin berkualitas dan bisa dinikmati semua orang, karena banyak film berkualitas yg tidak bisa dinikmati semua orang (tidak laku di pasaran) karena berbagai alasan. Selamat berkarya sineas-sineas Indonesia!!!

Tinggalkan Balasan ke jarwadi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s