Lebaran, Malah Jadi Masalah Kesehatan

Lebaran, berlebaran memang sebuah kearifan lokal (tradisi Indonesia) yang membawa tantangan tersendiri. Tradisi Lebaran dan Syawalan telah menjadi tantangan untuk melaksanakan puasa sunnah Syawal. Saya pernah menceritakannya dua tahun yang lalu di sini. Sekaligus menantang pola hidup sehat yang kita inginkan.

Ini sebenarnya terlalu pribadi dan masalah pribadi saya. Bagi Anda yang lebih disiplin dibanding saya tentu tidak masalah.

Saya sendiri langsung mengalami gangguan kesehatan seketika pada hari pertama lebaran. Asam lambung saya meningkat. Perut saya sakit. Gara-gara apalagi kalau bukan kecerobohan saya menuruti selera lidah. Beberapa hari berikutnya, menyusul masalah pencernaan adalah radang tenggorokan. Hewduh. :D Masih disebabkan hal yang sama, makanan. Lebaran membuat seolah ngemil aneka gorengan, makanan berlemak, camilan serba manis dan cokelat menjadi halal. Memang halal ya, tidak haram, hanya mungkin kurang Thoyibah. hehe

Untungnya hari ini kesehatan saya sudah mulai membaik. Indikatornya saya sudah bisa menulis blog lagi. Saya bisa memulai aktifitas sehari-hari sebagaimana mestinya.

Tantangannya bagaimana meneruskan disiplin dan hal baik yang dengan mudah bisa dilaksanakan selama Ramadhan di hari-hari pada bulan-bulan berikutnya. Yang sekarang saya rasakan sangat tidak mudah.

Semalam saya berniat untuk bangun dini hari untuk ber-shalat Tahajud. Benar saya bisa bangun. Hanya untuk mematikan alarm dan tidak jadi shalat, melainkan tidur lagi. :( Puasa sunnah Syawal juga belum saya mulai. Niat saya baru akan saya mulai pekan depan. Setelah hajatan di tempat saudara selesai. Tantangan kali ini bertambah lagi. Bukan hanya acara Syawalan tetapi juga hajatan. :D

Menonton Upacara 17 -an

Upacara 17 Agustus 2012 di Kecamatan Playen

Upacara 17 Agustus 2012 di Kecamatan Playen

Untuk ketiga kalinya kemarin saya menonton Upacara 17 Agustus -an yang dilaksanakan bertepatan dengan bulan Ramadhan sekaligus bertepatan dengan musim kemarau yang kering dan panas.

Upacaranya sendiri berlangsung lancar. Hanya saja kelihatan kurang khitmad dan tertib. Barisan kurang terlihat tegap dan rapi. Tidak mudah melaksanakan Upacara Bendera di lapangan di tengah lapangan terbuka di bawah terik matahari yang mana sebagian besar peserta upacara merupakan siswa-siswa yang kebanyakan juga sedang menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Peserta upacara dari kelompok masyarakat umum pun tidak ubahnya seperti siswa-siswi itu.

Tidak banyak kemeriahan sepanjang peringatan tahun (tahun) ini.

Saya jadi membayangkan, betapa penuh perjuangan dan dedikasinya para founding father dan pahlawan pejuang kemerdekaan yang mempersiapkan kemerdekaan kita 67 tahun yang silam yang juga dilaksanakan bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sekaligus berhadapan dengan ancaman Jepang dan Belanda. :)

 

 

Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Iedul Fitri 1432 H

Alhamdulillah, pagi ini kami, warga Desa Grogol telah menyelenggarakan shalat Iedul Fitri di bawah cuaca yang sangat bagus, khusuk sekaligus meriah. Hanya ucapan Mohon Maaf Lahir Batin yang bisa saya tuliskan dan foto – foto yang dapat saya bagikan. Untuk foto – foto lebih banyak, silakan click thumb nail di atas.

Preview nya satu foto saja ya, hehe

Dari Iedul Fitri 1432 H

Kapan Hari Raya Iedul Fitri Pada Tahun 2011

Sebagai orang awam yang tidak tahu apa – apa tentang penentuan awal dan akhir Ramadhan, saya selalu kebingungan mendengar dan membaca pendapat – pendapat yang hampir tiap tahun bersikukuh dengan dalil masing – masing. Termasuk perbedaan kapan Iedul Fitri jatuh di Indonesia pada tahun 2011 kali ini. Apakah akan dijatuhkan pada tanggal 30 Agustus 2011 atau pada tanggi 31.

Dalam tulisan ini saya menggunakan patokan Masehi karena bisa jadi ada yang tidak sepakat kalau sekarang adalah tahun 1432 Hijriyah. Hehehe.

Bagi saya, kalau ditanya kapan akan ber-shalat Ied, jawaban saya sederhana. Tergantung kapan di lapangan di desa dimana saya tinggal menyelenggarakan shalat Ied. Untuk sementara saya melupakan Indonesia.

Sepanjang yang saya ingat, di desa dimana saya tinggal belum pernah menyelenggarakan baik shalat Iedul Fitri atau Iedul Adha sebanyak lebih dari satu kali. Bagi saya, bila saya tidak sepakat dengan hari kapan shalat Ied dilaksanakan di desa dimana saya tinggal, kemudian saya mengajak orang – orang menyelenggarakan shalat Ied pada hari yang saya anut, itu tidak akan lebih maslahat. Malah – malah menambah mudharat baru.

Tidak kalah pentingnya, saya menghormati siapapun yang menyelenggarakan Shalat Ied dengan keyakinan pada hari apapun. Saya tidak pernah menganggap penyelenggaran Shalat Ied di desa dimana saya tinggallah dilaksanakan pada hari dan tata cara yang paling benar.

Tadi saya membaca pendapat di link ini yang menuliskan bahwa bila shalat Ied diselenggarakan secara seragam oleh lebih banyak orang akan lebih baik untuk syiar Islam, maka pendapat saya adalah meskipun Shalat Ied dilaksanakan dengan penuh keyakinan dan kekhusukan pada hari yang berbeda – beda tetapi di antara sesama umat bisa saling berdampingan, rukun, dan saling menghormati  perbedaan itu adalah bentuk syiar yang amat sangat bagus.

Asal dilaksanakan dengan penuh keyakinan, menurut saya, penyelenggaraan shalat Ied di desa saya tidak perlu disamakan dengan apa yang diselenggarakan di desa tetangga. Dan tidak perlu menganggap hari dan tata cara shalat Ied di desa dimana saya tinggal lebih benar dari desa – desa sekitar.

Apa jelek misalnya ada warga di desa saya yang mudik dari Jakarta dan terjebak macet sehingga terlambat shalat Ied di lapangan desa kemudian ikut melaksanakan shalat Ied di desa tetangga yang kebetulan pada lebaran kali ini diselenggarakan pada hari setelah desa saya menyelenggarakan. Dan sebaliknya, bila kebetulan di desa dimana saya tinggal menyelenggarakan belakangan. :D

Saya menyicil mengucapkan Salam Iedul Fitri dari desa yang sedang dilanda kekeringan rutin musim kemarau. :)

Rebutan Sembako

Melihat di beberapa daerah banyak orang berebut sembako sumbangan yang ditayangkan berturut – turut pada beberapa hari terakhir dalam acara berita di televisi, simbok saya jadi terheran-heran sekaligus prihatin. Orang susah ternyata ada dimana – mana. Ada banyak orang yang lebih susah dibandingkan keluarga kami di desa yang hidup pas-pasan.

Saya bertanya pada simbok, apakah bila di balai desa kita ada pembagian sembako, simbok juga akan datang mengantri untuk mendapatkan sembako gratis/murah. Apakah kira-kira para tetangga kita akan berbondong-bondong ke balai desa untuk mengantri untuk mendapatkan sembako gratis/murah?

Berbagi, apalagi itu dilakukan di bulan Ramadhan memang amaliyah mulia. Wujud peri kemanusiaan kita. Tetapi kenapa kita tidak memanfaatkan cara-cara berbagi yang moderen seperti penyelenggara LAZIS dan sejenisnya agar apa yang kita bagikan lebih memberi kontribusi bagi kemaslahatan.

Siapapun tidak ingin menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan pameran kemiskinan bangsa. Saya kira …

 

Menunggu Bedug Buka Puasa

Bedug berbuka puasa masih lama. Baru beberapa adzan Ashar berkumandang. Bagi saya usia Sekolah Dasar sudah berulang kali melihat jam dinding di rumah Pakdhe . Untuk hitungan menit lagi tidak jarang saya balik ke rumah Pakdhe untuk menjenguk jam yang sama. Maklum pada waktu itu di rumah kami tidak ada jam.

Jam adalah barang mahal. Sementara menit demi menit terasa melimpah. Begitu kata batin saya kecil. Sebelum “inflasi” yang terjadi dalam rentang 20 tahun kemudian. Dimana kini tiap menit yang dulu bingung akan dihabiskan untuk apa? :D

Oh iya, dulu, di kampung dimana saya tinggal, indikator utama waktu berbuka puasa adalah bunyi “ngiiiiing” alarm dari Toa – Toa yang ada di Masjid Masjid yang me-relay sebuat stasiun radio MW (medium wave) lokal. Radio yang jadi andalan pada waktu itu adalah radio GCD yang merupakan satu – satunya radio di Gunungkidul. he he he

Allahomma laka sumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin. Zahabaz zama’u wab tal latil ‘u ruu qu wa sa batal ajru InsyaAllah

“Ya Allah bagi Engkau aku berpuasa dan dengan Engkau aku beriman dan dengan rezeki Engkau aku berbuka dengan rahmat Engkau wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang. Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat dan telah tetap pahala, insya Allah.”

Eh, masih lama ya … :)

 

Buat Sendiri Jus Jambu

Home made Guava Juice

Home made Guava Juice

Ini adalah Jus Jambu yang  pertama yang saya buat sendiri. Saya memang sangat suka meminum jus jambu biji merah yang dari warna yang terlihat saja sudah kelihatan menyegarkan. Tapi biasanya saya membeli jus jambu dalam kemasan seperti Buavita. Atau membeli di toko – toko penjual jus buah.

Hasrat saya untuk membuat sendiri Jus Jambu ini berawal dari melihat buah jambu – jambu biji di kebun tetangga yang terlihat ranum mempesona. Tanpa rasa malu sedikitpun saya meminta kepada tuan kebun untuk memetik sendiri Jambu biji itu langsung dari pohon. Memetik jambu di ketinggian pohon adalah perbuatan yang aduhay :D Saya turun setelah membawa satu tas kresek jambu biji untuk kemudian bergegas pulang.

White Guava

White Guava

Apes. Ternyata satu kantong kresek jambu biji yang saya pulang bukanlah jambu biji merah yang biasanya dibuat jus. Petikan saya adalah Jambu Biji Putih.

Pada hari berikutnya, saya ke toko buah untuk membeli jambu biji merah. Cukup murah. Rp 5.000,-/kg. Hampir sama denagn harga satu kemasan Buavita. Rencananya, sore ini saya masih akan membuat jus jambu biji lagi untuk berbuka puasa dengan jambu – jambu sisa kemarin sore. Jus berbahan setengah kilo gram jambu biji saja ternyata sudah lebih dari cukup untuk diminum bertiga di keluarga saya … :D

PS :

Jangan mengritik gelas yang saya gunakan. Saya menikmati Jus Jambu Biji Merah. Bukan menikmati gelasnya … :D

Memotret Bulan

Saya memotret bulan ini pada dua petang yang lalu. Saya memotretnya bukan dengan Camera Digital seperti biasa. Saya memotretnya dengan Handycam yang mempunyai fitur untuk mengambil still image. Karena pada Handycam ini mempunyai optical zoom lens sebesar 60x. Jauh lebih besar dari Camera Digital pocket entry level yang kebanyakan hanya mempunyai optical zoom lens 3 – 8x.

Petang ini bulan juga kelihatan sangat keren, tetapi saya tadi sibuk bereksperimen untuk memvideokanya. Jadi lupa tidak mengambil still images :)

 

Pengin Buat Video Ramadhan

Melihat posting foto blog di The Big Picture yang berjudul Ramadhan Begins di http://www.boston.com/bigpicture/2011/08/ramadan_begins.html, saya pun jadi tertarik ingin ikut – ikutan membuatnya. Tapi saya ingin membuatnya dalam versi video. Dan inginnya sih bisa saya upload ke youtube pada pertengahan bulan Ramadhan.

Tapi kemudian saya jadi bertanya – tanya, bukankah bercerita dengan foto itu tidak sama dengan gaya bercerita dengan video. Sampai di sini saya masih sebatas keinginan saja. Saya belum punya ide/gambaran untuk membuat story board nya. Apa saja yang perlu saya tampilkan juga masih bingung untuk menentukan.

Atau begini, saya kemana – mana bawa camcorder. Kemudian saya rekam apa saja yang menurut saya saat itu menarik. Kemudian videonya akan dibuat seperti apa, itu ditentukan pada saat editing. Setelah dirasa mempunyai cukup footage. Nah, kalau kemudian sudah ada ide untuk penambahan adegan yang belum tersedia, baru hunting video. Tanpa Perencanaan seperti ini bukan ide yang baik ya? hehehe

Nah, mumpung juga Ramadhan, akan berlipat – lipat pahala apalagi Anda berkenan untuk bersedekah ide – ide atau barangkali link video di youtube yang menurut anda relevan. Terimakasih