Mas Kuniman Menikah

Telah menikah pada hari ini Minggu, 4 Maret 2012, seorang sahabat saya Mas Kuniman. Adalah saudari Sumiyati, putri pertama bapak Subarsono yang bertempat tinggal di dusun tentangga, dusun Senedi, yang akhirnya dipilih untuk dipersunting oleh Kuniman, sekaligus dipinangnya menjadi bagian dari keluarga besar bapak Madiko.

Pernikahan Mas Kuniman dan Sumiyati

Pernikahan Mas Kuniman dan Sumiyati

Saya turut berbahagia dan turut mendoakan semoga pernikahan ini benar-benar menjadi pintu gerbang menuju keluarga samara. Aamiiiin.

Semoga Mas Kuniman Menjadi Keluarga Samara

Pernikahan Mas Kuniman merupakan acara pernikahan kedua yang saya jadikan sebagai posting blog setelah pada tahun lalu saya menulis pernikahan Mas Slamet Haryanto di sini. Saya memang hanya memposting pernikahan orang-orang yang benar-benar istimewa saja. Ayo pernikahan siapa yang akan menjadi posting pernikahan ke-3 di blog ini? :)

Kang Slamet Cumik Hari Ini Menikah

Turut bersuka cita atas menikahnya sahabat kita, Kang Slamet Cumik, nama aselinya Slamet Haryanto, putra semata wayang dari Bapa Pardi, yang bertempat tinggal di dusun Senedi, Grogol, Paliyan, Gunungkidul.

Pernikahan dilangsungkan pada hari ini bertempat di rumah bahagia Bapak Sumartono, Carik Desa Grogol, pada jam sekitar jam 10:30 WIB Sungguh merupakan kehormatan dan kebahagian yang tidak terkira bagi Bapak Sumartono beserta keluarga yang anak wanitanya, Sri Untari, diperkenankan Kang Slamet untuk dipersunting sebagai istri pertama.

***
Sah? Sah!

***

Akhirnya, saya menghaturkan banyak sekali ucapan selamat dan doa, dari saya sendiri dan para sahabat, Mas Tunjung, Mas Firman, Mas Kothol, Kangmas Istono, Mas Gareng dan sangat banyak teman lain yang mana tidak bisa semuanya saya tuliskan satu demi satu di sini, Semoga menjadi Keluarga Sakinah, Mawadah, Warramah. Tak lupa Ersyad, semoga dia senantiasa damai di negeri di sisi-Nya sana, teman kita Bagong pasti bahagia yang tak terperi mendengar kabar baik ini.

Amiin.

Posted with WordPress for BlackBerry.

KTP Gratis ? Gorengan Saja Tidak Gratis

Almarhum sahabat saya, Ersad dan sahabat baik saya yang masih berumur panjang, Tunjung, pernah suatu kali menanyai seorang staf desa Grogol kecamatan Paliyan yang sedang membeli jajanan gorengan di warung. “Apakah duit yang dipakai untuk membeli gorengan itu merupakan uang urunan atau uang dari mana?” Jawab staf desa Grogol itu singkat, “Sudah ada anggarannya“. Muka staf desa perempuan itu pucat pasi dicecar dengan pertanyaan tanpa basa basi itu.

Ersad dan Tunjung, ketika menceritakan peristiwa itu pada saya, merasa penasaran  dengan perilaku suka jajan para penghuni Balai Desa Grogol. Staf itu disuruh jajan lagi setelah tidak beberapa lama berselang dari membeli jajan di tempat yang sama.

Menurut saya, Ersad dan Tunjung merupakan muka dari potret  rakyat  yang menginginkan transparansi dari pemerintah yang berkuasa di desa dimana mereka tinggal. Tetapi mereka tidak cukup mempunyai akses untuk menonton transparansi itu. Kalau memang transparansi itu ada. Ada banyak masyarakat kecil di Desa Grogol selain Ersad dan Tunjung yang penasaran ingin tahu untuk apa uang sewa tanah desa untuk tower XL, dana ADD, dan uang dari sumber keuangan lainnya, asbes dan barang-barang bongkaran SD N Karangmojo 1 dan SDN Inpres Karangmojo 3. Dan lain lain, dan lain – lain.

***

Membaca koran harian Kedaulatan Rakyat pagi hari ini  membuat saya menghela nafas panjang. Paguyupan Dukuh se Gunungkidul yang menemui Bupati Gunungkidul, Hj Badingah, S.Sos, meminta peninjauan kembali keputusan Pemda Gunungkidul yang memberlakukan penggratisan biaya KTP terhitung mulai Januari 2011. Mereka beralasan kebijakan itu akan mengurangi pendapatan aseli desa dari sumbangan suka rela pengurusan KTP.

Yang bener saja. Pendapatan Aseli Desa atau Pendapatan pribadi perangkat desa?

***

Apa …, KTP Gratis? Gorengan saja tidak GRATIS.

Grogol Paliyan, Google Makin Tahu Saja

Grogol adalah desa dimana saya tinggal. Sedangkan Paliyan adalah Kecamatan dimana desa dimana saya tinggal berada. Tanpa banyak tanya pun pasti sudah pada tahu kalau desa ini sangatlah pelosok :D

Saya pertama kali mengecek eksistensi desa dimana saya tinggal pada tanggal 6 Juli 2008 dan google tanpa malu – malu menunjukan angka 905 item yang berkaitan. Lumayan. Tidak amat teramat sangat katrok. Dulu pencarian saya itu saya posting di sini :  http://jarwadi.wordpress.com/2008/06/06/grogol-paliyan/

Dan pada hari ini, saya mengetikan kata kunci yang sama pada google dan mendapatkan sodoran :

Desa Grogol Menurut Google

Desa Grogol Menurut Google

Nah, kalau anda ingin mengecek sendiri silakan klik :

http://www.google.com/search?client=ubuntu&channel=fs&q=grogol+paliyan&ie=utf-8&oe=utf-8

Mau, spesifik dusun dimana saya tinggal :

Karangmojo b Menurut Google

Karangmojo b Menurut Google

Melayukan Rumput Rumput Jalanan

Rumput jalanan pada foto itu memang sengaja dibuat layu. Potret ini saya ambil pagi ini di jalan di dekat rumah. Merupakan potret perubahan pada masyarakat dimana saya tinggal juga. Dulu, masyarakat bekerja bakti membersihkan rerumputan di jalanan secara berkala. Meski sekarangpun masih dilakukan. Tetapi masyarakat di daerah dimana saya tinggal sudah semakin sibuk.

Rumput itu dibuat layu agar kemudian mati dengan menggunakan herbisida. Memang sih cara ini jauh lebih murah dan mudah. Meski pasti ada dampak ikutan terhadap lingkungan dan lingkungan sosial yang kelak harus ditanggung secara bergotong royong juga :D

Hujan Lebat dan Mati Listrik Adalah Takdir

Boleh dikata sebagai suatu suratan takdir. Begitulah keadaanya di desa dimana saya tinggal bila sudah tiba masanya hujan lebat yang pasti dibarengi dengan seringnya mati listrik berjam – jam. Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu. Yang mana listrik di rumah saya dan rumah tetangga padam alias meninggal dunia dari sekitar jam 3 an sore dan baru nyala lagi pada sore hari berikutnya. Tragisnya mati listrik sampai hampir 24 jam. Kalau listrik mati hanya beberapa jam sih kira semua sudah maklum. Maklum di desa dimana saya tinggal sampai saat ini masih termasuk wilayah Indonesya. Yogya belum merdeka. Dan urusan perlistrikan masih diurus oleh PLN.

Kematian panjang PLN pada beberapa hari yang lalu, sekali lagi, bukanlah yang pertama kali. Dan masyarakat pun telah melaporkannya kepada pihak yang berwajib, yaitu Perusahaan yang didirekturi oleh Pak Dahlan Iskhan. Anak buah Pak Dahlan juga sudah melakukan sesuatu. Jam 10 an malam waktu itu listrik menyala byar pet beberapa kali. Kemudian disusul suara ledakan. Kalau sudah begitu ya sudahlah. Artinya jaringan listrik di desa saya ada yang konslet karena tertimpa pohon – pohon atau dahan ranting yang patah karena terpaan angin penyerta hujan. Putusnya sekring saluran utama listrik ke kampung saya memperingatkan punggawa – punggawa nya Pak Dahlan Iskhan itu untuk melakukan penyisiran jaringan listrik seluas perkampungan pada keesokan harinya dan bila sudah selesai baru mencoba lagi “ngganthol” sekring listrik yang terpasang di sebelah barat rumah mbah Atemo Tolu.

Entah apa benar apa yang saya kata hal  ini sebagai suratan takdir. Tetapi nyatanya hal ini sudah berlangsung puluhan tahun dan terus berlangsung tanpa ditemukan solusi yang cespleng demi kemaslahatan di masa depan.

Tidak mudah juga bila mengandaikan mengganti jaringan listrik bertiang, saluran udara” dengan jaringan listrik bawah tanah. Saya kira selain secara biaya mahal juga ada banyak pertimbangan lain. Tetapi bila dari muka bumi desa dimana saya tinggal keberadaan tiang listrik dan kabel ditiadakan akan menjadikan desa tampak lebih asri dan tidak ada lagi alasan penebangan pohon – pohon oksigen karena didakwa mengganggu jaringan listrik :D

Saya tidak tahu, sudah berapa posting di blog saya ini yang nggedumel karena listrik mati. Tahu sendirikan betapa tidak nyaman malam – malam tidur dikerumuni nyamuk penghisap darah. Yah salah sendiri kenapa saya mengandalkan Hit Electrik sebagai satpam pengusir nyamuk :D

Hukum Tidak Identik Dengan Biaya Mahal

Berurusan dengan proses hukum dan aparat penegak hukum itu berbiaya mahal. Entah sejak kapan stigma seperti ini tertanam di benak  masyarakat. Terutama masyarakat di desa dimana saya tinggal.

Terlepas stigma ini beralasan atau tidak, tetapi hal ini mudah diamati dari keengganan sebagian masyarakat untuk memperjuangkan keadilan melalui jalur hukum. Mereka tidak mau ketika sudah jatuh masih tertimpa tangga. Apabila mereka sedang tersandung masalah mereka akan lebih memilih untuk mencari penyelesaian di luar jalur hukum, menyelesaikan dengan cara mereka sendiri. Dan bilapun mereka gagal atau tidak menemukan solusi atas rasa keterdzaliman yang diderita, maka mereka pun akan memilih diam.

Saya berusaha mengerti sikap sebagian masyarakat ini terjadi di tengah – tengah mereka yang belum sejahtera dalam pendidikan dan ekonomi, akses informasi yang terbatas masih menjadi barang mewah. Dan “mungkin” juga kultur masyarakat yang terbiasa menerima ketertindasan sebagai sesuatu yang “sudah biasa” dan nrimo.

Itu saja?

Tidak. Stigma ini terus mengakar karena bisa dijadikan komoditas bagi kaum dan golongan tertentu. “Daripada masalah ini dinaikan ke jalur hukum dan menghabiskan banyak uang, lebih baik datang saja ke rumah saya“, jadi jangan heran bila suatu ketika kita mendengar ada oknum yang ngomong seperti itu.

Suara – suara mirip seperti ini terdengar ketika beberapa hari yang lalu di desa dimana saya tinggal terjadi tindak kekerasan sampai pada akhirnya keluarga korban berinisiatif menyelesaikan masalah ini dengan jalur hukum. Perlu diketahui bahwa pelaku masih ada hubungan keluarga dengan tokoh masyarakat. Continue reading

Jalan Kemajuankah?

Foto ini mudah – mudah suaranya dapat terdengar. Dia mau bilang kalau simbol moderenisasi akan dipancangkan di sini di desa dimana sejak dulu marjinal daripada kata “pembangunan”.

Hamparan aspal sebentar lagi akan digelar sepanjang beberapa kilometer mengurangi luas permukaan tanah yang mana pada musim penghujan penting untuk menyerap air hujan.

Tugas permukaan tanah itu sebentar lagi akan naik pangkat menjadi full timer yang bertugas memperlancar para petani di desa untuk menjual dagangan ke pasar Playen atau Wonosari bila tidak laku dijual di Pasar desa Grogol.

Baiklah, ternyata membuat posting dari perangkat bergerak itu belum mudah. Mudah – mudahan, lebaran depan warga yang ada di tanah kembara tidak lagi kena jeblok kubangan jalanan bila hujan tiba.

Salam dari kampung halaman.

Bapak Hadi Suwarno berpulang ke rahmatullah

Lagi – lagi masih melanjutkan cerita tentang senang dan susah. Bersama kesenangan bisa jadi tiba – tiba muncul kesusahan.

Menurut perhitungan hari Jawa. Jum’at kemarin disebut Jemuah Legi. Kebetulan Hari Jemuah Legi kemarin, di desa dimana saya tinggal sedang dilangsungkan acara Bersih Dusun, atau disebut Juga dengan Rasulan, atau disebut juga dengan Merti Bumi. Inti dari Acara Upacara ini merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat agraris atas limpahan rahmat Tuhan sehingga warga petani dapat menuai panen untuk dilumbungkan sebagai songsongan musim kemarau yang mana pada saat ini sudah mulai menyapa.

Semua orang bersuka cita.

Orang bijak mungkin sering mengatakan agar kita tidak berlebihan bila sedang mendapat nikmat dan jangan terlalu mendalam berduka bila sedang diujikan musibah. Seolah kata – kata itu menemukan pembuktiannya sendiri.

Pagi hari kemarin, Jum’at 2 Juli 2010. Bapak Hadi Suwarno. Mantan Kepala Desa Grogol yang menjabat pada masa kecil saya ditimbali Gusti Allah untuk berpulang menghadap setelah menunaikan darma baktinya di bumi Desa Grogol. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Menurut saya sendiri beliau merupakan tokoh klasik sekaligus karismatis di desa ini. Apa yang saya ingat adalah pagelaran wayang kulit yang senantiasa dilangsungkan di Joglo kediaman beliau, spel klenengan yang mana simbok saya juga rajin berlatih bersama sampai pohon Asem yang sering saya balangi sepulang dari bersekolah di SD Karangmojo itu.

Sudahlah. Akan terlalu panjang bila saya tuliskan disini. Semoga amal perbuatan beliau diperhitungkan sebagai amal shaleh dan ampulan dilimpahkan oleh Allah terhadap khilaf manusia.

Di Data Petugas Sensus Penduduk 2010

Sabtu kemarin seorang teman saya datang. Dia adalah Wakiyat alias Winarno. Saya kira dia datang untuk nanya – nanya tentang ayam atau mengajak menyabung ayam seperti biasanya. Rupanya saya salah. Tumben. Dia datang sebagai petugas Sensus Penduduk 2010. Setahu saya Sensus Penduduk baru di mulai awal bulan depan. Semoga Sensus pada tahun ini dapat mencacah dengan lebih akurat sehingga data bisa lebih baik dipergunakan untuk parameter pertimbangan pembangunan Indonesia yang lebih baik.

Dari Posterous Photos

Stiker yang ditempel merupakan tanda bahwa suatu bangunan telah di sensus. Termasuk gubug dimana dari situ saya online dan menulis posting ini.