MUI: Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Pada posting kali ini saya hanya menuliskan kembali serial tweet oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) tertanggal 24 Desember 2011. Agar mudah dibaca, untuk urutan tweet ini saya tuliskan kembali dengan urutan mulai dari twit yang terdahulu.

Saya menuliskan kembali serial tweet dari Majelis Ulama Indonesia ini dengan maksud agar isi dari tweet tersebut mudah ditemukan kembali di kemudian hari karena seperti yang kita tahu keberadaan suatu tweets tidak akan mudah lagi ditemukan ketika sudah berusia beberapa waktu. Saya tidak tahu persis seberapa lama twitter menjaga suatu konten agar mudah ditemukan pembaca di internet.

Dan posting ini tanpa saya maksudkan sebagai pembelaan diri karena selama ini saya sering mendapatkan kritik baik secara langsung maupun no mention ketika saya sendiri memilih untuk memberikan/menyampaikan/mengatakan Selamat Natal. Urusan dosa dan tidak dosa saya yakini sebagai otoritas Tuhan sebagai satu-satunya Yang Maha Menentukan.

Dan bila ada yang tidak setuju atau kurang setuju dengan pendapat MUI, silakan langsung menyampaikan kepada Majelis Ulama Indonesia melalui account twitter @tweet_MUI atau channel komunikasi yang lain. Saya tidak cukup punya kapasitas untuk membahas dan memperdebatkan topik-topik diluar bidang keilmuan yang saya tekuni sehari-hari. :)

 

 

 

 

 

Masing-masing tweet di atas saya berikan link langsung agar mudah diverifikasi.

34 thoughts on “MUI: Hukum Mengucapkan Selamat Natal

  1. saya kemaren cuma bilang seperti ini, “agamamu, agamamu.. agamaku, agamaku.. untuk yang sedang bersuka cita saat ini, selamat berbahagia :) “.. hehe, habisnya masih banyak pro dan kontra sih mas.. makanya saya mengusahakan menggunakan bahasa yang halus..

  2. Slama ini memang masih pro kontra.Kalau sudah ada Fatwa MUI resmi gini bisa mengurangi debatable.Yang walaupun masih banyak kalangan yang tetap enggan mengucapkannya tapi diganti dengan kata2 lain.

  3. Bahasannya menarik nih.. :D

    Kalo saya bilang gini ‘selamat berbahagia merayakan natal/ hari raya’ hehehe.. Menurut opini saya itu berbeda dengan mengucapkan ‘selamat natal’ secara langsung, karena lebih mengena di toleransinya. Namun, tetap ‘mendapatkan’ hati ditelinga ‘yang diselamati’..

  4. Toleransi…

    Bukankah toleransi itu adalah menghargai perbedaan pendapat atau keyakinan yang berbeda?

    Jadi buat siapa saja yang mengaku menjunjung tinggi toleransi maka sepatutnya menghargai perbedaan pendapat, baik yang memboleh atau mengharamkan pengucapan natal. Ya kan? Sepakat kan?

    So, nggak usah susah2 dan pusing2 aja kalau saya sih hehehe

  5. Mau ada fatwa MUI atau tidak, sejak kecil saya sudah terbiasa dengan kehidupan harmonisasi beragama yang kental. Umumnya kami di NTT seperti itu. Hubungan kawin-mawin, hubungan antar sesama manusia, tidak bisa menjadikan kami tutup mata pada hari raya umat beragama yang lain. Yang paling benar hanya Tuhan semata :D wkwkwkwkw… seperti kata om Gusti Brewon (@gustibrewon) bahwa keimanan kaum Muslim di NTT tidak akan luntur hanya karena mengucapkan Natal kepada saudaranya sendiri. Ya, mamatua saya itu saudara/i seperutnya merayakan Natal semua dan saya senang berada dalam suasana ‘kaya’ seperti ini… :D

  6. Ini perkara yang sangat sepele dan sebenarnya nggak perlu pakai hukum segala. Apalah artinya sebuah ucapan selamat. Para ulama yang duduk di MUI semestinya lebih mendalami ilmu hakikat ketimbang mengurus hal-hal kulit begini :)

  7. menurut saya boleh saja, apa salahnya, toh cuma ucapan, tidak berarti hati kita ikut meyakini kan? itulah sebabnya, masalah sepele seperti ini menjadikan diri saya males memikirkannya.

  8. Kadang ada orang yang berkata “hal ini sepele”..saya suka miris kalo ada orang yg menyepelekan agama..jgn toleransi dijadikan alasan apabila itu bertentangan dengan ajaran Islam..dalam islam itu jelas Halal ya Halal,Haram ya Haram tidak bisa dirubah dgn alasan kemanusiaan..lebih baik dibenci oleh semua manusia daripada dibenci Allah SWT..salah satu rujukan mengenai masalah ini silahkan buka http://m.voa-islam.com//news/aqidah/2011/12/25/12415/hukum-mengucapkan-dan-menjawab-selamat-natal/ ..

    • Saya setuju dengan pendapat Pak isal..
      Jangan ragu2 untuk menjalankan syariat agama. Dan jangan setengah2 kalau tidak ya jangan. Mengucapkan selamat ke non Muslim berarti ikut merayakan. Padahal ikut merayakan berarti termasuk mengakui keberadaan Tuhannya. Toleransi bisa diwujudkan dengan banyak tindakan lainnya yg tdk bertentangan dng syariat. Mohon maaf sebelumnya bagi yg non Muslim, tapi jika hal tsb dilarang ya kami hrs taat.
      Semoga hal ini tdk melunturkan toleransi dan kasih sayang antar umat beragama.

    • maka berhentilah menggunakan kaos, karena kaos dikembangkan pertama kali bukan oleh seorang Muslim…

      maka berhentilah menggunakan handphone, karena handphone dikembangkan pertama kali oleh kaum Kristiani…

      maka buanglah pakaian batikmu, karena tiap corak batik mengandung arti-arti mistis kaum Jawa…

  9. mengucapkan natal dijadikan indikasi teoleransi atau tidak toleransi, ini gak logis. yang tidak toleransi adalah kita tidak membolehkan mereke biribadah atau bernatal. tapi bila agama melarang kita mengucapkan natal, ini bukan tidak toleransi.yuksangat erat denagn keyakinan berpikirva logis lah.
    saya suka dengan komntar “agamu…agamamu..agamaku ya agamaku”. Natal itukan artinya lahir yang dikaitkan dengan yesus (Isa) sebagai Tuhan dan anak Tuhan. dan itu sanagt kuat kaitannya dengan Nasrani. mereke pasti dengan cara halus membiuskan itu kepda kita karena kita mayoritas, tp bila kita minoritas, mungkin caranya tidak dengan alasan tolerans begini.

    Ada yang bilang apalah arti selamat Natal, itukan cuma kata-kata saja. okey…sama juga kan asyhadu allah ilahaillahahu dst, ini kan juga kata-kata, apa mereke juga mau mengucapknnya….wallahu a’lam

  10. http://www.voa-islam.com/islamia/aqidah/2011/12/25/12415/hukum-mengucapkan-dan-menjawab-selamat-natal/

    HUKUM MENGUCAPKAN NATAL :

    Tidak mungkin seorang muslim yang mentauhidkan Allah akan ikut serta, mendukung, mengucapkan selamat atasnya, dan bergembira dengan perayaan-perayaan hari raya Natal yang jelas-jelas menghina Allah dengan terang-terangan.
    Sesungguhnya umat Kristiani telah berlaku lancang kepada Allah dengan menuduh-Nya telah mengangkat seorang hamba dan utusan-Nya sebagai anak-Nya yang mewarisi sifat-sifat-Nya. Karena ucapan mereka ini, hamper-hampir langit dan bumi pecah karenanya firman Allah dlm surat yunus :

    قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ هُوَ الْغَنِيُّ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَذَا أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

    “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Yunus: 68)

    maka haram hukumnya mengucapkan “selamat natal”
    SIANG MALAM PAGI SORE MAREKA DALAM CELAKA BAGAIMANA KITA HENDAK MENGATAKAN SELAMAT..!

  11. Sma halnya ketika temn facebooker mnta untk ngejempol (suka) sttusnya, kan hanya di like aj n g ush dikomen semcamnya…!!
    Ucpin selmtan aj ko’ it dah cukp yg pnting g ikut ngeraya’in…!!

  12. Kl sy mengucapkan kata selamat tdklh mnjd suatu persoalan…Kata selamat adlh suatu kebajikan, dn kt hrs berbuat kewajiban pada setiap Makhluq…itulah knp Islam disebut sebagai Agama Rahmatan Lil-Alamin.

  13. rasulullah bersabda sebagai tanda kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan yang ia ragu. lebih aman saya TIDAK MENGUCAPKAN SELAMAT, Walaupun saudara saya ada yang kristen. kalau ternyata mengucap selamat natal di perbolehkan kita juga g dapat pahala, tapi kalau ternyata dilarang??? ya silahkan rasakan sendiri siksa-NYA……

  14. seorang muslim harus yakin bahwa hanya ISLAM agama yg benar dan d ridhoi d sisi Allah.Dengan kita mengucapkan selamat hari raya natal…waisak ..nyepi dll…kita sama saja dengan membenarkan ajaran (perayaan) agama tersebut…itu sama saja dengan MURTAD.ingat…TAUHID TIDAK HANYA DI DALAM HATI TAPI JUGA DALAM PERKATAAN…walaupun hanya dengan mengucapkan !!! itu pilihan bagi anda…apakah lebih memilih mengucapakan selamat karena malu,gengsi atau tak enak dgn teman lain agama…atau memilih diam demi menjaga tauhid

  15. Apasih Arti Selamat Natal ???

    Contoh:
    Kalo selamatin berarti percaya natal itu ada sama seperti “selamat ulangtahun” yang di ucapkan karna orang tersebut benar berulang tahun

    Berarti :
    Selamat Natal berarti percaya kalo natal itu bener ada

    sedangkan natal itu Di percaya umat Nasrani sebagai hari kelahiran al Masih atau Jesus yang diklaim sebagai tuhan atau anak Tuhan

    Sedangkan di alquran di sebutkan وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

    “Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.” (QS. al-Jin: 3)

    ayat di atas salah satu dari sekian ayat yg menjelaskan Allah tidak punya anak

    Kalo kita selamatin hari natal berarti kita merayakan lahirnya tuhan meraka
    dan kita sendiri mengingkari aqidah kita yang sudah di tulis dalam alquran
    (kitab umat islam)
    Bukan berdasarkan Dalil Toleransi Atau Simpati Tapi hati2 dengan ucapan dan arti dari ucapan tersebut

  16. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullaah ditanya tentang hukum mengucapkan selamat natal kepada orang kafir.
    Beliau rahimahullaah menjawab dengan tegas, “Mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir dengan ucapan selamat natal atau ucapan-ucapan lainnya yang berkaitan dengan perayaan agama mereka hukumnya haram sesuai kesepakatan ulama. Sebagaimana kutipan dari Ibnul Qayyim rahimahullaah dalam bukunya Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, beliau menyebutkan:

    “Mengucapkan selamat kepada syiar agama orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan. Seperti mengucapkan selamat atas hari raya dan puasa mereka dengan mengatakan ‘Ied Muharak ‘Alaik (hari raya penuh berkah atas kalian) atau selamat bergembira dengan hari raya ini dan semisalnya. Jika orang yang berkata tadi menerima kekufuran maka hal itu termasuk keharaman, statusnya seperti mengucapkan selamat bersujud kepada salib. Bahkan, di sisi Allah dosanya lebih besar dan lebih dimurkai daripada mengucapkan selamat meminum arak, selamat membunuh, berzina, dan semisalnya. Banyak orang yang tidak paham Islam terjerumus kedalamnya semantara dia tidak tahu keburukan yang telah dilakukannya. Siapa yang mengucapkan selamat kepada seseorang karena maksiatnya, kebid’ahannya, dan kekufurannya berarti dia menantang kemurkaan Allah.”Demikian ungkapan beliau rahimahullaah.

    Haramnya mengucapkan selamat kepada kaum kuffar atas hari raya agama mereka, sebagaimana dipaparkan oleh Ibnul Qayyim, karena di dalamnya terdapat pengakuan atas syi’ar-syi’ar kekufuran dan ridla terhadapnya walaupun dia sendiri tidak ridha kekufuran itu bagi dirinya. Kendati demikian, bagi seorang muslim diharamkan ridha terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat dengan syi’ar tersebut kepada orang lain, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak ridha terhadap semua itu, sebagaimana firman-Nya,

    إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

    “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Al-Zumar: 7)

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3) dan mengucapkan selamat kepada mereka dengan semua itu adalah haram, baik ikut serta di dalamnya ataupun tidak.”

    Mengucapkan selamat kepada syiar agama orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan.

    Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka kepada kita, hendaknya kita tidak menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita dan Allah Ta’ala tidak meridhai hari raya tersebut, baik itu merupakan bid’ah atau memang ditetapkan dalam agama mereka. Namun sesungguhnya itu telah dihapus dengan datangnya agama Islam yang dengannya Allah telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh makhluk. Allah telah berfirman tentang agama Islam,

    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    “Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85).

    Seorang muslim haram memenuhi undangan mereka dalam perayaan ini, karena ini lebih besar dari mengucapkan selamat kepada mereka, karena dalam hal itu berarti ikut serta dalam perayaan mereka. Juga diharamkan bagi kaum muslimin untuk menyamai kaum kuffar dengan mengadakan pesta-pesta dalam momentum tersebut atau saling bertukar hadiah, membagikan permen, parsel, meliburkan kerja dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

    “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Ibnu Hibban)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah dalam bukunya Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim Mukhalafah Ashab al-Jahim menyebutkan, “Menyerupai mereka dalam sebagian hari raya milik mereka menumbuhkan rasa senang pada hati mereka (kaum muslimin) terhadap keyakinan batil mereka. Dan bisa jadi memberi makan pada mereka dalam kesempatan itu dan menaklukan kaum lemah.” Demikian ucapan beliau rahimahullah.

    Dan barangsiapa melakukan di antara hal-hal tadi, maka ia berdosa, baik ia melakukannya sekedar basa-basi atau karena mencintai, karena malu atau sebab lainnya. Karena perbuatan tersebut termasuk bentuk mudahanan (penyepelan) terhadap agama Allah dan bisa menyebabkan teguhnya jiwa kaum kuffar dan membanggakan agama mereka. (Al-Majmu’ Ats-Tsamin, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 3 diunduh dari situs islamway.com) [PurWD/voa-islam.com]

  17. Untuk yang Muslim/at~ renungan

    Lebih penting mana akhirat atau dunia? Tentunya kita pilih akhirat, karena di sanalah kehidupan yang kekal… Jadi untuk masalah akidah hendaknya jangan main-main… apalagi menyepelekan hal yang kita tidak punya ilmunya… kalau sudah ditetapkan HARAM ya sudah tinggalkan… disitulah ‘UJIANNYA’ kita dibikin nggak enak sama teman… gak enak sama Boss, gak enak sama relasi bisnis dst..

    Dan hendaklah Muslim/at mengambil rujukan senantiasa dari ALQURAN dan ALHADITS shahih… jangan yang lain sehingga jadi membingungkan. Misalnya melihat sesuatu dg bungkus TOLERANSI, HAM… KELOMPOK JIL yang bisa membuat kecele… karena rujukan mereka bukan ALQURAN dan HADITS.

    Hendaklah juga kalau tidak tahu kita bertanya ke ahlinya (ulama yang baik, jangan ulama jahat), dan jangan pula kita merasa paling benar dengan mengatakan pendapat kita paling baik tanpa memahami ALQURAN dan HADITS.

    Ini berlaku bukan hanya untuk masalah UCAPAN SELAMAT NATAL… juga hal-hal lainnya yang marak.. seperti perkawinan antar agama, perkawinan sejenis,

    HARAM ya haram, HALAL ya halal,…. kalau ragu..TINGGALKANLAH. Semoga kita selamat dunia akhirat.

    Wallahu alam bishowab.

  18. Kita hidup didunia, khususnya di Negara Indonesia ini tidak hanya sendiri atau bersama kaum, ras, bahkan Se agama dengan kita.
    INGAT!!!!!!! Harmonisasi dalam beragama itulah yang dibutuhkan didalam NEGARA INDONESIA INI, Dimana Negara ini bukan NEGARA AGAMA tetapi NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Yang artinya, negara ini mengakui Agama lain selain AGAMA ISLAM.
    Dan tentunya ketika negara mengakui hal itu, berarti semua warga negara tak terkecuali, wajib menjaga Kerukunan hidup beragama, Toleransi dan Harmonisasi beragama.
    Maka, mohon… dipahami apa arti Lambang Negara Republik Indonesia “BHINEKA TUNGGAL IKA”.

    Kemudian untuk tidak mengucapkan “Selamat….” kepada sudara-saudara non muslim, sy rasa itu tidak terlalu menjadi masalah yang besar. Karena itu kembali lagi kepada pribadi masing2… Jika memang kita tulus utk menyampaikan rasa empati dan simpati kita atas dasar menghargai kepercayaan orang lain, ya.. lakukanlah. Akan tetapi, jika kita tidak ingin mengucapkan “Selamat…” karna satu dan lain hal, ya tidak apa-apa juga…

    Semuanya tergantung pribadi kita masing-masing…
    Berbicara Dosa… Tuhan-Lah Maha Menentukan Dan Maha Segalanya…

    Trimakasih.

  19. Wah banyak juga muslim intenet yang ngajinya website ya..? rujukan kok website. dan cuma satu website pula. Katanya Muslim?. Bukannya kalian yg merujuk ke website seharusnya membuka Qur’an dan Hadits?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s