Book Review : 9 Summers 10 Autums – Iwan Setyawan

“Menulis kembali kenangan masa lalu butuh keberanian. Banyak lembar ingatan yang tak berani aku sentuh, karena melankoli yang muncul bisa meledak dan tak ada kekuatan diriku untuk meredamnya.”

Membaca 9 Summers 10 Autums -nya Cak Iwan ini membuat saya tidak bisa untuk tidak ikut – ikutan memutar kaset berisi rekaman amal dan dosa yang diperbuat simbok.

“Besok kalau kamu tidak diterima masuk sekolah di SMP N 1 Playen, kowe sekolah neng cedak mesjid, SMP Muhammadiyah Grogol, sekolahnya berdinding anyaman bambu, berlantai tanah, atapnya bocor – bocor kalau hujan. Uang jajan buatmu sekali seminggu bila ada pelajaran olah raga”

Bagi simbok saya, kalau sekolah ya sekolah negeri. Sekolah swasta tidak berkompromi dengan kemiskinan. Saya kesal dan marah-marah denger simbok ngomong begitu. Bagi saya seorang yang terkenal paling bandel sekampung dan langganan menduduki kehormatan  peringkat juru kunci di SD Karangmojo II, untuk masuk SMP Playen saya percayai sebagai peristiwa yang mustahil. Artinya saat itu saya sedang mendekati sebuah takdir untuk melanjutkan sekolah swasta di SMP Muhammadiyah Grogol.

“Nek kowe diterima neng SMP Playen, kowe ku belikan sepatu baru, kamu ke sekolah naik angkot Kobutri, uang jajan tiap hari, kecuali simbok sedang bokek” lanjut simbok.

Omongan simbok saya yakini tidak pernah main – main. Omongan simbok lebih menakutkan dari hantu pocong ataupun gendruwo.

Meski tidak yakin akan kemampuan diri, belajar menjadi satu satunya pilihan melawan kekejaman hati simbok. Untungnya, memasuki kelas enam, Gusti Alloh mengirimkan seorang guru baru bernama Suwarjono untuk kelas enam saya. Berbeda dengan semua guru SD Karangmojo II, Pak guru Suwarjono tidak menempel nama saya pada kacamatanya sebagai biang kerok kebandelan dan juru kunci abadi tiap kelas. Ya memang sih, pak guru Suwarjono saat itu belum berkacamata. :D

Cerita saya ini tidak bermaksud membandingkan diri dengan sukses Iwan Setyawan. Tentu diri ini tidak level diperbandingkan dengan Cak Iwan.

Barangkali apa yang ditulis oleh Mbak Nike Rasyid di sini http://nike.rasyid.net/2011/03/review-buku-9-summers-10-autumns.html benar. 9 Summers 10 Autumns terasa datar dan alur tiap bab mudah ditebak. Saya sepakat. Memang. kita tidak akan menemukan konflik keluarga ala bawang merah bawang putih, nilai raport yang ditukar, perkelahian, atau remaja yang frustasi karena putus cinta. Kita tidak akan menemukan Iwan berkhotbah tentang paradok dan dikotomi. Novel ini menurut saya menjadi kuat dan bernilai karena kejujuran dan kemampuan penulis membahasakan sebuah perjuangan keluarga melawan takdir berwujud kemiskinan secara sederhana.

Saya pikir kejujuran dan kesederhanaan adalah ciri khas dari novel yang ditulis oleh seorang Statistikan. –mudah-mudahan saya tidak salah istilah menyebut ahli statistika lulusan terbaik IPB yang bekerja dibagian Data Processing di Nielson International. Saya lahir di rural – pedesaan kira-kira 6 tahun setelah Cak Iwan. Jadi dengan sok tahu akan mudah bagi saya untuk bisa mengalami apa yang dituliskan dalam 9 Summers 10 Autumn. Cak Iwan tidak mendramatisasi kisah hidupnya.

Seandainya bisa berandai, saya akan mengandaikan membaca inspirasi dalam buku ini pada kelas VI SD, atau paling lambat pada kelas satu SMP. Siapa tahu, kejujuran yang dibawa Cak Iwan bisa mencegah saya menjadi security cracker ulangan di sekolah SMP. Sedikit nyombong, saya adalah mantan tukang nyontek paling juara di kelas B SMP N 1 Playen.

“A Sweet dream” is a dream with powerful effort to make it real. A dream that deliver to another dream. A bigger one. With bigger effort. –Iwan Setyawan’s Facebook status.

Mempunyai kamar sendiri was Cak Iwan’s first dream yang sangat digadang-gadang bersamaan dengan mimpi dia yang lain untuk bisa pada suatu saat menyenang-nyenangkan ibunya (orang tua). Apa yang pada saat itu bisa ia lakukan hanya belajar dan lebih giat belajar. Otak pintar adalah yang dia punya didalam tubuhnya yang kecil. Cak Iwan bersusah payah mendaki gunung Panderman hanya untuk tahu bahwa ada gunung Arjuno dan gunung Semeru yang lebih tinggi. Iwan mendaki ke puncak untuk melihat dan mendaki puncak berikutnya yang lebih tinggi. Sampai akhirnya ia bisa memetik The Big Apple di New York city.

Buku ini bukan untuk anda. Bukan pula untuk ibu saya. Bisa-bisa simbok ke ge er an kalau sampai membaca buku ini. Buku ini tidak akan saya taruh di meja ruang tamu biar tidak anda ambil atau dibuka buka oleh simbok. Kalau anda tertarik silakan mengambilnya di Gramedia terdekat. :D Saran saya, kalau mau baca buku ini, bacalah ketika anda tidak sedang tergesa-gesa. Buku ini terasa magis saya baca pada tengah malam dan dini hari. Sore-sore yang gerimis di rumah yang damai saya pakai untuk menyelesaikan buku ini. Yakin! Saya akan membaca lagi 9 Summers 10 Autums.

Posted with WordPress for BlackBerry.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s